HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Ummi, Aku Bukan Anak Shaleh
27 Februari 2010 pukul 17:55 WIB
Merenungi Perubahan
6 Februari 2010 pukul 20:31 WIB
Seimbang VS Bahagia
3 Februari 2010 pukul 18:11 WIB
Berpikir Positif
26 Desember 2009 pukul 20:20 WIB
Bukan Sembarang Ayah
12 Desember 2009 pukul 17:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 6 Maret 2010 pukul 16:10 WIB

Duta Islam

Penulis : Hifizah Nur

Belum lama ini, seorang sahabat bercerita tentang anaknya yang duduk di kelas 4 SD Jepang. Anaknya, sebut saja Raihana chan selalu memakai jilbab mungilnya ke sekolah, meskipun di dalam kelas jilbab itu dibukanya. Suatu hari, teman akrabnya di sekolah, Aiko chan, mencoba memakai jilbab mungil milik Raihana chan. Sambil sedikit becanda, dia menanyakan pendapat teman-temannya bila ia memakai Jilbab. Lalu dijawab, “Hen da yo (kamu aneh),” begitu pendapat teman-temannya.

Lain waktu, Aiko chan berkata kepada Raihana chan, “Saya ingin menjadi orang Islam, tapi saya bukan orang Indonesia seperti kamu.” Raihana chan menatapnya, “Kamu bisa tetap menjadi orang Islam meskipun kamu bukan orang Indonesia, kamu juga tidak perlu bisa bahasa Indonesia untuk menjadi orang Islam, kamu cuma perlu belajar Al-Qur’an,” jawab Raihana chan memberi penjelasan. Raihana chan tanpa sadar menjadi da'i cilik yang memperkenalkan Islam kepada teman-teman Nihonjin-nya.

Beberapa waktu lalu, ketika saya sedang mengantarkan anak saya ke jidoukan untuk mengikuti kegiatan rutinnya, seorang teman Nihonjin menyodorkan sesuatu kepada saya. “ini daftar makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh orang Islam. Saya dapat ini dari internet,” ujarnya. “Moushi yokattara, tsukatte kudasai,” katanya lagi. Saya terkejut dengan perhatiannya. Selama ini memang saya selalu menolak secara halus bila teman-teman Nihonjin menawarkan makanan yang saya ragukan kehalalannya. Saya juga menjelaskan alasan penolakan saya, yaitu karena agama.

Meskipun awalnya kecewa dan sedikit tersinggung, tetapi lambat laun mereka menghargai pendirian saya. Karena di lain waktu, ketika saya yakin makanan yang diberikan itu halal, tanpa ragu saya akan memakannya bersama mereka. Tidak jarang saya kerepotan mengecek bahan makanan yang terdaftar dalam suatu kemasan, apakah ada unsur yang haram atau tidak. Ternyata teman saya yang satu ini menaruh perhatian khusus tentang kebiasaan saya ini, sehingga waza-waza menawarkan solusi untuk meringankan kesulitan saya, memberikan daftar makanan yang bisa dimakan di Jepang ini.

Hidup dalam lingkungan yang jauh berbeda memang tidak mudah. Awalnya tidak jarang ada orang-orang yang menolak keberadaan saya, atau teman-teman muslim lainnya. Terutama karena citra Islam sangat buruk di mata negara-negara yang berkiblat ke Barat. Tetapi itulah tantangan untuk setiap muslim, untuk membuktikan bahwa pandangan yang dihembuskan media selama ini adalah salah. Berusaha menampilkan diri sebagai duta Islam dengan segala keindahan yang terkandung di dalam agama ini. Tentu saja ini bukan pekerjaan ringan.

Teringat suatu kisah di zaman Rasulullah, ketika salah seorang sahabat diminta untuk menjadi duta Islam untuk membuka kota Madinah, Mushab bin Umair RA. Sahabat Rasulullah ini, dengan pembawaannya yang tenang dan tutur katanya yang lembut, berhasil menghantarkan penduduk kota Madinah ke dalam pangkuan Islam. Meskipun sebelumnya sempat menerima ancaman pengusiran sampai pembunuhan dari pembesar kota Madinah. Tetapi langkahnya tidak surut, bahkan Mushab RA berhasil mengislamkan mereka. Dan inilah yang menjadi kunci pembuka kota Madinah saat itu. Subhanallah.

Negeri Jepang adalah negeri yang penduduknya bertuhankan kerja. Sebagian besar dari mereka tidak peduli dengan agama apa pun. Banyak dari mereka yang mengaku Budha atau Shinto, tetapi tidak pernah ke kuil. Natal dan perayaan hari besar lainnya pun dilakukan bukan karena berlandaskan agama, tetapi lebih kepada budaya, kebiasaan yang turun temurun, atau karena adanya pengaruh budaya Barat sebagai kiblat mereka.

Bukan hal mudah memperkenalkan Islam yang sebenarnya kepada mereka. Mungkin saja Allah memang mentakdirkan saya dan teman-teman yang lain datang ke Jepang ini untuk menjadi duta Islam. Memperkenalkan sedikit demi sedikit Islam yang hannif ini, sehingga mengurangi keterasingan mereka terhadap Islam.

Mungkin saat ini, mereka hanya mengenal jilbab sebagai pakaian orang Islam. Mereka hanya tahu ada konsep halal haram dalam Islam. Tetapi mudah-mudahan dengan interaksi yang terus menerus dengan orang Islam, akan menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih dalam lagi tentang Islam. Kemudian bisa menerima Islam. Sampai suatu saat dengan suka rela menjadi pemeluknya. Semoga.

Terjemahan
Nihonjin : Orang Jepang
Jidoukan : Gedung tempat kegiatan anak-anak, biasanya untuk bermain anak.
Moushi yokatta tsukatte kudasai : Kalau berkenan silahkan digunakan.
Waza-waza : Secara khusus.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Salsabila | Mahasiswi
Subhanallah... Walhamdulillah... Sarana dari KSC lengkap banget. Semoga bermanfaat buat kita. Amin...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1262 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels