HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://ila.kotasantri.com
Bergabung
16 Maret 2009 pukul 18:56 WIB
Domisili
Semarang - Jawa Tengah
Pekerjaan
traveller
http://ilarizky.blogspot.com
http://facebook.com/ila.rizky
Tulisan Ila Lainnya
Takdir yang Lain
18 Maret 2010 pukul 15:00 WIB
You have been Mature
4 Maret 2010 pukul 16:00 WIB
Dilarang Merokok di Tempat Umum!
23 Februari 2010 pukul 15:30 WIB
Telaga yang Kutemukan di Bening Matamu
4 Februari 2010 pukul 18:12 WIB
Jiwaku Terjaga di Ujung Pagi
11 Januari 2010 pukul 18:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 12 Juli 2010 pukul 16:45 WIB

Arabisme Tak Tunjukkan Keislaman

Penulis : Ila Rizky Nidiana

“Kakak menggunakan kata saya, agar lebih sopan, Dek. Lagipula Arabisme tak selamanya tunjukkan keislaman seseorang. Yuk, budayakan gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

Itulah bunyi SMS dari seorang kawan yang melayang ke HP saya, dulu sekali. Dulu, sering terlintas dalam pikiran saya, mengapa ia sering sekali menggunakan kata ‘saya’, setiap kali berbahasa dengan orang?

Saya pikir, apa ia orang yang ‘saklek’, maka dari itu, sebisa mungkin, bahasa yang ia gunakan adalah bahasa Indonesia?

Atau, mengapa ia tak pernah sekalipun menggunakan istilah “ukhti, anti, dan sebagainya“ sebagai kata ganti orang pertama untuk perempuan, atau “akhi, antum, dan sebagainya” untuk kata ganti orang pertama bagi kaum Adam.

Bersamaan dengan SMS tersebut saya terima, maka akhirnya, pertanyaan itu terjawab sudah. Alhamdulillah…

Tentu, sama halnya dengan kak Eka -yang mengirim SMS tersebut-, saya sedari dulu pun merasakan hal yang sama. Tumbuh dalam lingkungan bukan ‘rohis’ -karena memang tidak ditempatkan dalam rohis saat awal tarbiyah-, tapi justru ditempatkan dalam BEM Fakultas, ranah yang menurut anak-anak Rohis itu justru sangat berbahaya dan sarat jebakan nafsu lawan jenis.

Maka, ‘bahasa langit’ pun jarang terlontar dalam percakapan sehari-hari saya dengan para ikhwah. Bukan karena tak menghormati bahasa tersebut, tapi karena bagi saya, kata “akhi, ukhti, antum, anti, afwan, syukran, jazakillah, dan sebagainya” tersebut, mempunyai citarasa tersendiri.

Seperti kata yang diucapkan oleh Nabi Yusuf saat memanggil Ayahandanya, “Yaa Abatii“ untuk menggantikan kata “Wahai Ayahandaku” dalam terjemah surat Yusuf ayat 4.

Dalam buku Meneladani Adversity Quotient Nabi Yusuf (Amru Khalid, penerbit Maghfirah), kata “Yaa Abatii…” menunjukkan bahwa kata itu punya citarasa tersendiri, semacam ‘panggilan sayang’, dengan aksen kata ‘i’ yang panjang. Sama halnya ketika kita memanggil Ayah dan Bunda kita dengan panggilan ‘Abii dan Ummii’ itu memberi kesan berbeda dibanding dengan menggunakan kata Ayah Bunda. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di buku tadi.

Maka, boleh dong, saya jarang menggunakan kata-kata 'bahasa langit' itu? Karena, menurut saya, dalam penggunaannya pun, bahasa Arab mempunyai tata bahasa alias grammar tersendiri, jika kata “ibuku” bisa disebut “ummi”, maka “ibunya” berbeda lagi dalam bahasa Arab. Jadi, menurut saya lebih baik jika tidak terlalu mengetahui arti dan grammar-nya yang pasti, lebih baik tidak asal menggunakan.

Lalu, satu hal lagi yang sering salah kaprah digunakan dalam keseharian, misalnya yang waktu dibahas dalam acara Debat TvOne tentang Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban, yaitu penggunaan simbol-simbol agama, yang pasti merupakan salah satu tindakan yang perlu diwaspadai. Karena, bukan tak mungkin, jika penggunaannya tidak pada tempatnya, maka ini malah akan memperburuk citra Islam di masyarakat.

Bukan tak mungkin, satu dua orang paham dengan kontroversi yang terjadi, tapi di sisi lain juga banyak pula yang tak tahu bahwa semata-mata citra Islam hanya dijadikan simbol semata, dipelintir-pelintir sesuai kehendaknya. Astaghfirullah...

Jadi, saya tetap pada pendirian saya untuk tidak menggunakan ‘bahasa langit’ hanya agar bisa dikategorikan sebagai ‘ikhwah’. Saya tetap saya, seorang muslim, dan identitas saya, bukan menggunakan Arabisme, namun bahasa keseharian, karena menurut saya, itu jauh lebih mengena di kalangan orang awam, karena di sanalah terpampang dengan jelas sasaran dakwah saya. Merekalah orang-orang ‘biasa’ yang jika saya menggunakan ‘bahasa langit’ belum tentu mengerti akan perkataan saya. Jadi, yuk berbahasa sesuai dengan bahasa kaumnya.

http://ilarizky.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ila Rizky Nidiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eka | Karyawan
Salam kenal untuk semua yang ada di KotaSantri.com. Saya baru ikut program ini, tempat ini memang tempat yang paling tepat untuk membekali pengetahuan dengan agama. Pokoknya okelah, tempat mengisi kekosongan disaat kesepian.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1383 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels