|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|





Rabu, 17 Februari 2010 pukul 15:25 WIB
Penulis : Sus Woyo
Di Kedutaan Besar RI Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, ada sebuah kotak berkaca cukup besar. Kotak itu diletakan di kawasan ruangan yang sehari-harinya banyak orang Indonesia mengurus paspor. Sehingga nyaris setiap yang ke tempat itu akan melihatnya. Pada kotak tersebut tertempel tulisan berhuruf kapital berbunyi : KOTAK AMAL, UNTUK MEREKA YANG KURANG BERUNTUNG. Dan di dalam kotak tersebut, saya melihat ada beberapa lembaran uang ringgit Brunei. Tidak terlalu banyak memang.
Ketika pertama kali melihat, saya agak kaget juga. Mereka yang kurang beruntung? Begitu pertanyaan saya dalam hati. Namun lama-kelamaan, setelah sedikit paham dengan situasi di negeri yang terletak di ujung utara Kalimantan itu, ternyata memang banyak sahabat-sahabat kami, saudara-saudara kami warga RI, yang memang benar-benar kurang beruntung. Artinya, banyak dari mereka yang gajinya tak terbayar, larinya ke KBRI. Yang ada masalah dengan majikannya, seperti tak tahan dengan sikap galaknya dan mau pulang saja ke tanah air, sedang ia sendiri tak ada biaya, larinya juga ke tempat ini. Banyak, banyak masalah yang berkaitan dengan keuangan, akhirnya KBRI sebagai solusi akhir.
Bagi saya, keberadaan kotak tersebut tidaklah salah. Bahkan banyak sekali hal positif yang bisa kita peroleh dari keberadaan benda tersebut. Jika kita mau sedikit berpikir lebih dalam, kotak itu bukanlah sekedar kotak. Seandainya kotak itu hidup, maka benda tesebut akan melambai-lambai kepada siapa saja yang lewat agar mau mengisinya. Ya, untuk cepat-cepat menabung. Menabung untuk deposito akhirat. Atau paling tidak mengingatkan kita agar menyisihkan sebagian kecil dari rejeki kita.
Dan setelah kotak itu terisi, tentu saja tidak akan sia-sia atas keberadaan isinya. Tentu saudara-saudara kita 'yang kurang beruntung' dan terlunta-lunta di KBRI, akan cepat bisa diatasi. Sebab tidak mungkin segala sesuatu yang berhubungan dengan TKI, KBRI sebagai wakil pemerintah kita di luar negeri akan bisa menyelesaikannya.
Berkaitan dengan kotak amal tesebut, saya tidak akan melupakan keberadaan kotak amal di masjid desa saya. Tidak bisa melupakan karena peranannya yang begitu penting untuk urusan umat. Bahkan jika tidak berlebihan, saya sering dengan kawan-kawan menyebutnya 'nyawa' dalam mengembangkan dakwah di desa saya.
Bayangkan, kami dapat melaksanakan acara-acara hari-hari besar Islam setiap tahun sampai empat kali, sebagai syiar dakwah, atas adanya dana dari kotak amal masjid. Kami bisa mengistiqamahkan keberadaan TPA/TPQ juga atas adanya dana kotak amal itu. Kami bisa membantu jama'ah yang sakit, memberi bantuan pembangunan madrasah atau tempat ibadah lain, juga karena peranan kotak amal masjid. Dan sekali-sekali kami juga ikut menyumbang untuk dana solidaritas Islam internasional, walaupun itu sangat sedikit jumlahnya, itu juga karena adanya si kotak itu.
Kotak amal, yang dulu hanya terkenal di masjid-masjid saja, sekarang tidak malu-malu untuk bertengger di tempat lain. Mall, terminal, stasiun, dan tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang, saat ini mulai banyak menempatkan benda tersebut.
Kotak amal, tak sekedar kotak biasa, atau kotak ajaib, tapi bisa kita gunakan sebagai sarana untuk memupuk kebersamaan, memupuk ukhuwah antar sesama. Dan dari benda ini kita bisa menolong sesama tanpa terasa. Karena setiap kali kita mengisi, tak akan ada yang memaksa berapa jumlah nominalnya. Itu artinya kita menyumbang sebatas kemampuan kita.
Dan beberapa waktu lalu, saya mendapat informasi dari seorang teman yang bekerja di Hongkong, bahwa dari kotak amal yang mereka edarkan setiap minggu, sekarang sudah terkumpul dana cukup besar. Dan dana tersebut akan digunakan untuk membeli tanah dan akan dibangun gedung untuk kepentingan anak yatim. Luar biasa!
Dari kotak amal, kita bisa berbagi, bisa berdakwah, bisa memupuk ukhuwah, bisa beribadah, dan yang penting lagi memupuk persaudaraan. Bukankah kita semua adalah saudara? Dan Islam sudah menjelaskan, bahwa jika saudara kita sakit, maka kita pun harus merasakannya juga. Karena pada hakekatnya kita semua itu adalah satu tubuh.
Berawal dari melihat sebuah kotak amal, kemudian mengisinya, mudah-mudahan bisa menjadi sarana untuk memupuk persaudaraan, memupuk kebersamaan.
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.