Pelangi » Refleksi | Senin, 1 Maret 2010 pukul 16:05 WIB

Menghadirkan KeagunganNya

Penulis : Muhammad Rizqon

Kejadian ini berlangsung di sebuah mushala, tepatnya di gang Al-Hikmah - Cililitan Kecil, Jalan Dewi Sartika. Agak klasik mungkin ceritanya karena menyangkut fenomena yang boleh jadi sering terjadi. Tapi bagi saya, kejadian itu cukup unik dan menyisakan sebuah pelajaran yang cukup berharga.

Siang itu, saya berkesempatan mengikuti shalat dzuhur berjama'ah di mushala Al-Hikmah, nama mushala di gang Al-Hikmah itu. Saya perhatikan, ada beberapa jama'ah yang rutin shalat di sana, ada pula beberapa jama'ah yang hanya sekedar mampir.

Di antara jama'ah yang rutin shalat dzuhur di mushala itu adalah seorang yang selalu mengenakan sarung dan peci hitam dan seorang bapak separuh baya berbaju rapi yang selalu mengingatkan jama'ah tentang penggunaan handphone sebelum shalat dilangsungkan. Yang pertama, sebut saja sebagai bapak Imam karena sering menjadi imam shalat, yang kedua adalah bapak Bilal karena sering melantunkan adzan atau iqamah.

Pada momen shalat dzuhur berjama'ah di suatu siang, tepatnya pada rakaat kedua, handpone salah satu jama'ah berdering nyaring. Nada deringnya adalah lagu MP3 dari kelompok band terkenal yang sering melakukan konser ke berbagai daerah. Saya yang waktu itu ikut serta di dalam jama'ah shalat, merasa sangat terganggu dan tidak bisa merasa nyaman (khusyuk). Saya yakin, jama'ah yang lain juga merasakan hal yang sama, terlebih bapak Bilal yang sensitif dengan bunyi handphone di dalam shalat tadi.

Saya pikir dering itu hanya akan berlangsung sebentar, nanti akan mati dengan sendirinya. Namun anehnya, hingga selesai rakaat ketiga, handphone itu masih tetap berbunyi. Saya dan para jama'ah, termasuk imam shalat, merasa jengah dengan gangguan yang terjadi. Hampir semua jama'ah mengucapkan takbir keras-keras, seakan aksi kami itu mengingatkan kepada pemilik handphone agar segera mematikan handphonenya. Namun apa mau dikata, agaknya pemilik handphone itu termasuk orang yang awam dalam tata cara ibadah, sehingga handphone pun tetap berdering dan tidak dimatikannya.

Makin lama, para jama'ah makin keras teriakan takbirnya dan menunjukkan ketidakberdayaan atas gangguan bunyi handphone itu. Bagi saya, bayangan keagungan Allah menjadi sulit untuk dihadirkan. Justru bayangan hiruk-pikuk suasana konser yang sering membawa korbanlah yang hadir. Astaghfirullah! Hingga rakaat keempat selesai, bahkan ketika salam dilakukan oleh para jama'ah, handphone itu masih tetap mendendangkan sebuah lagu band ternama itu. Masya Allah!

Sumber suara handphone itu ada di sayap sebelah kiri. Maka begitu salam kedua usai dilakukan, para jama'ah langsung melihat pemilik handphone yang langsung bereaksi berusaha mematikan handphone-nya.

Beberapa bapak langsung berdiri, mengarahkan pandangan ke pemilik handphone, termasuk bapak Bilal yang sensitif dengan bunyi handphone tadi. Dengan lantang ia berteriak, “Siapa yang handphone-nya bunyi. Matikan! Matikan!” Tatapan bapak Bilal dan jama'ah lain (termasuk saya) terus tertuju kepada si pemilik handphone yang ceroboh itu.

Ia menjadi kikuk, kemudian mencoba “kabur” dari barisan jama'ah shalat, tetapi kemudian Bapak Bilal mencegat dan memperingatkannya secara keras, “Anda itu gimana?! Kan sudah diingatkan tadi sebelum shalat agar handphone dimatikan!”

Pemilik handphone yang sedang dimarahi itu nampak kecut dengan wajah penuh bersalah. Ia yang sedang berdiri itu kemudian menyatukan kedua tangannya di dada, kepalanya menunduk seraya berucap, “Maaf, Pak, saya khilaf!” Tetapi rupanya marah bapak Bilal belum selesai dengan kegusarannya, ia berujar keras, “Semua orang di sini juga pakai handphone! Tapi jangan gitu dong! Itu namanya menganggu dan merusak orang shalat! Anda orang baru ya yang shalat di sini! Jangan seenaknya dong pake handphone!”

Pemilik handphone itu nampaknya sudah khawatir dengan amarah bapak Bilal dan juga jama'ah lain yang memandanginya dengan sorot mata yang tajam. Secara spontan ia mengucapkan kata-kata maaf dan permohonan agar meredakan amarah, “Maaf, Pak. Sabar, Pak. Sabar!”

Reaksinya yang berucap menyuruh sabar itu, justru mengundang jama'ah lain untuk lebih memperingatkannya, “Kita bukan kena musibah. Ini kesalahan Anda! Masalahnya Anda tadi tidak membatalkan shalat untuk mematikan handphone. Masak handphonenya bunyi terus hingga selesai shalat. Itu kan sudah keterlaluan. Seharusnya Anda keluar dari barisan dan matikan handphone itu! Kenapa nggak dimatikan?!”

Dalam hati saya juga menyetujui perkataan bapak barusan. Ia sudah keterlaluan membiarkan handphone berbunyi hingga selesai shalat (salam). Nampak sekali bahwa ia begitu jahil (bodoh/awam) dalam urusan ibadah. Ia tidak memiliki daya antisipasi tentang kejadian luar biasa (tidak normal) yang bisa muncul tatkala ibadah sedang dilakukan. Jika ia termasuk orang yang paham, pastilah ia menggerakan tangan untuk sekedar mematikan handphone itu karena gerakan itu tidaklah membatalkan shalat. Ekstrimnya, ia akan membatalkan shalat demi mematikan handphone sebagaimana disarankan oleh bapak barusan.

Kejadian itu menjadi cerminan, betapa banyak masyarakat yang masih awam dalam urusan ibadah, khususnya tata cara shalat berjama'ah. Padahal shalat berjama'ah adalah miniatur dari jama'ah Islam. Ia memiliki aturan dan etika yang harus diperhatikan oleh setiap jama'ah yang menjadi unsur di dalamnya. Jika ada elemen jama'ah tidak peduli dengan tata cara atau hukum yang berlaku, maka jama'ah secara keseluruhan pun berpotensi turut menjadi tidak kompak.

Bapak pemilik handphone itu masih berdiri ketika jama'ah lain selesai memperingatkannya. Boleh jadi, perasaan bersalah yang demikian besar itulah yang membuat Bapak pemilik handphone itu diam terpaku di barisan belakang dengan wajah penuh kebingungan. Seorang bapak yang bijaksana, menghentikan keterpakuannya dan mempersilahkan (menyarankan) bapak itu ke luar demi menghindari kemarahan jama'ah yang bisa saja akan dilampiaskan seusai dzikir atau shalat sunnah rawatib.

“Bapak ke luar aja. Segera pergi, Pak. Pergi dari sini!”

Saya merasa jika bapak itu tidak segera beranjak pergi, pasti selepas shalat sunnah rawatib dilakukan, para jama'ah masih penasaran dan akan memaki bapak itu.

Saya ingin berbincang sejenak, namun selesai saya melaksanakan shalat sunnah ba’diyah, bapak pemilik handphone itu sudah pergi entah ke mana.

***

Allah memberi pelajaran lewat dering handphone di dalam shalat. Keagungan Allah hendaknya dihadirkan beberapa saat sebelum shalat dimulai. Memulai shalat dalam kondisi terburu-buru, tanpa kehadiran Allah di hati, berimbas pada munculnya kejadian yang seharusnya tidak perlu muncul seperti handphone berbunyi karena lupa dinonaktifkan.

Boleh jadi, itulah hikmahnya kenapa menunggu waktu shalat tiba merupakan suatu kebaikan yang disunnahkan oleh Rasul SAW. Tidak lain Rasul SAW ingin mengajarkan bahwa melaksanakan shalat itu butuh persiapan, utamanya persiapan hati untuk menerima kehadiran dan keagungan Allah. Jika Allah telah diagungkan, seorang hamba pasti berusaha menyingkirkan hal-hal yang bisa mengurangi keagunganNya, seperti handphone yang harus dimatikan dan berusaha mendekatkan hati pada kehadiranNya dengan berdzikir atau membaca Al-Qur’an.

Semoga kekhusyukan itu bisa kita wujudkan dalam shalat-shalat berjama'ah kita. Amin.

Wallahu a’lam bishshawab.

KotaSantri.com © 2002-2012