|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|





Kamis, 21 Januari 2010 pukul 15:50 WIB
Penulis : Sus Woyo
Dulu, saat masih di Brunei, saya diingatkan oleh imam masjid, agar ikut shalat hajat sesudah shalat Isya. Saya bertanya-tanya, shalat hajat untuk apa? Kenapa mesti berjama’ah juga? Pikir saya.
Ternyata Sultan Brunei, Sultan Hassanal Bolkiah, yang bergelar Mu'izzadin Waddaulah itu, baru saja memerintahkan kepada seluruh rakyatnya, untuk melakukan shalat hajat, karena di sepanjang perairan negara itu air lautnya sedang tercemar warna kemerah-merahan. Jadi sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem laut dan tentu saja juga bagi rakyat Brunei sendiri yang sangat gemar makan ikan.
Shalat hajat itu berlangsung terus selama beberapa bulan, sampai air laut kembali pada warna semula, dan tidak berbahaya lagi. Disamping shalat hajat, juga disertai dengan do’a-do’a memohon perlindungan dari bala dan apa-apa yang tidak diinginkan.
Tidak hanya itu saja, dulu ketika hutan-hutan di Kalimantan dilanda kebakaran besar-besaran, dan asapnya sampai menutupi langit Brunei, pemimpin berusia 60 tahunan itu juga menganjurkan rakyatnya untuk shalat yang sama. Pokoknya, setiap ada fenomena alam yang cukup membahayakan rakyatnya, Sultan pasti menyuruhnya untuk shalat hajat dan mengadakan permohonan khusus. Termasuk ketika ada SARS, penyakit pernapasan yang mematikan itu, melanda sebagian Asia.
Dan tatkala penyakit membahayakan flu burung sedang merebak ke mana-mana, Sultan juga menghimbau rakyatnya untuk banyak-banyak berdo’a kepada Allah. Sampai-sampai hampir setiap dua atau tiga jam sekali, televisi pemerintah negara itu selalu menayangkan do’a tolak bala. Agar terhindar dari penyakit mematikan itu.
Akhirnya, suatu malam, saya paham atas anjuran salah satu pemimpin senior di Asia Asia Tenggara itu. Beliau berkata di hadapan rakyatnya pada suatu acara, “Kami ini makhluk Allah. Hamba yang sangat kerdil di hadapanNya. Kita tidak boleh sombong dengan teknologi yang dihasilkan oleh otak-otak manusia. Biar pun ilmu pengetahuan manusia telah menemukan berbagai cara untuk menangkal segala kemungkinan bahaya yang terjadi di dunia ini, tetapi do’a kita kepadaNya adalah sesuatu yang mutlak harus kita panjatkan.”
Pantas saja, pemimpin yang masih kelihatan gagah ini tak malu-malu menengadahkan tangan, berdo’a kepada Allah setiap kali akan pergi ke luar negeri atau pulang dari suatu kunjungan ke luar negeri, di lapangan terbang. Memohon perlindungan dariNya. Karena memang kita tak ada apa-apanya di hadapan Sang Pencipta.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.