|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|





Ahad, 11 April 2010 pukul 15:15 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
"Sebenarnya yang penting bukan seberapa banyak yang kita beri, tapi seberapa ikhlas kita memberinya.”
Itu yang perlu!
Kadang saya merasa terenyuh dan merasa iba kalau melihat seorang petugas alias panitia pembangunan. Entah, itu bisa atas nama petugas pembangunan masjid maupun pondok pesantren yang membutuhkan dana (baca : sedekah).
Ini bukan hal yang pertama saya lihat dan juga saya jumpai keadaan seperti itu. Sering, bahkan saking keseringan, saya sampai perlu menyiapkan lebih dahulu uang yang ada di saku saya, sebelum para petugas itu naik bus yang saya tumpangi.
Saya sangat terenyuh dan merasa empati ketika petugas (panitia) atas nama pembangunan itu sambil membawa kotak amal maupun amplop selembaran yang tercantum nama pembangunannya untuk meminta uluran tangan kepada para “dermawan dadakan” di dalam bus tersebut. Ini sering kali saya alami ketika hendak bepergian.
“Coba kalo saya konglomerat. Nggak ada tuh yang namanya minta-minta sedekah sambil membawa kotak amal maupun membawa amplop selembaran berpuluh-puluh.”
Begitu yang ada di benak saya ketika saya melihat hal semacam itu. Saya heran sama orang-orang yang saya jumpai di dalam bus, kok berbuat baik susah banget. Kudu dipaksa-paksa dan disodorkan kotak amal atau amplop selembaran dulu. Ya, kudu dipaksa dulu, baru yang namanya naluri “keibaan” timbul.
Kalo tidak salah, tidak ada tuh ceritanya orang yang terus beramal (berbuat baik), akhirnya jatuh miskin. Coba deh cari? Mungkin yang ada, justru sebaliknya. Bagi mereka yang berbuat baik, mau sedikit atau banyak hartanya diamalkan ke jalan Allah, terus-menerus akan bertambah. Tidak ada yang jatuh miskin.
Dan juga tak perlu kita beramal menunggu kaya. “Nanti deh kalo saya kaya.” Mungkin itu yang terlontar dari mulut kita tanpa disadari. Bahkan dalam keadaan sempit, sedekah jadi lebih utama dilakukan. ”Orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit.” (QS. Ali Imran : 134).
Hal tersebut mengingatkan saya pada kejadian di dalam bus yang saya tumpangi ketika akan pergi ke kantor redaksi yang ada di bilangan Rawamangun.
“De, nih ibu kasih. Tapi do’akan ibu ya, biar ibu banyak rezekinya,” ujar seorang ibu, teman duduk saya satu kursi di bus. Ibu itu minta dido’akan si pembawa kotak amal sambil menyemplungkan uang kertas ribuan satu lembar yang sudah lecek. Kebetulan pembawa kotak amal itu masih anak-anak, dengan polosnya ia menjawab sambil tersenyum kecut.
Saya yang melihat situasi itu pun langsung berguman, ”Seribu aja kok minta do'a!” Saya heran, kok ada orang seperti itu? Memang, ibu tadi memberi sedekah (berbuat baik), tapi sebaiknya tidak bertindak seperti itu dan tidak menganggap hanya sebatas kotak amal.
Memang syarat utama dalam memberi adalah keikhlasan. Namun bila kemudian saat memberi terselip keinginan dalam hati agar Yang Mahakuasa membalas perbuatan kita dengan sesuatu yang lebih baik, entah kemudahan dalam hidup, dilancarkan rezekinya, dan lain sebagainya, itu salah besar.
Sebaiknya, ketika kita bersedekah, niatkan karena Allah SWT dan bukan karena mengharapkan imbalan dariNya. Yakinlah, bahwa apa yang kita keluarkan di jalanNya, insya Allah tidak akan luput dari pengawasan dan perhitungan Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Wallahu a’lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.