HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://permata.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
sigli - nanggroe aceh darussalam
Pekerjaan
ibu rumah tangga
http://ridhakemuning.blogspot.com
ridhakemuning
Tulisan Nurfaridah Lainnya
Religiusitas Menurun
28 Januari 2010 pukul 18:55 WIB
Masa Depan Crazy
24 Januari 2010 pukul 15:15 WIB
Do'a Cinta Kita
4 Januari 2010 pukul 18:35 WIB
Layak Menerima Titipan
25 Desember 2009 pukul 16:00 WIB
Takut Fitnah Karena Berjilbab
30 Agustus 2009 pukul 17:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 4 Februari 2010 pukul 16:45 WIB

Sebulan Tanpa Gaji

Penulis : Nurfaridah

Mungkin suamiku adalah satu dari sekian banyak orang yang hanya menggantungkan pendapatan dari satu sumber rizki. Apalagi model gaji bulanan, dimana setiap tanggal muda adalah tanggal kebahagiaan yang dinanti-nanti. Tapi bagaimana bila ternyata gaji yang ditunggu tidak datang-datang. Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan sampai akhir bulan gaji tidak kunjung datang. Lembaran-lembaran yang diharap mampu memenuhi kebutuhan hidup, agar periuk tetap terus mengepul, lembaran itu tak kunjung datang. Gaji tidak diberi.

Aku yakin Allah dengan sifat yang Rahman dan Rahim-nya akan tetap mengaruniai kami rejeki. Karena rejeki itu sendiri tidak hanya berupa lembaran mata uang yang mampu membeli apa saja, bahkan harga diri sekalipun. Kesehatan adalah nikmat terbesar, dimana dengan badan yang sehat, suamiku masih mampu mengais lembaran uang dari jalan yang lain meski dengan jalan yang tidak mudah, tapi tetap yang halal. Halal adalah tujuan utamanya dalam mencari rizki. Bukankah Rasul sendiri pernah mengingatkan kita agar menjaga dari memakan makanan yang haram?

Dari Abi Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar, maka ia telah terjerumus ke dalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, maka hampir-hampir dia terjerumus ke dalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Allah apa-apa yang diharamkanNya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebulan tanpa gaji, bagiku adalah menempuh hari-hari yang sulit. Sedangkan aku sendiri tidaklah bekerja, aku hanya ibu rumah tangga biasa yang menghabiskan hari-hari di rumah dengan putriku yang masih kecil.

Hari-hari pertama tidaklah begitu berat, semua masih bisa diatasi dengan uang sisa belanja bulan kemarin. Mungkin kalau untuk aku dan suami, hal ini (kekurangan uang) adalah hal yang sangat sering kami alami saat sebelum menikah (mahasiswa). Kekurangan uang biasa diatasi dengan mudah. Ibarat makan nasi dengan garam saja sudah enak dan mengenyangkan.

Tapi untuk kali ini, sesekali aku tak dapat menahan air mataku yang merembes meski tak banyak, karena aku mencoba menahannya agar tak diketahui oleh suamiku bahwa aku menangis. Aku takut ia akan merasa sangat bersalah dan sedih atas ketiadaan ini. Bagaimana aku tidak menangis melihat putri kami harus mengganti isi botol susunya dengan air gula. Aku merasa bersalah dan berdosa. Memang si kecil masih minum ASI, tapi itu saja tak cukup karena ia masih sering menangis. "Maafin umi ya, neuk?" demikian pesanku padanya saat memberikan botol susunya yang berisi air gula itu.

Tidak hanya itu, beberapa pagi aku tak sanggup membelikan ia kue untuk sarapan, karena jika pagi, putriku tidak suka nasi dan memang ia sedikit susah makan. Sedangkan aku, yang biasa sarapan pagi harus dengan nasi karena masih menyusui, harus menunda sarapan. Aku hanya menghemat agar ada makanan untuk siang dan malam. Tapi dasar memang aku yang sering sakit-sakitan ini, tidak sanggup jika pagi tak makan nasi. Selama tiga hari akhirnya aksiku harus aku akhiri, karena keesokan malam aku menderita sakit perut hebat.

Meski dalam kondisi demikian, aku masih berfikir bahwa bebanku ini belumlah seberapa. Masih banyak lagi di sudut-sudut dunia yang lebih menderita dari kami, bahkan lebih menderita dari apa yang kami alami ini. Kisah ini hanyalah setitik dari beribu dan berjuta kisah pilu saudara-saudara kita di Gaza.

Biarlah sebulan tanpa gaji ini adalah pembelajaran bagi kami agar dapat lebih mendekat padaNya. Mempertajam indera kami untuk melihat sisi lain kehidupan dan lebih membuat hati kami menjadi kian peka atas penderitaan orang-orang yang kurang beruntung.

http://ridhakemuning.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1106 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels