|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |





Ahad, 24 Januari 2010 pukul 15:15 WIB
Penulis : Nurfaridah
Pernah nonton film ini? Lucu, bodoh, tolol, konyol, dan idiot adalah kesan dari cerita yang disuguhkan. Sungguh khayalan tingkat tinggi yang diperlukan guna menghasilkan karya energik seperti ini. Sebuah karya nyata yang menggambarkan kehidupan 500 tahun yang akan datang. Bisa jadi imajinasi ini akan menjadi kenyataan, dimana orang-orang tak lagi mampu berfikir dengan baik, yang ada hanyalah fikiran kesenangan tentang seks, seks, seks, dan seks.
Malah saya sempat berfikir, beberapa puluh tahun mendatang ketololan dan kebodohan dalam film ini menjadi kenyataan. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga tak akan pernah terjadi.
Bagaimana tidak, jika akhir-akhir ini saja sering kita baca atau kita dengar atau bahkan kita melihat, anak-anak telah mengenal seks, tidak hanya dalam teori, namun telah mempraktekannya. Na'udzubillah...
Masih ingat dengan bocah Inggris yang dalam usia sebelas tahun telah menjadi seorang ayah, bukan dari hubungan pernikahan, melainkan hanya seorang pacar. Bagaimana jaman ke depan jika anak-anak seusianya yang harusnya waktunya dihabiskan untuk menimba ilmu, malah enak-enakan menikmati hidup semu. Bekal apa yang telah dimilikinya, tanpa maksud menyinggung siapa pun, dengan apa anak-anak ini akan menghidupi bayi-bayinya. Belum lagi keterampilan apa yang bisa diandalkan olehnya.
Kalau di Barat, mungkin hal seperti ini sudah lazim, mengingat gaya hidup mereka yang bebas. Namun bukan tidak mungkin hal ini terjadi pada masyarakat kita yang notabene bangsa yang beradab. Tapi jangan salah, baru-baru ini saya membaca media yang memberitakan siswa SLTP yang berlainan jenis sedang enak-enakan di kamar. Yang lebih heboh lagi, kejadian di daerah Aceh yang berhukum Islam, mereka (siswa SLTP) asyik beradegan mesum di depan teman-temannya, dan direkam. Bisa jadi mereka adalah sosok yang ketahuan publik. Entah berapa banyak lagi kasus seperti ini yang dimainkan sembunyi-sembunyi. Saya tak mampu berfikir lagi bagaimana kehidupan di masa depan.
Mereka mengklaim ''inilah kecanggihan''. Kecanggihan dan kemodernan di mata mereka adalah berani bertindak ekstrem yang selama ini masih ditabukan, doyan barang haram. Alkohol bak air putih bagi mereka dan masih banyak lagi simbol-simbol kemodernan yang mereka banggakan.
Hal-hal bodoh yang tidak pantas, mereka sebut sebagai kecanggihan dan kemodernan. Yang akhirnya membuat mereka melupakan apa yang seharusnya mereka kerjakan, yakni belajar dan usaha sungguh-sungguh. Jika mental anak-anak kita mulai digerogoti sedemikian rupa, bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun berikutnya masa depan adalah masa yang penuh dengan orang-orang bodoh dan tolol.
Mungkin jumlah mereka (yang sok modern) ini tidak begitu besar, tapi bisa dikatakan mereka ini virus. Jika dibiarkan, maka ia akan merajalela. Lalu mau jadi apa bangsa ini? Dunia ini?
Dalam kondisi yang seperti ini, lantas siapa yang paling bersalah dan siapa yang pantas disalahkan? Apakah siaran televisi terlalu vulgar yang serialnya banyak mengekspos kisah cinta-cintaan? Apakah karena arus teknologi informasi yang semakin luas, deras, dan tak terbendung? Apakah sistim pendidikan negeri ini yang jauh dari prinsip Islam? Apakah karena pengawasan orangtua yang kurang? Karena masih ada saja orangtua yang bangga jika setiap malam minggu anaknya memiliki tamu.
Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana masa depan mereka anak-anak kita, anak-anak dunia? Apakah mereka akan menghadapi masa yang seperti dihayalkan oleh pengarang film Idio Crazy? Na'udzubillah...
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.