QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Antara Dakwah dan Lawak
15 April 2010 pukul 16:45 WIB
Jangan 'Asingkan' Anak
9 April 2010 pukul 15:30 WIB
Batas Kesabaran
6 April 2010 pukul 20:00 WIB
Karena Bangkai Itu Busuk dan Bau
2 April 2010 pukul 15:05 WIB
Selamat Datang Hidayah
26 Maret 2010 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 21 April 2010 pukul 15:30 WIB

Resah Menjelang Ultah

Penulis : Abi Sabila

Di luar cerah, di dalam resah! Begitulah yang dialami pak Ahmad (bukan nama sebenarnya). Hari ini cuaca memang sangat cerah. Sejak pagi matahari bersinar penuh, nyaris tanpa ada awan yang menghalangi sinarnya yang terang. Namun, kecerahan hari ini tak mampu mengurangi kegundahan hati pak Ahmad. Esok hari, Aisyah (bukan nama sebenarnya) putri tunggalnya genap berusia sepuluh tahun.

Apa yang membuat pak Ahmad sebegitu resah? Apakah Aisyah menuntut agar ulang tahunnya dirayakan seperti ulang tahun teman-temannya di rumah? Atau apakah Aisyah meminta hadiah istimewa, seperti yang didapat teman-temannya di sekolah? Bukan, bukan itu yang membuat hati pak Ahmad gelisah. Aisyah sama sekali tak menuntut untuk dibuatkan pesta di hari ulang tahunnya. Aisyah juga tak meminta hadiah apa-apa di hari ulang tahunnya. Sejak kecil, pak Ahmad memang tidak mengenalkan putrinya dengan segala macam pesta perayaan ulang tahun meskipun banyak teman-teman di lingkungan tempat tinggal mereka yang merayakannya. Selama ini, jika Aisyah berulang tahun, pak Ahmad dan keluarga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan nasihat-nasihat kepada putrinya, bahwa sebenarnya dengan bertambahnya usia, berarti berkurang umur yang tersisa. Kalaupun ada hadiah, itu hanya sekedar saja karena bagaimana pun pak Ahmad ingin melihat putri tunggalnya itu merasa bahagia.

Dan jika hari ini pak Ahmad begitu gelisah, itu karena ia memikirkan putri tunggalnya yang kini beranjak remaja. Ada ketakutan yang dirasakan oleh pak Ahmad. Ada kekhawatiran terhadap putri yang sangat disayanginya. Sampai saat ini, Aisyah belum memakai jilbab seperti yang diinginkannya. Bukan salah Aisyah, tapi ini salah dirinya yang tak membiasakan putrinya untuk berjilbab sejak kecil dulu. Ia dan istrinya terlalu terpesona dengan kejelitaan Aisyah kecil. Dan kesadaran sang istri untuk berjilbab rupanya tidak serta merta ditiru buah hati mereka. Berkali-kali mereka membujuk agar Aisyah mengenakan jilbab, tapi berkali-kali pula Aisyah menolak dengan berbagai alasan. Belum baligh adalah alasan utama yang selalu disampaikan Aisyah setiap kali bapak dan ibu merayunya agar segera mengenakan jilbab.

Dalam suatu perbincangan, dicapai kesepakatan bahwa Aisyah harus mengenakan jilbab paling lambat pas usianya genap sepuluh tahun. Momen ulang tahun sengaja mereka pilih agar perubahan penampilan Aisyah lebih berkesan. Sebenarnya Aisyah masih agak ragu dan berusaha menawar keinginan kedua orangtuanya agar ditunda sampai dia lulus SD. Tapi pak Ahmad sudah tidak bisa mengulur-ngulur waktu lagi. Aisyah pun menyerah, dan pak Ahmad berjanji akan membelikan baju-baju muslimah untuk sekolah dan sehari-hari di rumah.

Namun, manusia boleh berencana, Allah-lah yang menentukan akhirnya. Manusia hanya bisa berusaha, Allah-lah yang menentukan hasilnya. Meski sudah berusaha keras, menyisihkan rejeki sedikit demi sedikit, kenyataannya adalah banyak kebutuhan tak terduga yang harus ditutup pak Ahmad sekeluarga. Beberapa baju muslimah untuk dipakai di rumah memang sudah terbeli, tapi jumlahnya belum mencukupi. Baju-baju untuk sekolah malah sama sekali belum terbeli. Pak Ahmad tidak ingin Aisyah memakai jilbab setengah-setengah, di rumah pakai di sekolah tidak, atau sebaliknya. Pak Ahmad ingin Aisyah konsisten berbusana muslimah baik di rumah maupun di sekolah.

“Katanya bapak mau dapat bonus, jumlahnya cukup kan untuk beli baju-baju Aisyah?” tanya sang istri malam sebelumnya.

“Aku tidak akan ambil bonus itu,“ jawab pak Ahmad singkat.

“Lho, kenapa, Pak? Kan itu hak Bapak?!“ sang istri heran dengan jawaban pak Ahmad.

“Bonus itu bukan hak kita. Bahkan aku ragu kehalalan bonus itu. Aku lebih yakin kalau uang itu dari usaha yang tidak halal. Apa pun alasannya, riba itu haram, Bu! Kita memang ingin sekali agar Aisyah segera memakai jilbab. Bahkan kita yang memaksa agar momen ulang tahunnya dijadikan awal untuk merubah penampilannya. Tapi bukan berarti kita menghalalkan segala cara. Jika bonus itu aku ambil, memang jumlahnya cukup untuk membeli semua kebutuhan pakaian Aisyah. Tapi tak mungkin aku membeli pakaian untuk Aisyah dari hasil usaha riba. Tak mungkin, Bu. Lebih baik kita bersabar dulu, tak apalah jika harus ditunda beberapa waktu. Kita kumpulkan lagi rejeki sedikit demi sedikit untuk membeli baju-baju Aisyah. Nanti aku yang akan ngomong ke Aisyah, sekalian meminta maaf padanya karena aku tak bisa menyiapkan baju-baju itu untuknya.“

Bu Ahmad hanya terdiam. Ada rasa sedih dalam hatinya karena keinginannya untuk melihat putrinya mengenakan jilbab tepat di usia sepuluh tahun nyaris bahkan bisa dipastikan tertunda. Tapi dia juga bersyukur karena sang suami ternyata memiliki pemikiran lebih jauh darinya. Ia bersyukur karena sebagai kepala rumah tangga, ternyata suaminya memiliki tanggung jawab yang penuh, bukan hanya urusan dunia saja, tapi akhirat pun ia pikirkan. Ia malu pada diri sendiri, sebagai wanita ia terkadang masih ‘silau’ melihat harta tanpa pernah menimbang halal haramnya lebih teliti lagi. Jika saja sang suami tak lebih berhati-hati dan menuruti sarannya, maka sama saja mereka telah memberikan pakaian dari api neraka kepada putri tercintanya.

***

Ada dua hikmah yang bisa dipetik dari kisah nyata di atas. Pertama bahwa manusia hanya bisa berencana dan berusaha, namun hasil akhirnya tetap Allah yang menentukan. Kedua, jika kita memiliki tujuan yang benar dan baik, maka mulailah dengan yang benar dan baik (niat), lakukanlah atau usahakanlah dengan jalan dan cara-cara yang benar dan baik (ikhtiar). Jangan sampai niat yang benar, tujuan yang benar, tapi diusahakan dengan menghalalkan segala cara. Hidup memang tak lepas dari ujian, bahkan untuk tujuan yang baik sekalipun Allah akan memberikan ujian untuk mengetahui kemantapan niat dan usaha kita. Terpenting adalah berusahalah semaksimal mungkin, dan pasrahkan hasilnya kepada Allah (tawakal), karena hanya Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita selaku hambaNya.

Tangerang, 21 April 2010

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hendi | Desain Grafis
Mari gabung di sini. Artikelnya bagus-bagus dan banyak hikmahnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2017
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1114 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels