|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|





Sabtu, 19 Juni 2010 pukul 16:06 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Ibarat pepatah, semakin tinggi pu’un semakin keras tiupan anginnya.
Mungkin perumpaan ini cocok untuk seleb atau publik figur yang - sekarang ini menjadi buah bibir - atas beredarnya video mesum yang mirip mereka, baik di media massa, televisi, maupun masyarakat luas, karena tersandung kasus tindak yang sangat - maaf - menjijikan.
Ber-aha-ihi di sebuah ruang privacy [baca; kamar tidur], membuat sontak seluruh masyarakat heboh dengan pemberitaan tersebut, sehingga masyarakat dengan sukarela membuang rupiah ke warung internet [warnet] hanya sekedar ingin melihat kebenarannya. Apakah idolanya tersebut melakukan hal tersebut atau tidak? Sebegitunya.
Padahal, peristiwa semacam ini pernah [sudah] terjadi empat tahun silam ketika terkuaknya kasus video hot yang tersebar luas ke masyarakat. Adegan aduhai antara penyanyi dangdut dengan salah satu pejabat tinggi.
Sepasang manusia berlainan jenis ini melakukan adegan yang tidak pantas ditonton apalagi ditiru oleh anak-anak. Entah siapa yang harus dipersalahkan. Publik figur tersebut atau oknum yang menyebarkan aib publik figur? Entahlah.
Ketika saya melihat di sebuah stasiun televisi swasta, yang disiarkan pada Rabu malam [09/06], saya sungguh terkejut ketika narasumber tersebut adalah bekas “pelakon” adegan syur pula. Penyanyi dangdut itu didapuk menjadi narasumber saat itu.
Saya heran, kenapa penyanyi dangdut tersebut begitu antusiasnya menceritakan peristiwa yang saat itu membuat heboh di seluruh media massa dan televisi, khususnya di jagad hiburan, Infotainment.
Ya, tanpa memakai topeng - seperti single hits yang dilantunkan oleh publik figur itu - menghebohkan jagad hiburan dengan cara yang sangat merusak moral anak bangsa, yakni beredarnya video hot.
Entah ini euphoria atau semacam penyakit masyarakat yang sudah terkandung di badan. Atau, jangan-jangan untuk mendongkrak kepopularitasan? Entah! Tetapi mereka tidak malu-malu lagi untuk mengungkapkan dan menampakan diri. Tanpa ada sedikit malu yang tersisa. Atau, memang tidak punya rasa malu sehingga membuat bangga atas apa yang sudah dilakukan. Sungguh menyedihkan!
Kalau sudah terjadi hal seperti ini, siapa yang harus bertanggung jawab? Pelaku, oknum, atau hukum?
Pondok Aren Utara-Tangerang Selatan, 11 Juni 2010
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.