|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://lakonhidup.wordpress.com |
|
setta_81@yahoo.com |
|
|
setta_81@yahoo.com |





Senin, 22 Februari 2010 pukul 15:20 WIB
Penulis : Setta SS
Herzlichen Gluckwunsch zum 28 Geburtstag [1]
***
Dalam salah satu bukunya yang berjudul Being Happy! A Handbook to Greater Confidence and Security, Andrew Matthews berkesimpulan di antaranya dia mengatakan bahwa happiness is a daily decision.
Terlepas dari pro dan kontra pendapat khalayak tentang pernyataannya itu, saya pribadi setuju dengan statemennya. Siapa pun mereka, sepanjang mempunyai keinginan untuk bahagia, mereka berhak berbahagia. Saya pikir, happiness bersifat nisbi. Tidak mutlak hanya milik golongan the have. Akan tetapi, mereka yang lahir, tumbuh, dan besar dari dan di lingkungan orang-orang kelas bawah pun sangat berhak untuk merasakannya. Tidak ada sekat permanen yang memisahkan keduanya. Memutlakkan satu kelompok ada di satu sisi dan kelompok strata lain berada di sisi satunya lagi.
Adalah benar, setiap insan akan mempunyai standar masing-masing tentang kebahagiaan. Ada banyak definisi yang beragam tentang itu. Namun, terlepas dari atribut standar apapun, secara universal ada satu ciri utama tentang definisi happiness, yaitu ia (hatinya) tenang, dalam kondisi apapun.
Seperti Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab yang masih bisa tertidur pulas seorang diri beralaskan mantel sebagai bantalnya di beranda masjid dengan pakaian seadanya. Hingga membuat Hurmuzan -panglima dan pangeran Persia yang ditaklukkan pasukan Muslim, pemuka-pemuka kerajaan, dan seluruh anggota keluarganya terheran-heran dan nyaris tak percaya. Saat mereka berkunjung ke Madinah dengan membawa segala kebesaran dan kemegahannya.
Benarkah itu salah satu wujud happiness? Sebenarnya tak begitu penting seperti apa ia berwujud. Namun, satu hal yang pasti, ia tak pernah menempati rumah lain selain di hati ini.
Maka, mari kita tanya diri kita masing-masing. Kita tidak harus mendebatkannya lebih lanjut tentang hal ini, bukan?
***
Ada saat-saat yang paling tepat untuk menyapa dan menasehati orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Pada saat itu, besar kemungkinannya mereka akan mengesampingkan sementara ego diri yang di hari-hari lain melilitinya dengan sangat kuat. Pada momen itu, sangat boleh jadi mereka akan mengucapkan terima kasih dengan tulus atas apa yang kita lontarkan, bahkan meski itu kritik tajam sekalipun. Dan, saya tak pernah ragu memanfaatkan momen-momen istimewa itu untuk menyapa mereka dengan kata-kata penggugah jiwa -jika saya tidak lupa dan ada kesempatan untuk menyampaikannya.
Salah satu di antara saat-saat istimewa itu ialah saat tanggal lahir mereka berulang.
Es ist der Tag
Um uns zu erinnem, dass das Leben zu kurz ist.
Deshalb macht es nutzlich … [2]
Ya, paling tidak kelak mereka akan mengingat saya. Bahwa saya pernah menyapanya suatu hari di masa lampau.
“Dulu -dulu sekali, orang itu pernah menyapa saya …”
***
Oya, beberapa tahun lalu seorang sahabat saya bertanya via layanan SMS ME. Begini pertanyaannya, “Kenapa hidup kita tidak selalu mulus terus seperti jalan raya?”
Saya langsung tersenyum simpul setelah membacanya. Bukan, bukan muatan pertanyaannya itu yang membuat saya tersenyum. Tapi saya sudah membayangkan jawaban saya atas pertanyaan itu yang mungkin akan berupa guyonan.
Hmm, saya yakin Anda punya versi jawaban masing-masing kan?
***
22 Desember, sepanjang 2oo7-2oo9, o9:o4 a.m.
Selamat ulang tanggal -bagi siapa pun yang lahir pada tanggal hari ini!
Catatan
[1] Selamat Ulang Tahun ke-28
[2] It is a day to remind us that life is short. Therefore, make it useful ….
Di antara jeda hiruk pikuk keseharian, special thank to Henny Dulimarta in Darmstadt/Frankfurt for translating to German.
http://lakonhidup.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.