HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."

Uji Coba Versi Baru

Saran dan masukan silahkan disampaikan melalui Form Kontak.
Alamat Akun
http://muhammadrizqon.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 06:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Konsultan
http://muhammadrizqon.multiply.com
rizqon.ak@gmail.com
Tulisan Muhammad Lainnya
Bersabar dari yang Haram
25 Januari 2010 pukul 08:45 WIB
Dicinta Karena Bersahaja
15 Januari 2010 pukul 09:25 WIB
Pesan Ajal di Pesta Pernikahan
4 Januari 2010 pukul 09:25 WIB
Melejitkan Potensi Kebaikan
19 Desember 2009 pukul 09:25 WIB
Semoga Ia Telah Bertaubat
9 Desember 2009 pukul 09:19 WIB
Santri
Rozaqiyah Puspita
Operator Warnet
Bengkulu
syamsul ma'arif
mahasiswa
Yogyakarta
wawan setiawan
guru
surabaya
Forum
Suara
septyawaty : Mau tanya dong maksud dari: "oleh sebab itu , barang siapa yang menyerang kamu,maka seranglah mereka sebagaimana mereka menyerang kamu" (Al-Baqarah ;194)
gerhana : pagi ini mnyenangkan..... +++++ alhamdulillah.... g percuma masak air pagi2
ida : Aku kotor...bagai kertas bernoda yg penuh debu.."aku sibuk membicarakan kekurangan org lain namun lalai atas kekuranganku"
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 09:15 WIB

Masjid, Aku Datang

Penulis : Muhammad Rizqon

Dari masjid kudengar adzan. Dari masjid kudengar qur’an.
Dari masjid kudengar puji. Bagi Allah Ilahi Rabbi
Masjid masjid aku datang. Damai tentram di kalbu
Di dalammu kurasakan. Belai kasih Ilahi

Dua bait lagu vokal anak-anak “Alif” itu tiba-tiba muncul dari alam bawah sadar saya. Sering muncul tatkala saya menginjakkan kaki, mengayun langkah, dan menelusuri lorong menuju masjid.

Ada beberapa pembenaran kenapa lirik lagu itu melekat dalam memori benak saya. Pertama, saya pernah menjadi guru TPA dan menyukai lirik lagu anak-anak untuk saya ajarkan kepada santriwan-santriwati. Kedua, lirik lagu tersebut diciptakan oleh orang yang cukup saya kenal karena beliau bertetangga dengan saya. Dia adalah ibu Dedeh Asfirayhani. Ketiga, lirik tersebut mengingatkan saya tentang urgensi masjid sebagai basis pembentukan pribadi dan ummat. Saya teringat pada shirah Nabi SAW, tatkala beliau sampai di Madinah dalam perjalanan hijrahnya, yang beliau perhatikan dan bangun pertama kali adalah masjid. Empat, saya teringat akan salah satu rahasia para mujahidin Palestina yang gagah berani, yakni tiada pernah absen menghadiri shalat Subuh berjama'ah. Dan masih banyak lintasan-lintasan tentang rahasia masjid yang makin membuat saya berantusias untuk selalu mendatanginya. Saat-saat adzan adalah saat-saat yang saya rindukan. Wajarlah jika Software Athan dan prayer time menjadi software yang wajib dibenamkan dalam notebook atau handphone saya.

***

Saat kuliah di semester 5, saya mulai membina TPA di dekat kampus. Saya banyak belajar dari tingkah polah anak-anak yang masih polos dan suci itu. Hati mereka lembut, maka saya juga harus mendekati mereka dengan bahasa yang lembut. Dalam mengutarakan sesuatu, saya harus berbicara tegas dan semangat, agar mereka menangkap pesan yang saya sampaikan. Contohnya waktu menguraikan keutamaan shalat berjama'ah di masjid, saya menyitir kisah sahabat Rasulullah yakni Ummi Maktum yang tidak diberi keringanan untuk tidak mendatangi masjid walaupun kondisinya lemah dan dan jalannya tertatih-tatih. Bukan Rasulullah SAW tidak kasihan terhadap seorang tua yang buta, tetapi karena Allah SWT memerintahkan demikian, karena di balik itu terdapat keutamaan yang sangat besar. Bahkan Rasul SAW bersabda seandainya ummatku tahu tentang pahala shalat ‘Isya berjama'ah, tentu ia akan berusaha memenuhi seruanNya walau harus dengan merangkak. Ini adalah suatu gambaran, jika orang mengetahui keutamaan menghadiri masjid, dia pasti akan berusaha menghadiri sekuat daya.

Apa yang saya ajarkan kepada anak-anak itu, sangat pas dengan lirik lagu yang dicipta Ibu Dedeh tetangga saya. Ibu Dedeh berasal dari keluarga yang memiliki darah seni. Daya appresiasi seninya cukup tinggi dan itu menurun kepada putra-putrinya. Salah satu yang saya kagumi dari Ibu Dedeh, beliau adalah seorang ibu. Sebagai seorang ibu tentu shalat berjama'ah di masjid tidak diwajibkan sebagaimana kaum laki-laki. Namun beliau mampu menyelami hati-hati yang terikat dengan masjid, yaitu rasa tentram dan rasa dibelai oleh Rabb yang Maha Rahman Ar-Rahim. Ungkapan kata “belai” memang tidak salah, karena Allah itu Maha Penyayang, Dia sayang kepada hambanya melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya.

Tautan hati kepada tokoh Bu Dedeh dan Liriknya itu , semakin kuat ketika saya bertemu suami beliau, yakni Hasan Ali, yang juga mencintai masjid. Beliau yang kini sudah pensiun dari kantornya, makin menyibukkan diri dalam upaya pemakmuran masjid di kompleks kami. Saya masih ingat betapa ghirahnya beliau saat mengikuti daurah memakmurkan masjid yang diselenggarakan oleh LPPDI Khairu Ummah Jakarta. Beliau bertambah termotivasi ketika penceramah menguraikan keutamaan-keutamaan mendatangi dan memakmurkan masjid, antara lain : Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah dan menunaikan salah satu shalat yang difardhukan Allah, maka salah satu dari kedua langkahnya menggugurkan dosanya dan langkah lain meninggikan derajat. Barangsiapa yang berpagi hari dan berpetang hari menuju ke masjid, maka Allah akan menyediakan baginya sebuah tempat tinggal di dalam surga. Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (‘Isya dan Subuh berjama’ah) niscaya masuk surga. Orang-orang yang melewatkan shalat Ashar, sama nasibnya dengan orang yang ditinggalkan keluarga dan harta bendanya.

Bapak Hasan Ali pernah mengatakan bahwa dirinya sudah menjelang senja. Umur yang tersisa ingin beliau abdikan untuk selalu mendatangi masjid, mencari ketentraman di dalamnya, menghidupkan suasananya, dan mengalunkan bait-bait do'a agar diberikan khusnul khatimah.

***

Kadang kita menyaksikan banyak orang yang memilih mengakhirkan shalat dari waktu yang semestinya dengan tidak berjama'ah di masjid. Mereka lebih suka shalat di bilik kantor atau di pojok-pojok ruangan sendiri-sendiri. Adanya satu masjid besar dan pojok-pojok mushala yang bertebaran sekitarnya, seakan menggambarkan keengganan elemen ummat untuk bersatu dalam satu jama'ah. Mereka lebih menyukai kesendirian dan keterpisahan. Demikian juga kita menyaksikan orang-orang yang menghadiri masjid pada akhir waktunya, mereka lebih suka shalat sendiri-sendiri dibanding membentuk satu jama’ah. Yang lebih miris lagi, jika sudah ada satu jama'ah yang melaksanakan shalat, mereka justru membentuk jama'ah baru. Padahal hal ini sangat tidak dibenarkan dalam tata cara shalat berjama'ah di masjid.

Itulah kondisi ummat kita. Sangat tercermin dalam sikap-sikapnya terhadap masjid. Apakah mereka tidak paham? Bisa jadi, iya. Tetapi kini adalah era informasi di mana orang bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Apakah mereka punya persepsi salah tentang masjid? Bisa jadi, iya. Karena kesalahan ini tidak lepas dari strategi musuh untuk mengendorkan ummat dari ikatan-ikatannya.

Ulama berkata bahwa suatu dakwah yang menyeru manusia kepada Allah, jika ingin istiqamah, diharuskan mendekat ke pintu istiqamah itu sendiri, sedangkan jalan masuk kepadanya ialah melalui mihrab (masjid). Sesungguhnya semua kebaikan itu hanya dapat diraih dari kebiasaan mendatangi masjid.

Semoga kita diberi keistiqamahan mendatangi masjid. Amin.

Wallahu a’lamu bishshawab.

--- Suka ---

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
PROF | Clothing Designer
Sukses bwat KOTASANTRI.COM ...
KotaSantri.com © 2002 - 2010
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1157 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels