
Pelangi » Refleksi | Jum'at, 12 Maret 2010 pukul 15:05 WIB
Penulis : agus triningsih
Tahun 1994, alhamdulillah saya dan suami telah menunaikan ibadah haji. Saya merasakan betapa nikmatnya ibadah tersebut. Sejak sampai di tanah suci, saya berkeinginan dan bertekad bahwa 5 tahun ke depan saya harus kembali lagi ke sini. Meski mungkin uang yang akan saya sisihkan selama 5 tahun dari gaji saya dan suami sebagai dosen belum cukup. Tapi saya yakin, setiap ada ketulusan niat, maka Allah akan membentangkan segala kemudahanNya.
Untuk harapan saya tersebut, saya senantiasa menghidupkan malam dengan shalat tahajud, merutinkan 8 rakaat di waktu dhuha, tilawah minimal 1 juz perhari, sedekah, serta melakukan ibadah-ibadah sunnah lainnya.
Hingga tahun ke-5 terlewati, kesempatan itu belum datang menyapa. Tabungan kami masih jauh dari cukup. Saya sempat berduka, memendam kerinduan yang teramat sangat pada tanah suci. Lalu saya segera kembali tetap berkhusnudzan padaNya, mungkin ikhtiar saya yang belum maksimal.
Saya bertekad meningkatkan kualitas ibadah saya. Saya pun semakin menggiatkan ibadah-ibadah yang telah saya lakukan. Menambah jumlah rakaat tahajud hingga 12 rakaat. Menambah tilawah hingga 2 juz perhari, memperbanyak sedekah, serta selalu berusaha untuk ikhlas dalam setiap aktifitas.
Hingga suatu pagi di penghujung tahun ke-6, seorang rekan menelfon saya. ”Saya telah mendaftarkan umrah untuk kita berdua. Satu minggu lagi kita berangkat. Hari ini kita ngurus paspor sama-sama, semua ongkos perjalanan, bekal, dan lain-lain jangan difikirkan lagi, sekarang cuma fisik dan kesehatan yang perlu dipersiapkan.” Mendengar suara di ujung telfon itu, badan saya serasa bergetar. Saya tergugu dalam tangis. Tangis kesyukuran. Hanya hamdalah yang berkali-kali terucap di bibir ini.
Sungguh, Allah tak kan pernah menyia-nyiakan harapan hambaNya. Jangan pernah pupuskan harapan. Do’a adalah harapan. Itulah sumber kekuatan kita. Bahkan energi terbesar yang membuat kita tetap melaju. Tetaplah berusaha dan berharap, jangan pernah berhenti bahkan hingga harapan itu telah nyata di hadapan kita.
Yogyakarta, Juli 2009
Sebagaimana dituturkannya, Ibu dosen saya di FIAI UII, Yogyakarta.
KotaSantri.com © 2002-2012