HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://ramadhan_adhi.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Programmer
Menjadi seseorang yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh orang lain adalah harapan saya. Untuk itu, mohon doanya sehingga bisa menggapainya harapan tersebut...
http://dik2.multiply.com
andhika.ramdhan
ramadhan_adhi
andhika.ramdhan@gmail.com
andhika.ramdhan@gmail.com
http://twitter.com/AndhikaRamdhan
Tulisan Dikdik Lainnya
Siapa Pun Bisa!
3 Februari 2010 pukul 15:00 WIB
Dari Mereka, yang Berbalik Kembali
22 Januari 2010 pukul 16:15 WIB
Do'a Sang Malaikat
14 Januari 2010 pukul 16:40 WIB
Setengah Sajadah
3 Januari 2010 pukul 16:50 WIB
Untukmu, Bidadariku
27 Desember 2009 pukul 18:05 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 18 Februari 2010 pukul 15:45 WIB

Aisyah Adinda Kita

Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan

Sebuah senandung lama dari grup vokal Bimbo yang bertajuk "Aisyah Adinda Kita" masih terasa seakan mengalun mengiringi langkah-langkah kaki. Lirik-lirik indah yang menggambarkan sebuah kepribadian muda wanita shalehah dambaan umat, wanita shalehah penerus dakwah, wanita shalehah yang terlahir dengan segudang prestasi, wanita shalehah yang pandai menjaga kecantikan diri dan hatinya, serta seorang wanita shalehah yang mampu menjadi tauladan bagi wanita-wanita lainnya, seakan terus menggema, mendengung-dengungkan sebuah harapan ummat.

Matahari pagi seakan mengintip dari sela dedaunan rindang di tengah pusat kota. Perlahan tiupan angin mengelus halus wajah ini, mengurai pagi memanjakan diri. Beberapa orang tampak lalu lalang dengan kesibukannya menuju tempat aktifitasnya kembali hari ini.

Empat orang gadis remaja berbusana putih dengan bawahan rok selutut berwarna abu, kira-kira berusia enam belas tahunan berdiri di tepian jalan sana. Sambil berbincang, sesekali mereka cekikikan. "Mungkin ada yang lucu dalam perbincangan mereka," gumamku dalam hati. Namun semakin lama, jujur aku merasa risih dengan perbincangan mereka, yang sesekali membuat mereka sampai tertawa lepas. Sesaat kemudian beberapa remaja pria seusianya yang juga mengenakan seragam yang sama menghampiri mereka. Tak ada rasa canggung, tak ada rasa risih, mereka seakan melebihi keakraban dengan seorang saudara. Wallahu a'lam, apakah ini hanya pikirku, aku tidak tahu.

Yang jelas, sosok seorang wanita muda yang cerdas, santun, serta terbalut dalam hijab diri maupun hatinya seperti yang tergambar dalam lirik-lirik indah senandung tadi, hilang dan lenyap begitu saja. Berubah seiring dengan perkembangan zaman yang katanya telah menjadikan tak ada lagi batas beda antara seorang pria dan wanita. Yang justru ternyata banyak orang salah kaprah memahaminya, dengan memaknai sebagai tak adanya perbedaan kebebasan dalam bertingkah dan berucap, bahkan bertindak. Padahal yang aku tahu, bahwa seorang wanita itu akan sangat dihormati bila ia mampu tampil dengan segala sisi kelembutan hati dan jiwanya, mampu menjaga sikap dan tingkah lakunya, serta menjaga dari apa yang melekat dalam diri yang telah Allah karuniakan kepadanya.

Aku teringat seorang bocah perempuan yang dulu pernah aku temui di sebuah taman bersama keluarganya. Dengan busana muslimah, ia sudah tampak sekali kecantikannya. Jujur, dengan sekali melihatnya pun, aku sudah bangga dan merasa tenang. Setidaknya kekhawatiran akan sebuah generasi Islam yang hilang, terkikis dalam pikirku saat itu. Namun sayangnya, justru ternyata itu hanya sebagian kecil dari sekian banyak generasi-generasi masa depan kita. Lebih banyak di antara kita yang menyenangi mereka, putri-putrinya, dengan berbagai jenis busana mini yang telah mengumbar auratnya. Memang, mereka masih kecil dan belum sepenuhnya mengerti atas batas norma sebuah susila. Namun, bukankah jika kita membiasakan mereka tampil seperti itu sama saja dengan kita memberikan satu kebiasaan kurang baik pada mereka? Bagaikan menyokong satu tindak yang justru suatu saat nanti akan merugikan pribadi dari kelembutan dan kesucian jiwa-jiwa mereka.

Yang pada akhirnya memang tidak heran jika pada masanya mereka tumbuh, hasilnya seperti sebagian dari empat orang gadis remaja yang sedang berdiri di tepian jalan tadi. Padahal jika kita sedikit me-replay kembali apa yang tersirat dalam alunan senandung tadi, bukankah memang benar, banyak di antara mereka yang berprestasi justru bermunculan dari kalangan wanita-wanita shalihah yang pandai menjaga diri dan jiwa mereka? Namun memang, meski dari balik itu semua ada rasa kecewa kita pada mereka yang seakan telah terbuai dalam kondisi zaman, yang senantiasa memanjakan dalam kemodernan. Tetap, kita tak bisa lepas tangan begitu saja. Meski memang mungkin terlambat. Namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Berusaha menyentuh hati-hati mereka agar kembali menemukan kesucian dan kemuliaan jiwa-jiwa mereka. Hingga saatnya nanti mereka mampu menjadi wanita-wanita yang shalihah dambaan ummat, yang darinya akan terlahir kembali generasi-generasi harapan masa depan. Merengkuh kembali mereka para Aisyah, karena andaikan ada sepuluh Aisyah yang belum ataupun sudah berpribadi muslimah, ataukah ada seratus Aisyah yang belum ataupun sudah berpribadi muslimah, ataukah ada seribu Aisyah yang belum ataupun sudah berpribadi muslimah, ataukah ada sejuta Aisyah yang belum atau mungkin sudah berpribadi muslimah, maka tetap, mereka adalah Aisyah adinda kita.

Wallahu a'lam bishshawab.

http://dik2.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1519 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels