|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|





Senin, 11 Januari 2010 pukul 15:50 WIB
Penulis : Sus Woyo
Pertama kali saya masuk pesawat milik maskapai penerbangan Brunei, Royal Brunei, disambut senyum ramah para pramugari. Wajahnya, tentu saja cantik-cantik. Wajah khas melayu. Yang paling membedakan dengan maskapai penerbangan lain, adalah jenis pakaiannya. Sebagai pramugari dari sebuah negeri yang berdasarkan syari'at Islam, sudah barang tentu, rambut sampai kakinya tertutup rapat. Alias memakai kerudung. Di dalam pesawat, warna Islam begitu kental. Beberapa menit sebelum pesawat take off, kami diingatkan melalui layar di depan kami, untuk berdo'a. Dan terdengarlah alunan do'a naik kendaraan yang terkenal itu.
Begitu turun dari pesawat, saya melihat nuansa Islam lebih kental lagi. Dari pakaian para pegawai wanitanya, tulisan-tulisan yang berbahasa melayu, tapi ditulis dengan huruf Arab, sampai sapaan orang-orangnya yang tidak lepas dari kalimat, assalaamu'alaykum. Tidak ketinggalan juga, banyak para lelaki di tempat itu yang memakai topi haji warna putih. Duh, indahnya negeri ini! Pikir saya dalam hati.
Dari airport ke tempat majikan saya, cukup jauh. Hampir satu jam setengah kami duduk di kendaraan melalui jalan tol. Tapi biar pun agak jauh, perjalanan darat itu cukup menghibur saya. Belum pernah saya melihat rambu-rambu di jalan raya, bertuliskan tasbih, tahmid, dan takbir. Beberapa meter sebelum perempatan, atau ada jalan yang cukup menikung, serta kemungkinan berbahaya, di sana selalu ada papan bertuliskan subhanallaah, alhamdulillaah, dan allaahu akbar. Kalimat-kalimat yang mengingatkan kita kepada kebesaran Sang Maha Pencipta.
Sampai di rumah majikan, pemandangan Islami lebih menonjol lagi. Sebelum masuk, di atas pintu, ada kaligrafi yang berbunyi Udkhuluha bisalamin aminin. Di dalam rumah, masya Allah, seolah saya seperti ada di rumah seorang Kyai Pesantren, bahkan melebihi itu. Semua dinding terpasang kaligrafi mahal ayat-ayat Al-Qur'an. Dari surat An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Yaasiin, sampai dengan waman yattiqillah yaj'alahu. Dan tidak ketinggalan lagi, ada juga gambar-gambar Ka'bah, telapak kaki Rasulullah, sorban nabi, Makkah ketika banjir, dan lain sebagainya.
Dalam hati saya membayangkan, akan bertemu dengan profil seorang ulama besar. Yang wajahnya lembut seperti wajah KH. Didin Hafidhudin. Yang tutur katanya mirip suara halus pakar tafsir Indonesia, Prof. Dr. Quraisy Shihab. Yang duduknya begitu tawadu seperti KH. Abdullah Abbas, Buntet, Cirebon. Ya, itu yang membayangi pikiran saya.
Seminggu kemudian saya ikut shalat Jum'at di sebuah masjid yang cukup mewah. Sungguh, seolah saya sedang shalat di Madinah atau di Makkah. Sebab hampir semua dari para jama'ah, memakai pakaian yang sangat kental warna Islamnya. Yaitu jubah putih dan topi atau sorban putih. Dalam hati saya berpikir, "Duh, betapa kuatnya komitmen orang sini terhadap agamanya."
Setelah saya tinggal lama di negeri yang terletak di utara pulau Kalimantan itu, saya menjadi agak paham dengan keadaan negara tersebut sekaligus perangai penduduknya. Apa yang saya saksikan dari awal datang sampai sekarang, dua tahun lebih, ternyata bayangan saya terlalu muluk-muluk. Paling tidak dalam lingkup kehidupan sehari-hari saya dengan majikan saya. Bayangan akan menemukan kehidupan sejuk yang penuh amalan keislaman, ternyata tak sepenuhnya saya temukan. Dan ini sering saya jumpai pada sikap majikan terhadap para pekerjanya. Yang sangat sering meremehkan kami. Atau kalau boleh saya katakan, "Sering tidak memanusiakan kami. Dan sudah barang tentu ini bukanlah akhlak Islam."
Maka suatu hari, saya merenung sendiri, dikemanakankah simbol-simbol keislaman yang begitu kental itu? Apakah hanya sebagai hiasan lahir saja? Ironi bukan?
Pertanyaan ini tidak saya lemparkan kepada siapa-siapa. Namun saya lemparkan kepada diri saya sendiri. Jangan-jangan saya pun masih termasuk orang yang sangat suka mengedepankan simbol Islam, tapi minim amalan Islami. Jangan-jangan, saya sudah biasa shalat, puasa, zakat, tapi masih gemar menggunjing dan mengumpat orang. Bukankah ini juga sebuah ironi?
Akhirnya, sangat sering pikiran saya dihantui oleh kata-kata 'jangan-jangan'. Karena ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita, banyak sekali terjadi sesuatu yang ironi, sesuatu yang sangat berlawanan, antara kata dan perbuatan, antara lahir dan batin. Sehingga tak mustahil, jika seseorang yang lahirnya tampak sekali simbol Islamnya, namun jauh sekali akhlak Islamnya. Dan ini bisa hinggap kepada siapa saja. Termasuk kepada kita, dan juga orang-orang yang ditakdirkan oleh Allah hidup di bawah negeri yang mengibarkan panji-panji Islam. Kita sering menyaksikan betapa banyaknya para buruh migran Indonesia (TKI /TKW), diperlakukan dengan perbuatan tidak Islami justru di negeri Islam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.