QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Sang Guru
17 Januari 2010 pukul 15:35 WIB
Celana Jins dan SMS dari Istri
7 Januari 2010 pukul 15:40 WIB
Indahnya Ikhlas
27 Desember 2009 pukul 15:20 WIB
Guru Sampah
17 Desember 2009 pukul 16:00 WIB
Yang Terdalam
6 Desember 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 28 Januari 2010 pukul 16:11 WIB

Warisan Terbaik

Penulis : Eko Prasetyo

Long life education. Mungkin kita tak asing lagi dengan pepatah asing itu. Pendek, hanya terdiri atas tiga kata. Namun, maknanya sangat dalam. Yakni, belajar sepanjang hayat.

Saya mendengar kalimat tersebut untuk kali pertama pada saat duduk di bangku SMP. Kalimat tersebut meluncur dari bibir guru kami untuk memotivasi kami dalam belajar.

Ya, belajar memang tak boleh berhenti pada satu titik atau masa. Belajar tak mengenal muda atau tua. Bahkan, belajar tak dibatasi oleh usia. Islam sendiri mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu.

”Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama?” (QS. At-Taubah : 122).

”Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam.” (HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi dari Anas bin Malik).

***

Dalam suatu kesempatan, saya mengedit berita kriminal yang terjadi di salah satu daerah di Jawa Timur. Yakni, seorang anak tega membunuh orangtuanya hanya gara-gara tidak diberi warisan. Dalam kesempatan lain, saya mengedit berita pembunuhan yang melibatkan saudara kandung. Pemicunya adalah masalah warisan.

Gara-gara warisan, saudara tega membunuh saudaranya.
Gara-gara warisan, anak tega menghilangkan nyawa orangtuanya.
Hanya karena warisan, darah menjadi tak lebih berharga ketimbang uang.

Tidak sekali dua kali saya mendapati atau membaca berita seperti itu. Duniawi benar-benar dapat membuat mata hati seseorang buta. Harta betul-betul ”bisa” membeli nyawa seseorang. Tak terkecuali, darah saudara kandung atau orangtua sendiri sekalipun.

***

Menjelang wisuda, orangtua saya datang ke Surabaya untuk menghadiri acara tersebut. Lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta seolah tak tampak ketika mereka melihat saya ditahbiskan bersama rekan-rekan lain. Bangga dan bahagia.

Malam sebelum acara tersebut, ayah saya berkata bahwa beliau tidak bisa memberi apa-apa kepada saya sebagai bekal saya selepas lulus kuliah. Saya hanya menghela napas. Kami bertiga berbincang-bincang cukup lama hingga larut malam.

Saya belum menangkap maksud ayah. Pikiran saya terpecah. Di satu sisi, saya senang bisa menuntaskan pendidikan. Di sisi lain, saya bakal menghadapi medan tantangan yang luas setelah menjadi raja sehari sebagai sarjana.

Ya, banyak rekan saya yang justru khawatir. Mereka menghadapi masalah yang sama dengan saya. Kebanyakan di antara kami waktu itu hanya memikirkan ”harus segera dapat pekerjaan”.

Padahal, saya sadar betul bahwa sarjana itu tidak cukup hanya mencari pekerjaan. Sarjana dilahirkan untuk membuka lapangan pekerjaan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Malam itu, ayah saya mengatakan bahwa beliau senang karena saya sudah lulus. ”Hanya ilmu yang bisa saya titipkan sama kamu, bukan uang atau harta lain,” ucap beliau ketika itu. Beliau yakin saya bisa berbuat lebih baik dengan ilmu. Bila terus digunakan, ilmu ibarat pedang. Ia akan semakin tajam bila terus diasah. Berbeda dengan uang, ia akan habis tak tersisa setelah dipakai terus-menerus.

Kalimat tersebut masih terngiang hingga kini. Saya sadar bahwa saya telah menerima warisan terbaik dari orangtua saya. Warisan tersebut adalah ilmu. Tentunya, ilmu itu mesti dimanfaatkan secara baik.

Setiap kali selesai shalat, tak lupa saya selalu panjatkan do'a untuk orangtua saya. Sebab, mereka sangat berjasa dalam perjalanan hidup saya. Pengorbanan mereka sangat besar dalam mendidik kami dan membekali kami dengan warisan terbaik.

Saya memang tak menerima uang puluhan juta rupiah atau tanah dan rumah bagus dari orangtua. Saya hanya menerima pelajaran yang amat baik dari beliau dan itu tak bisa dihargai dengan apa pun.

Rabighfirli waliwalidayya warhamhumma kama rabbaya nisaghira...

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eno Karta Susana | Guru
Subhanallah... KSC bisa dijadikan sebagai sarana kreativitas, nambah ilmu, dan mempererat tali silaturrahim. Tapi tetap kita harus berusaha menjaga niat. Semoga bermanfaat. Aamiin...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1120 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels