Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."

Uji Coba Versi Baru

Saran dan masukan silahkan disampaikan melalui Form Kontak.
Alamat Akun
http://permata.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 06:00 WIB
Domisili
sigli - nanggroe aceh darussalam
Pekerjaan
ibu rumah tangga
http://ridhakemuning.blogspot.com
ridhakemuning
Tulisan Nurfaridah Lainnya
Religiusitas Menurun
28 Januari 2010 pukul 11:55 WIB
Masa Depan Crazy
24 Januari 2010 pukul 08:15 WIB
Do'a Cinta Kita
4 Januari 2010 pukul 11:35 WIB
Layak Menerima Titipan
25 Desember 2009 pukul 09:00 WIB
Takut Fitnah Karena Berjilbab
30 Agustus 2009 pukul 10:00 WIB
Santri
imam toyib
motivator
CILEGON
Wachyu Djunaedhy
Pendidik
Pasuruan
Ay Maryani
Karyawati
Tangerang
Forum
Suara
dedy : "Whai orang-orang beriman, brsabarlah kmu dan tngkatkan ksabaranmu. Llu brtahanlah dg ksabaranmu, dan brtakwalah kpda Allah agr kmu bruntung".(Q.S. Ali Imran: 200).
Artinya Sabar itu tak trbatas. Tanamkn kuat2 di hati kita...
senja : menunggu..
septyawaty : "..maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik,maka pahalanya atas tanggungan Allah.."(Qs.As-Syura(42):40)
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 4 Februari 2010 pukul 09:45 WIB

Sebulan Tanpa Gaji

Penulis : Nurfaridah

Mungkin suamiku adalah satu dari sekian banyak orang yang hanya menggantungkan pendapatan dari satu sumber rizki. Apalagi model gaji bulanan, dimana setiap tanggal muda adalah tanggal kebahagiaan yang dinanti-nanti. Tapi bagaimana bila ternyata gaji yang ditunggu tidak datang-datang. Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan sampai akhir bulan gaji tidak kunjung datang. Lembaran-lembaran yang diharap mampu memenuhi kebutuhan hidup, agar periuk tetap terus mengepul, lembaran itu tak kunjung datang. Gaji tidak diberi.

Aku yakin Allah dengan sifat yang Rahman dan Rahim-nya akan tetap mengaruniai kami rejeki. Karena rejeki itu sendiri tidak hanya berupa lembaran mata uang yang mampu membeli apa saja, bahkan harga diri sekalipun. Kesehatan adalah nikmat terbesar, dimana dengan badan yang sehat, suamiku masih mampu mengais lembaran uang dari jalan yang lain meski dengan jalan yang tidak mudah, tapi tetap yang halal. Halal adalah tujuan utamanya dalam mencari rizki. Bukankah Rasul sendiri pernah mengingatkan kita agar menjaga dari memakan makanan yang haram?

Dari Abi Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar, maka ia telah terjerumus ke dalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, maka hampir-hampir dia terjerumus ke dalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Allah apa-apa yang diharamkanNya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebulan tanpa gaji, bagiku adalah menempuh hari-hari yang sulit. Sedangkan aku sendiri tidaklah bekerja, aku hanya ibu rumah tangga biasa yang menghabiskan hari-hari di rumah dengan putriku yang masih kecil.

Hari-hari pertama tidaklah begitu berat, semua masih bisa diatasi dengan uang sisa belanja bulan kemarin. Mungkin kalau untuk aku dan suami, hal ini (kekurangan uang) adalah hal yang sangat sering kami alami saat sebelum menikah (mahasiswa). Kekurangan uang biasa diatasi dengan mudah. Ibarat makan nasi dengan garam saja sudah enak dan mengenyangkan.

Tapi untuk kali ini, sesekali aku tak dapat menahan air mataku yang merembes meski tak banyak, karena aku mencoba menahannya agar tak diketahui oleh suamiku bahwa aku menangis. Aku takut ia akan merasa sangat bersalah dan sedih atas ketiadaan ini. Bagaimana aku tidak menangis melihat putri kami harus mengganti isi botol susunya dengan air gula. Aku merasa bersalah dan berdosa. Memang si kecil masih minum ASI, tapi itu saja tak cukup karena ia masih sering menangis. "Maafin umi ya, neuk?" demikian pesanku padanya saat memberikan botol susunya yang berisi air gula itu.

Tidak hanya itu, beberapa pagi aku tak sanggup membelikan ia kue untuk sarapan, karena jika pagi, putriku tidak suka nasi dan memang ia sedikit susah makan. Sedangkan aku, yang biasa sarapan pagi harus dengan nasi karena masih menyusui, harus menunda sarapan. Aku hanya menghemat agar ada makanan untuk siang dan malam. Tapi dasar memang aku yang sering sakit-sakitan ini, tidak sanggup jika pagi tak makan nasi. Selama tiga hari akhirnya aksiku harus aku akhiri, karena keesokan malam aku menderita sakit perut hebat.

Meski dalam kondisi demikian, aku masih berfikir bahwa bebanku ini belumlah seberapa. Masih banyak lagi di sudut-sudut dunia yang lebih menderita dari kami, bahkan lebih menderita dari apa yang kami alami ini. Kisah ini hanyalah setitik dari beribu dan berjuta kisah pilu saudara-saudara kita di Gaza.

Biarlah sebulan tanpa gaji ini adalah pembelajaran bagi kami agar dapat lebih mendekat padaNya. Mempertajam indera kami untuk melihat sisi lain kehidupan dan lebih membuat hati kami menjadi kian peka atas penderitaan orang-orang yang kurang beruntung.

--- Suka ---

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Indahnya Kemiskinan
Ahad, pukul 08:30 WIB
Rasa Ini, Meluruhlah
Senin, pukul 12:25 WIB
Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.
KotaSantri.com © 2002 - 2010
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1163 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels