Pelangi » Refleksi | Senin, 15 Februari 2010 pukul 15:06 WIB

Pertengkaran Kecil

Penulis : Setta SS

Sobat / Rangkaian masa yang tlah terlewat / Membuat batinku menangis / Mungkin karena egoku / Mungkin karena egomu / Maaf, aku buat begini / Maaf, aku begini / [1]

***

Seorang rekan di sebuah situs jejaring sosial yang memiliki fasilitas window chat komplain pada saya via private message. “Sekali-kali muncul di chat dong…,” begitu keluhnya. Saya pun menjawab diplomatis, “Senang sekali bisa saling bertegur sapa, namun saya khawatir sebagian di antara mereka justru akan kecewa karena sapaannya tidak tuntas. Karena saya keburu off lagi saat sebagian dari mereka masih asyik mengajak saya diskusi.”

Dan memang begitulah faktanya. Saya tidak sedang bersandiwara atau mencari-cari alasan asal-asalan.

Saya teringat sebuah insiden yang terjadi hampir dua tahun ke belakang. Saat itu fasilitas Yahoo Messenger (YM) masih menjadi primadona para aktivis dunia maya. Saya termasuk yang terimbas dampaknya karena hampir selalu membukanya saat online. Melihat account YM beberapa teman yang sedang on di belahan bumi entah di mana, selalu timbul keinginan saya untuk menyapa mereka. Pada yang sudah kenal akrab, bertukar kabar terkini. Yang baru pertama kali menyapa—saya sering mendapat request dari orang yang tidak saya kenal sebelumnya yang pernah membaca tulisan saya di beberapa portal online, saling bertukar identitas diri.

Pada tahapan awal itu memang baik dan bernilai positif. Silaturrahim dan menambah sahabat. Nah, yang menjadi pertanyaan kemudian ialah, dengan teman akrab yang hampir setiap hari ngobrol kira-kira kita mau bertukar info terkini tentang apa ya? Curhat online? Sejujurnya apa yang sering saya alami jika terus dilanjutkan untuk waktu sekian menit berikutnya setelah say hello, sudah tidak berbobot lagi output dari dialog yang tercipta. Kecuali memang ada agenda tertentu yang sudah dijanjikan sebelumnya.

Seperti sore itu, saya telah menjadi penyebab seorang teman yang ngobrol via YM menangis. Meski saya tidak tahu pasti kenapa dia menangis. Dugaan terkuat saya, penyebabnya tak lain adalah ucapan jujur saya yang tidak tepat sikonnya hingga terasa begitu menyakitkan olehnya. Mungkin.

Awalnya dia menyapa saya lebih dulu. Dan dialog-dialog kosong (baca : ngobrol ngalor-ngidul tak jelas) meluncur begitu saja setelahnya. Saya pun sadar sepenuhnya, namun terus saja merespon setiap kata dan kalimat yang tertera di layar YM saya. Hingga akhirnya jemari saya mengetikkan kalimat, “Sorry, I think it’s always a useless dialog created between you and me. So, please stop till here, okay?”

Teman chat saya membalas, “You’ve broken my afternoon for twice.” Dan kalimat-kalimat susulan yang mendeskripsikan bahwa dia benar-benar sedang menangis saat itu.

Ah! Sebegitu kejamkah diri ini?

Sedih / Bila kuingat pertengkaran diriku / Membuat jarak antara kita / Resah tiada menentu / Hilang canda tawamu / Tak ingin aku begini / Tak ingin begini / [2]

Satu hal yang membuat saya merasa tidak enak setelahnya, bisa jadi apa yang dialami teman saya itu hanyalah puncak dari gunung es yang menyeruak ke permukaan saja. Yang di bawahnya mungkin ada banyak sekali orang-orang yang sesungguhnya sakit hati karena ucapan saya. Tetapi mereka hanya diam dan berusaha menelannya bulat-bulat tanpa berani jujur mengungkapkannya. Karena kadang tanpa saya sadari sepenuhnya, banyak pertanyaan mereka yang saya acuhkan atau sengaja tidak membalasnya. Dan sangat boleh jadi akan membuat mereka kecewa tanpa sepengetahuan saya.

Bila ingat kembali / Janji persahabatan kita / Tak kan mau berpisah karena ini / Pertengkaran kecil kemarin / Cukup jadi lembaran hikmah / Karena aku, ingin tetap sahabatmu / [3]

Begitulah yang terjadi sesungguhnya. Mengapa saya jarang sekali mengaktifkan window chat pada situs jejaring sosial yang memiliki fasilitas itu atau lebih memilih invisible saja saat membuka account YM saat ini. Karena saya khawatir menyakitimu tanpa saya menyadarinya, Sahabat.

***

13 Desember 2oo9 o6:o4 a.m.

Judul artikel dan [1], [2], [3] dikutip dari judul dan lirik nasyid Pertengkaran Kecil (edCoustic)

KotaSantri.com © 2002-2012