HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Menyikapi Cemburu
5 Juni 2010 pukul 17:45 WIB
Manakala Sakit
26 Mei 2010 pukul 16:09 WIB
Cukup Allah sebagai Penolong
19 Mei 2010 pukul 16:00 WIB
Kejujuran Itu Langgeng
12 Mei 2010 pukul 15:50 WIB
Mengalamatkan Cinta
10 Mei 2010 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 11 Juli 2010 pukul 15:00 WIB

Rencana Allah Itu Indah

Penulis : Eko Prasetyo

Ketika tengah mengerjakan tugas kantor malam itu, ponsel saya berbunyi. Ada pesan pendek. Bunyinya : ”Mas, cepat pulang ya, perutku sakit banget.”

Rupanya pesan tersebut berasal dari istri saya. Saya agak ragu untuk mengiyakan. Sebab, saat itu belum waktunya jam pulang alias belum deadline. Saya masih harus menyelesaikan editing berita. Jam menunjukkan pukul sekitar 22.00. Dalam kebimbangan itu, ponsel saya kembali berbunyi. Istri saya kembali mengeluh sakit dan minta diantar ke rumah sakit.

”Sebentar sayang, aku selesaikan mengedit satu berita dan segera pulang,” balas saya. Tanpa pikir panjang, saya meminta izin kepada atasan untuk pulang dengan alasan mengantarkan istri ke rumah sakit. Alhamdulillah, saya mendapatkan izin pulang.

Sesampai di rumah, saya melihat istri saya sudah lemas dan menangis. Wajahnya pucat sekali, seperti menahan sakit yang amat sangat. Dia mengeluhkan sakit pada bagian perut. Kami menduga bahwa itu adalah sakit maag.

Saya membawa istri saya ke rumah sakit terdekat di daerah Sepanjang, Sidoarjo. Di sana, dia diagnosis terkena radang lambung. Diduga, luka pada lambunglah yang membuat istri saya mengeluh sakit. Setelah diperiksa dan mendapatkan obat, kami pulang.

Sekitar pukul tiga dini hari, istri saya terbangun dan kembali merintih sakit. Kali ini, dia merasakan sakit yang lebih hebat daripada sebelumnya. Terus terang, saya agak panik waktu itu. Saya lantas mengambil botol, lantas saya isi dengan air hangat. Berikutnya, saya mendekapkannya pada perutnya. Namun, istri saya tetap mengeluhkan sakit. Jadilah, pagi itu saya begadang merawat istri dan menenangkannya.

Paginya, pukul 06.00, saya kembali membawanya ke dokter di daerah Kodam Brawijaya. Alhamdulillah, setelah mendapatkan perawatan intensif, istri saya tidak mengeluhkan sakit serupa. Saya kemudian mewanti-wanti istri saya untuk menjaga pola makannya agar maag tersebut tidak kambuh.

Sejujurnya, malam sebelum ketika istri saya sakit tersebut, di dompet saya hanya ada uang Rp. 15 ribu. Sesaat sebelum saya izin pulang ketika itu, saya diberi uang yang jumlahnya lumayan oleh seorang pejabat di redaksi. Saya baru mafhum bahwa itu adalah uang terima kasih karena saya telah membantunya dalam persiapan seminar internasional. Beliau kebetulan menjadi salah satu narasumbernya.

Saya betul-betul tak menyangkanya. Mungkin, ini pertolongan dari Allah SWT semata. Kerap kali, saya mengalami hal-hal yang kadang sulit diterima akal sehat. Misalnya, ketika tak punya uang dan saya membutuhkannya, ada saja rezeki berupa materi yang datang.

Dulu, ketika memiliki adik asuh yang yatim piatu, rezeki itu seolah-olah tak henti menyapa. Jika dinalar dengan logika, gaji saya mungkin tak cukup untuk membantunya. Apalagi, saat itu, saya masih punya cicilan kredit motor dan utang lainnya.

Karena itu, hingga kini, saya tak bosan meminta istri saya untuk rajin bersedekah selagi masih sehat. Sebab, Allah tentu akan mengganti sedekah ikhlas dengan berlipat-lipat. Saya sangat sadar bahwa dalam setiap hasil keringat ini ada hak orang dhuafa dan anak yatim. Meskipun hanya menjadi buruh dengan penghasilan tak seberapa, saya berjanji untuk berusaha menjaga hak-hak mereka. Ketika bersedekah, saya tak berharap menerima pertolongan seperti ketika istri saya sakit tadi. Mudah-mudahan selalu dan tetap seperti itu.

”Ya Allah, luruskan niatku dalam memelihara cinta-Mu dengan tanggung jawabku sebagai anak, suami, ayah, dan pemimpin bagi keluargaku.” Aamiin.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eni Sumartini | Dosen Keperawatan
Alhamdulillah, tulisannya baik, semoga jadi amal shaleh yang tidak terputus. Amin.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1530 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels