|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|
|
|
http://muhammadrizqon.multiply.com |
|
rizqon.ak@gmail.com |





Sabtu, 20 Februari 2010 pukul 16:28 WIB
Penulis : Muhammad Rizqon
Dalam suatu pengajaran baca Al-Qur'an anak-anak, Sari Hermalina Fitri, santriwati TPA, bertanya kepada saya, “Cemburu itu boleh ngga, Kak?”
Saya menjawab, “Cemburu atau iri dibolehkan untuk hal-hal kebaikan, misal cemburu pada temannya yang pinter sehingga termotivasi ingin menjadi pinter juga. Cemburu pada teman yang rajin shalat dan sedekah, sehingga terdorong untuk rajin shalat dan sedekah juga. Yang ngga boleh itu dengki, yaitu kita merasa susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah.” Begitulah penjelasan singkat saya kepadanya.
Tiba-tiba dia berkata, “Kak, Inda cemburu tuh, Kak!” Saya tanya apa maksudnya, kemudian dia berujar, “Aku kan sama Kakak nih, sedangkan Inda sama kakak lainnya. Dia maunya sama Kakak juga!” Nadanya meninggi seakan dirinya sebenarnya tidak menghendaki hal itu terjadi. Saya tidak begitu percaya dengan kata-kata Lina. Saya konfirmasi berkali-kali apa betul yang dia katakan. Ia menjawab, “Iya, Kak!” sambil tersenyum-senyum melihat Inda beberapa jarak di sampingnya. Sesekali ia memayunkan bibir menahan senyumnya. Ah, dasar Lina. Anak penggoda.
***
Dalam forum pengajian bapak-bapak, saya juga mendapat pertanyaan berkaitan dengan cemburu, “Begini, Pak, saya penginnya selalu tepat waktu dalam menunaikan shalat berjama'ah, tetapi ada kalanya ada tuntutan, sehingga saya tidak bisa melaksanakannya secara tepat waktu. Kita mengetahui bahwa Allah itu kan pencemburu. Saya kok ada rasa bersalah jika waktu shalat tiba, tetapi saya masih mengerjakan aktivitas yang lain karena seolah-olah saya lebih mengutamakan aktivitas itu dibanding beribadah kepadaNya. Apakah wajar sikap saya itu dan bagaimana kita harus bersikap terhadap Allah yang cemburu itu?”
Saya menjawab bahwa rasa bersalah itu wajar dan seharusnya demikian adanya pada seorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah. Sebab salah satu konsekuensi keimanan adalah mencintai Allah melebihi kecintaan terhadap hal lainnya.
Namun terdapat kondisi tertentu yang kadang menghalangi kita dari menjalankan ketaatan atau ibadah kepada Allah secara sempurna. Misal kita mengalami gangguan tubuh (pening, mual, dan lain-lain) saat musafir, maka jika dengan berbuka mampu memulihkan kondisi menjadi lebih baik, berbuka diperbolehkan. Demikian juga manakala kita tidak bisa shalat secara tepat waktu dan berjama'ah karena terjebak macet. Kondisi tersebut adalah kondisi di luar pengendalian kita. Selama masih tersimpan sebuah komitmen untuk menjalankan ketaatan secara maksimal dan prioritas ketaatan kita tidak berubah, maka Allah Maha Mengetahui dan Maha Pengampun atas kelemahan kita tersebut.
Sifat Allah yang pencemburu harus diimbangi dengan mengokohkan ikatan keimanan kita kepada Allah. Artinya, dalam situasi apapun, cinta kita kepada Allah tidak berkurang meskipun tampaknya kita sedang tidak menjalankan kewajiban kepadaNya saat itu. Karena boleh jadi ada udzur.
Pertanyaan seorang bapak itu mengingatkan saya akan arti cemburu yang sering disalahpahami oleh sebagian orang. Allah cemburu karena tidak ingin diduakan atau dinomorduakan. Kenapa? Karena memang Allah-lah yang memiliki segala keagungan sebagaimana tersurat dalam Asma Al-HusnaNya. Tiada tuhan yang patut dicintai, dipatuhi, diibadahi selain daripada Allah.
Nah, bagaimana dengan cemburu yang terjadi pada manusia? Cemburu adalah fitrah manusia sebagaimana nampak pada jiwa anak kecil yang selalu menuntut perhatian paling besar dari orangtuanya atau dari gurunya sebagaimana kisah Lina di atas.
Karena cemburu merupakan fitrah manusia, kisah percemburuan sudah muncul sejak adanya relasi cinta antar manusia di muka bumi ini. Sebagai contoh adalah kisah Nabi Ibrahim bersama isterinya.
Nabi Ibrahim bertempat tinggal di Baitul Maqdis selama 20 tahun dan selama itu pula ia tidak dikaruniai anak dari isterinya, Sarah. Sarah menyarankan agar Ibrahim mau menjalin hubungan dengan hamba sahaya perempuannya, Hajar, agar dikaruniai anak darinya.
Tatkala Sarah telah memberikan Hajar kepada Ibrahim, Hajar pun digaulinya hingga mengandung seorang anak (Ismail). Ketika Hajar melahirkan anaknya, Sarah menjadi cemburu. Kecembruan Sarah memuncak hingga meminta Ibrahim untuk menjauhkan Hajar dari padangannya. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail, yang masih menyusui, ke lembah Makkah yang terletak di Baitullah.
Penggalan kisah tersebut memberi beberapa pelajaran. Sarah cemburu kepada Hajar, karena kehadirannya dan anak yang dihasilkan darinya, menjadikan Ibrahim lebih cinta dan lebih perhatian kepada mereka. Sarah yang pada awalnya mendapatkan cinta dan perhatian utuh dari Ibrahim, semenjak kehadiran Hajar (dan Ismail), cinta ibrahim menjadi terbagi bahkan boleh jadi lebih besar cinta Ibrahim kepada Hajar.
Allah cemburu diduakan (dipersekutukan) cintanya karena memang Dia memiliki segala keagungan, sedangkan manusia cemburu diduakan cintanya lebih karena dorongan hawa nafsu. Maka wajar jika cemburu pada manusia berpotensi merusak dan menghancurkan. Betapa sering kita menyaksikan perseteruan, perkelahian, atau pembunuhan, yang didasari oleh motif cemburu.
Cemburu —yang merupakan fitrah manusia ini— harus dibimbing dengan wahyu agar tidak menimbulkan efek yang merusak. Boleh jadi benar bahwa tidak ada wanita yang ingin dimadu. Namun keinginan tersebut boleh jadi karena dominasi hawa nafsu saja. Jika Allah berkehendak lain seperti yang terjadi pada Sarah (isteri Nabi Ibrahim), atau pada Aisyah (isteri Rasulullah SAW), atau Aisha (isteri Fahri dalam novel “Ayat-ayat Cinta”), atau pada isteri lainnya yang suaminya menikah lagi semata-mata keridhaan Allah, maka dominasi cinta karena hawa nafsu itu harus dikalahkan oleh kecintaan kepada Allah demi menghilangkan rasa cemburu yang menghancurkan (cemburu buta).
Tidak ada yang cacat dari wahyu Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an, termasuk perintah untuk berpoligami. Allah adalah pencipta manusia dan paling memahami bagaimana gejolak jiwa yang terjadi pada dirinya dan paling memahami bagaimana mengarahkan gejolak jiwa itu pada potensi kebaikan. Yang cacat adalah jiwa-jiwa kita, yang kadang tidak memahami bagaimana memposisikan cinta pada tempat yang semestinya. Manusia cenderung menuruti hawa nafsu sehingga cenderung tidak bisa bersikap adil.
Cemburu adalah tanda cinta, tetapi belum tentu sebenar-benar cinta. Bila cemburu menderu di kalbu, hadirkan cinta Allah di seisi ruang hatimu. Maka kerugian dan kehancuran tidak akan menimpa hidupmu, justru kebaikan dan keselamatan akan selalu menyertaimu. Insya Allah.
Wallahu a’lamu bishshawab.
http://muhammadrizqon.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.