QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."

Pelangi » Refleksi

Ahad, 7 Februari 2010 08:05

Gaji Saya Kecil, Pak!

Penulis : Eko Prasetyo

Seorang rekan wartawan meliput penggerebekan kurir narkoba di wilayah Surabaya Selatan akhir Januari lalu. Kebetulan, saya mengedit naskah berita tersebut. Menurut saya, saya rugi besar kalau hanya mengedit tanpa bisa mengambil hikmah di setiap berita yang saya sunting.

Kurir narkoba itu berperawakan tinggi kurus. Usianya 35 tahun. Belum terlalu tua, tapi juga tidak terlalu muda. Seperti kebanyakan penjahat yang tertangkap, pelaku itu selalu beralasan di balik aksinya. Ada yang beralasan terpaksa merampok karena kepepet utang. Semuanya bermuara pada ekonomi.

Saat diinterogasi polisi, si pelaku mengatakan terpaksa menjadi kurir narkoba untuk menjaga dapur tetap mengepul. "Gaji saya kecil, Pak!" ujarnya kepada penyidik.

Tentu saja, polisi tak langsung percaya dengan alasan klasik itu. Ya, si pelaku mengaku sehari-hari bekerja sebagai pelayan toko. Dari pekerjaan tersebut, keringatnya dibayar tak sampai Rp. 600 ribu tiap bulan. Tentu, jumlah tersebut amat kecil untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup di kota besar seperti Surabaya.

Karena itu, dia mengaku terpaksa nyambi jadi kurir narkoba karena tergiur dengan keuntungannya. Untuk sekali kirim sabu-sabu, misalnya, dia mendapatkan jatah Rp. 50 ribu sampai Rp. 100 ribu.

***

Saya pernah menjadi relawan di salah satu lembaga di bawah naungan Pemprov Jatim. Saya dikontrak selama enam bulan. Tiap bulan saya diberi uang lelah Rp. 100 ribu. Saya tak mengeluh. Meski, jumlah itu amat sangat kecil tentunya.

Tugas saya adalah memberikan santunan kepada warga dhuafa (miskin) dari para donatur. Saya senang dan menikmati pekerjaan sebagai relawan tersebut. Sebab, banyak ilmu dan hikmah bertemu dengan banyak orang dhuafa.

Bicara soal honor Rp. 100 ribu itu, lantas apa cukup bagi saya segitu? Tentu saja tidak. Meski demikian, saya mencoba untuk tidak mengeluh. Saat berada dalam kondisi terpepet (baca : pegang uang minim), kita tak boleh hanya mengeluh. Tapi, kita juga dituntut untuk bisa mengatasi masalah itu.

Sebenarnya, saya tak mutlak dapat honor Rp. 100 ribu. Sebab, tiap kali mengantarkan bantuan dari pemprov, saya mendapatkan uang bensin. Saya bersyukur karena Allah menganugerahi tangan ini bisa menggores pena dan menerjemahkan tiap peristiwa. Jadilah saat itu saya nyambi menulis artikel di beberapa surat kabar dan majalah. Alhamdulillah, terkadang ada satu dua artikel saya yang "nongol".

Selain itu, saya menuliskan banyak pengalaman dari pertemuan dengan warga dhuafa yang juga dimuat di salah satu media. Bermula dari situ, kumpulan tulisan tersebut akhirnya bisa jadi buku. Alhamdulillah, dapat fulus lagi.

Saya yakin, betapa pun kecil penghasilan kita, jika disyukuri, tentu berkahnya akan bertambah. Sebab, jika menilai dari nominal, tentu angka Rp. 700 ribu tiap bulan yang saya dapat saat itu masih kurang. Jumlah tersebut didapat dari honor sebagai relawan dan tulisan yang termuat tiap bulan. Apalagi jika mendasarkan pada sifat manusia yang tak pernah puas.

Dalam kesempatan lain, saya dibikin terheran-heran dengan pengalaman seorang teman. Gajinya tak sampai satu juta rupiah tiap bulan. Istrinya membantu keuangan rumah tangga dengan menjadi penjahit. Rata-rata join income mereka tak sampai Rp. 2 juta. Namun, jumlah tersebut ternyata bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka dan dua putra mereka yang menginjak usia TK. Saat saya tanya resep pengelolaan keuangannya, dia menjawab, bersyukur!

***

Kurir narkoba tadi mungkin salah satu di antara sekian banyak orang yang terjebak pada rasa kurang puas. Memang, ketimpangan sosial di negeri kita sangat kentara. Sehingga, itu memungkinkan munculnya kriminalitas akibat sempitnya lapangan kerja.

Namun, kesulitan tak lantas dan tak pantas dijadikan alasan pembenar untuk bertindak kriminal. Deraan masalah tidak harus membuat kita lemah dan menyerah. Kita justru dituntut untuk bisa mengatasinya dengan berbagai solusi. Jika merasa sulit, lantas apa fungsi otak dan tubuh yang merupakan anugerah Allah terbesar ini?

Wallahu a'lam bishshawab.

Dari Redaksi : Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko Prasetyo
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa ...
Karya Eko Prasetyo
 Karya Lainnya
10-03-2010 08:16
03-03-2010 08:15
21-02-2010 08:00
28-01-2010 09:11
17-01-2010 08:35
 Karya Populer
Tautan Terkait
 Pelangi » Refleksi
06-02-2010 09:15
Penulis : Muhammad Rizqon
05-02-2010 08:30
Penulis : Nurudin
04-02-2010 09:45
Penulis : Nurfaridah
03-02-2010 08:00
02-02-2010 08:51
Penulis : Sus Woyo
Mundzakir | Teknisi Printer
Wah, udah beberapa tahun ane gak masuk KSC, sampe lupa account lama, akhirnya buat lagi. Tapi sekarang fasilitasnya dahsyat.

Jilbab & Busana Muslim Anak & Remaja
Kami jual grosir Jilbab & Busana Muslim Anak & Remaja, Bahan kaos yg berkualitas sehingga nyaman untuk anak. Diskon s/d 35%, dpt di retur dengan model /size lainnya. Hub.Nurul Hidayati, HP.085859486496 Jl Arjuna II No.6 Triwung Lor-Probolinggo

Bahts el amal
Ana lagi nyari proyek terjemahan buku dari bahasa arab ke indonesia.Bagi temen2 yang punya relasi atau yang membutuhkan bantuan, ana siap berbagi kemampuan insyaallah.

Iklan  |  Jejaring  |  Kontak  |  Kru  |  Penulis  |  Profil  |  Sangkalan  |  Santri Peduli  |  Telusur  |  Testimoni
KotaSantri.com © 2002 - 2009
Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels