|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://dik2.multiply.com |
|
andhika.ramdhan |
|
|
ramadhan_adhi |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
http://twitter.com/AndhikaRamdhan |





Kamis, 24 Juni 2010 pukul 16:09 WIB
Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan
Mereka masih berlari di tepian. Empat orang anak kecil dengan kaki-kaki telanjangnya masih berlomba, berlari, dan mengejar perahu-perahu kertas yang baru saja mereka layarkan di antara alunan gelombang riak demi riak sungai itu. Tanpa peduli dengan apa yang mereka lewati, mereka terus berlari mengikuti ke mana perahu-perahu itu pergi. Terkadang sesekali mereka tertawa lepas sambil bercanda ria. Hingga di tepian batas mereka melabuhkan perahu kertas miliknya di sana. Lalu dengan segera tanpa komando mereka melompat kegirangan, menceburkan tubuh-tubuh mungil mereka ke sungai. Tawa-tawa mereka lepas, tanpa beban, bahkan tanpa ada sedikit pun rasa gundah.
Riak sungai sore itu seakan ikut bergembira di tengah keriangan suasana senja. Alam raya menyambut ceria, sementara daun-daun masih menari mengiring nyanyian sepi. Semilir angin dari ujung utara mempermainkan ujung-ujung rambutku. Dimana mereka masih tertawa dan aku pun tersenyum dibuatnya.
Serasa kembali ke beberapa tahun silam, dimana disaat-saat usia begitu indah mengurai satu kisah, yang tak akan pernah lengkang dari dalam jiwa. Kebersamaan memang selalu mengantarkan pada satu catatan kisah kehidupan. Antara suka dan duka selalu mampu dirangkai menjadi satu, untuk kemudian dibalut dalam satu balutan sejarah.
"Hhhmmm..." Aku menarik nafas. Dalam hati, ku berlafadz sebuah do'a, semoga kebersamaan mereka menjadi sebuah tali pengikat akan kebersamaan yang tidak akan pernah lengkang oleh masa hingga kelak di akhirat, dalam menikmati jamuan-jamuan surgaNya.
Aku menolehkan pandangku ke sekeliling tempat ini. Tak ada lagi mereka di sini. Mereka yang beberapa tahun silam masih bersama bergembira mengalunkan tembang-tembang kisah kehidupan, diiringi dengan canda dan ceria.
Andaikan kita mampu menawar dan meminta untuk tak pernah berpisah dengan mereka, orang-orang terdekat kita, mungkin berkali bahkan beratus kali kita akan selalu dan selalu memohonkannya. Namun, itu sepertinya bukan menjadi sebuah jaminan andaikan taqdir telah menjadikannya lain dari harapan. Karena meskipun berawal dari hal yang sama, maka titik akhir darinya tidak akan pernah selalu sama. Seperti halnya perahu-perahu kertas yang tadi berlayar, berawal dari titik yang sama, kemudian ketika mereka mengarungi di antara riak sungai itu, pada akhirnya mungkin akan berbeda. Ada yang lebih dulu, ada yang sampai belakangan, ada yang sampai di tepian, bahkan mungkin ada pula yang tenggelam di tengah perjalanan. Begitulah kiranya kehidupan.
Tidak pernah ada satu penjamin akan kelanggengan sebuah kebersamaan, terkecuali jika kita berada dalam naungan rahmat, ridha, dan kasih sayangNya. Berada dalam balutan mesraNya yang penuh dengan keagungan, yang mampu menjadikan segala yang tidak akan pernah mungkin menjadikannya mungkin terjadi. Dan semua itu tentunya tidak akan pernah bisa digapai ketika kita tidak pernah memohon dan meminta serta berusaha untuk mendapatkannya.
Adalah mereka yang senantiasa berbagi, adalah mereka yang senantiasa mengingatkan saudara-saudaranya dalam meniti langkah, tentunya menjadi pembuka kesempatan untuk mampu meraih kebersamaan hingga nanti di akhirat kelak, ketika menikmati jamuan-jamuan keindahan serta kemulian ciptaaan Allah dalam surgaNya. Hingga kemudian dengan berlandas pada rasa saling mencintai dan menghargai antara satu dengan yang lainnya hanya karena satu alasan semata, hanya karena Dzat yang Mahasatu.
"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai." Begitu indah sebuah sabda Muhammad SAW sang penebar risalah Allah, ketika mengingatkan kita untuk senantiasa saling mencinta, saling mengerti, hingga saling memahami antara satu dengan yang lainnya.
Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang senantiasa menebar ukhuwah hingga merajut beraneka keragaman menjadi satu dalam ikat kebersamaan, yang nantinya mengantarkan kita pada kebersamaan yang hakiki.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.