Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://nuraulia.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Jurnalis
Tulisan Aris Lainnya
Martabak Kentang
18 Juli 2010 pukul 20:00 WIB
Sederhana, Bersyukur
9 Juli 2010 pukul 16:00 WIB
Ketika Perempuan-perempuan Menulis
8 Juli 2010 pukul 20:55 WIB
Kejujuran itu Mahal
30 Juni 2010 pukul 16:09 WIB
Belajar dari Ilmu Padi, Luar Biasa!
18 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 22 Juli 2010 pukul 16:00 WIB

Istimewanya Kemandirian Wong Ndeso

Penulis : Aris Solikhah

Diiringi senandung Sebelum Cahaya Letto, aku mencoba melemaskan kembali syaraf tulisku. Kutarik waktu seminggu silam. Saat aku sebentar bertegur dengan sanak di kampung. Hawa panas beredar mengelilingi kami. Hujan tak jua turun. Hawa itu pun menembus kulitku yang sudah terbalut dua kain. Merasuk dalam ubun-ubun di kepala. Oh, gerah.

Hanya setahun sekali kusapa kampung ini. Perubahan menggilas kampung ini rakus. Gaya, persepsi positif, nalar, timbang rasa, moral, dan iman kian tercampak. Debu kemiskinan mengepul bersatu debu kemarau, berkelidan debu amoral.

Judi menjadi satu gantungan asa untuk meraup untung instan. Pencuri profesi dibenci dimaklumi. Miras pelepas dahaga penat dunia. Klenik tumpuan solusi masalah hidup. Pacaran tumpuan ”mihrab suci” pra nikah. Selingkuh mengintip-intip malu terkuak. Ditambah timbunan pemuda bujang lajang nganggur. Gengsi melakukan pekerjaan ”wong ndeso”. Mencangkul, menggembala, bertani, beternak. Pekerjaan produksi riil yang menghidupkan raga dan sukma. Pekerjaan wong ndeso itulah sejatinya sendi kehidupan. Pensuplay energi (baca karbohidrat, nutrisi) bagi manusia, yakni para guru, wartawan, politisi, saudagar, negarawan, public relation, pemilik hotel, dan sebagainya.

Tak sehancur itu kampungku ini sebenarnya, yang kubenci adalah karena semua itu seolah terlazimkan keadaan. Apakah di kampung-kampung lain, desa-desa lain juga mengalami demikian? Aku meruntuk. Yang membuatku lebih teriris karena aku putri daerah ini yang tahu seharusnya ke mana perubahan ini dibawa, kini hanya berstatus pendatang. Tak kuasa apa. Ngilu. Ada pun kembali dan menetap di kampung ini sama sekali tak pernah terimpikan olehku. Maaf. Di kampung ini pula, di era kebebasan masa kanak-kanakku, sanak tetangga sering mencerca hinaku. Maka biarlah aku mengembara, sesekali izinkanlah singgah menengok tempat pusara orang tercinta berada, bunda terkasih.

Karena impianku, semoga Allah menjadikan aku bukti kekuasaan-Nya bahwa kejujuran dan kebenaran akan menang di atas semua dusta serta angkara. Aku tak peduli mereka meragukan kemampuan ”wong ndeso” dan menyindirku sebagai orang Jakarta. Aku nyengir saja disindir demikian. Aku bangga sebagai wong ndeso. Samsul Arifin dalam training Umat Terbaik Hidup Berkah memuji wong ndeso sebagai orang yang amanah, bisa dipercaya. Akankah pujian itu masih layak dipatrikan masyarakat desa?

Sebab lain, tetap kurasa darah kebebasan seorang gembala ketika sembilan ekor kambing Jawa keluarga kuikat di padang rumput kering. ”Coba orang Jakarta bisa tidak mengikat kambing,” ledek seorang teman pria kecilku. Aku diam dan asyik berkuta dengan pekerjaan gembala. Kenapa malu, bukankah penggembala adalah pekerjaan para nabi. Nabi Musa, Ibrahim, Ishak, Isa, Muhammad, dan semua nabi adalah penggembala. Melalui pekerjaan penggembala, anak-anak disiapkan untuk tanggungjawab, peka, kebebasan, ketundukan, dan kecintaan alam semesta.

Kuenyahkan enggan pekerjaan klimis di kantor rektorat sebuah perguruan tinggi. Aku sedang memadu rindu segarnya jadi ’wong ndeso’. Betapa kemandirian wong ndeso itu lebih indah dibanding orang kota yang serba memuja kekuatan uang. Di desa, kita bisa mendapatkan segalanya dengan usaha dan dari tangan sendiri. Murni. Sedang di kota, semua sedia asal kita punya uang.

Tetap kurasakan lembut tiga puluh lebih bulu-bulu anak-anak ayam kampung di samping rumahku. Keriangan anak-anak ayam menelusup berpayung di balik telapak tanganku. Tak terpikir anak ayam itu, salah satu induk mereka telah menjadi santap makan lusa keluarga kami.

Tetap kurasakan kesejukan anugerah Allah berupa delapan pohon mangga berbuah ranum di kebun. Buah petai bergelantungan. Kelapa muda bergerombol mengundang selera. Buah pisang bergelayut tandan. Buah jambu merah yang tak habis kupetik. Singkong menanti dicabut. Ditambah buah rambutan malu-malu menyembulkan bunga calon buah dan pohon nangka menyembulkan nangka muda.

Di sela-sela hembusan semilir angin mesra, aku tertegun. Aku bersyukur atas karunia kebun, sawah, ternak yang keluarga kami punya. Karunia sebagai pengisi masa pensiunan Bapak dan klangenan keluarga. Tapi tak semua orang memilikinya. Jika ada yang memilikinya, mereka menjadikannya pendapatan utama, yang mudah tersapu deru pasar bebas dunia. Pasar bebas pula mengikis karya pertanian produksi lokal. Memaksa para pemudanya berurban, memilih bekerja di sektor jasa (pendidikan, kesehatan, pariwisata, pemerintahan) yang lebih mapan. Dan aku salah satunya yang tak bisa mengelak.

Ya Allah, akankah orang kampung dan desaku tahan akan serbuan pasar bebas itu? Akankah para penggangguran itu memiliki masa depan, bisa bertahan hidup. Pada siapa asa mereka dilayangkan sehingga terpecahkan? Pada siapa para jompo bergantung jika putra mereka menghabiskan waktu-waktunya dalam dekapan canda tawa hampa dan berangan-angan menjadi orang kaya?

Mental-mental ’wong ndeso” yang mandiri, pekerja keras, ulet tersulap arus mimpi materi (baca : Kapitalisme). Sukses, bahagia diukur apa pekerjaan dan berapa gaji yang diterima? Derajat seseorang sesuai uang yang dipunyai? Aih... Makin berat mimpi kebangkitan peradaban di negeri ini.

Jika materi telah menjadi ruh kehidupan bermasyarakat, maka berapa pun harta yang dipunya, tak membahagiakan jiwa dan mampu membangkitkan sebuah bangsa. Manusia hanya akan bergerak di mana harta berada. Manusia seperti robot yang digerakkan uang atau materi. Sejatinya pula, asal muasal kebangkitan dari pemikiran produktif yang mengubah laku dan menginpirasi setiap aksi manusia. Dari situlah munculnya mental serta jiwa kemandirian. Berkuasa atas asanya sendiri, bukan dikte bangsa lain.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1137 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels