Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."

Pelangi » Refleksi

Selasa, 9 Februari 2010 08:16

Masih Kau Dekap Aku dalam Cinta

Penulis : Ferry Hadary

Waktu cepat berlalu, tak terasa hampir tengah malam. Segera bergegas pulang agar tak ketinggalan kereta. Suasana stasiun masih tampak ramai dengan orang-orang Jepang yang baru saja pulang bekerja. Mereka memang terbiasa bekerja keras, tak peduli siang ataupun malam. Terlihat semua rapih berbaris membentuk tiga barisan setiap kelompoknya. Saat kereta tiba, mereka pun dengan tertib masuk tanpa harus rebutan setelah penumpang di dalam keluar.

Fuih...
Setiap gerbong penuh sesak dengan manusia, bercampur baur dengan segala aroma. Tampak mereka asyik dengan kesibukannya, membaca atau bermain game di telepon genggam. Beberapa anak muda berambut pirang dengan asyik menggoyang-goyangkan kepala, mengikuti irama musik dari earphone yang tergantung di telinganya. Aih... aih... di pojok sana juga terlihat sepasang muda mudi yang sedang berpelukan dengan mesra.

Ups...!!!
Tidak semuanya tampak manis. Beberapa orang matanya tampak merah, kadang meracau tak karuan. Mereka menumpukan tubuhnya pada tsurikawa yang banyak bergelantungan, berayun-ayun mengikuti laju kereta. Hmm... aroma alkohol pun meruap dari celah-celah giginya. Kadang terlihat tatapan nanar mata kosong itu memandang sekelilingnya. Namun bola mata itu berhenti saat melihat seorang josei-shain. Matanya yang sipit membesar seperti serigala yang hendak melahap mangsa. Beberapa orang terlihat berusaha menghindar, namun ada juga yang tak peduli dengan tingkah polahnya.

Syukurlah, tiba saatnya harus ganti kereta. Lalu aku segera ke luar di sebuah stasiun untuk menunggu kereta berikutnya. Sepasang kakiku pun berjalan-jalan sekedar mengusir rasa dingin dan bosan.

Huwaaa...!!!
Hampir saja kaki menginjak bekas muntahan. Iih... jorok dan langsung menghindar. Tak beberapa jauh kembali berteriak tertahan, bekas muntahan, tampak tercecer di mana-mana.

Hoek... hoek...!!!
Grmhhh..., itu biang keladinya. Ternyata mereka tak hanya membuat resah di gerbong kereta, namun ada pula di mana-mana. Terlihat ia terbaring di deretan kursi plastik, dikelilingi bekas muntahan isi perutnya yang masih tampak basah. Kembali ia muntah, hingga tak urung mulut, leher, serta jas yang tampak mahal itu juga berlepotan. Tak ada yang peduli, hanya tatapan jijik.

"Kare ha sake o nomisugite, haita," gumam seorang wanita paruh baya, lalu bersikap apa adanya.

Aku beranjak pergi dan menatapnya dari kejauhan. Namun angin membawa sisa makian ke telinga ketika beberapa petugas stasiun menghampiri dan berusaha mengangkutnya. Entah apa yang dikatakan, tapi yang pasti ia tampak meronta-ronta, dan angin kembali menerbangkan makiannya ke segala arah.

Pikiranku melayang-layang, teringat kisah seorang ahli ibadah yang pernah diceritakan khalifah Utsman bin Affan radiyallahu 'anhu dalam sebuah khutbahnya. Seorang lelaki shaleh yang selalu tekun beribadah ke mesjid, hingga tibalah suatu hari ia berkenalan dengan wanita cantik. Sang abid pun jatuh hati, tunduk pada setiap perintah, lalu minum khamr yang dikiranya hanya berdosa kecil daripada berzina atau membunuh bayi. Ia akhirnya mabuk, hilang akal, dan lupa diri sehingga berzina dengan wanita cantik serta membunuh bayi yang tak berdosa itu.

Karenanya sang khalifah pun berpesan,
"Jauhilah khamr, karena minuman itu adalah biang keladi segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ingatlah, iman dan khamr tak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu di antaranya harus ke luar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan hingga akhir hayatnya, ia akan kekal di neraka."

"Mamonaku densha ga mairimasu, abunai desu kara gochuui kudasai..."

Ups...!!!
Terdengar pemberitahuan bahwa kereta akan segera tiba. Aku pun segera antri dan berdesak-desakan kembali. Dari balik kaca jendela, kulihat ia masih tampak meronta-ronta, bahkan mengibaskan tas kerja ke mana-mana. Marah kepada orang-orang yang mengerumuninya.

Seiring laju kereta yang membawaku semakin jauh, dalam hati aku berkata,

"Duuh... Allah, tak berhingga syukur kepadaMu, karena masih Kau dekap aku dalam cinta."

ALlahu a'lam bish-shawab.

Catatan
- Tsurikawa : Tali yang ujungnya ada gelang untuk bergantung.
- Josei-shain : Karyawati
- Kare ha sake o nomisugite, haita. : Laki-laki itu terlalu banyak minum sake sehingga muntah.
- Mamonaku densha ga mairimasu, abunai desukara gochuui kudasai. : Karena berbahaya, berhati-hatilah, kereta akan segera tiba.

* Tulisan ini telah dimuat di buku Diary Kehidupan 2, Penerbit Asy-Syaamil Bandung dengan judul Syukur

Dari Redaksi : Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ferry Hadary
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir dalam ...
Karya Ferry Hadary
 Karya Lainnya
08-03-2010 10:45
27-02-2010 13:45
26-02-2010 09:30
24-02-2010 08:00
22-02-2010 11:16
 Karya Populer
Tautan Terkait
 Pelangi » Refleksi
08-02-2010 09:55
Penulis : Setta SS
07-02-2010 08:05
Penulis : Eko Prasetyo
06-02-2010 09:15
Penulis : Muhammad Rizqon
05-02-2010 08:30
Penulis : Nurudin
04-02-2010 09:45
Penulis : Nurfaridah
Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.

Jilbab & Busana Muslim Anak & Remaja
Kami jual grosir Jilbab & Busana Muslim Anak & Remaja, Bahan kaos yg berkualitas sehingga nyaman untuk anak. Diskon s/d 35%, dpt di retur dengan model /size lainnya. Hub.Nurul Hidayati, HP.085859486496 Jl Arjuna II No.6 Triwung Lor-Probolinggo

Bahts el amal
Ana lagi nyari proyek terjemahan buku dari bahasa arab ke indonesia.Bagi temen2 yang punya relasi atau yang membutuhkan bantuan, ana siap berbagi kemampuan insyaallah.

Iklan  |  Jejaring  |  Kontak  |  Kru  |  Penulis  |  Profil  |  Sangkalan  |  Santri Peduli  |  Telusur  |  Testimoni
KotaSantri.com © 2002 - 2009
Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels