|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|




Ahad, 10 Januari 2010 pukul 15:10 WIB
Penulis : Betty Herawati
Suatu hari, ada gadis yang berkata, “Siapa bilang aku sedih? Aku kan selalu bahagia.” Atau di saat yang lain ia bilang, ”Gak pa-pa. Yang penting, kan bahagia.” Ya, semoga.
Saya tak pernah menduga ada sahabat yang me-reply kata-kata itu. Bahkan, ia menuliskannya pada salah satu lembar buku saya. Sebentuk senyum pun mengembang. Saya berterimakasih dan tersanjung dengan perhatiannya. Ya! Ia hapal dengan kata-kata saya. Kata-kata yang seringkali saya ucapkan untuk menetralisir hati bila tiba-tiba kesedihan menghunjam dalam.
Betapa memiliki sahabat adalah anugerah terindah dalam hidup. Memiliki banyak sahabat memberikan inspirasi tiada bertepi. Inspirasi apa saja? Rasanya tak mungkin saya mampu menuliskan semua inspirasi dari sahabat dalam catatan kecil kali ini.
Suatu hari, ada sahabat yang mengirim SMS :
Berakhlakul karimah cermin ahlul jannah
Sekali melangkah pantang menyerah
Sekali walimah harus sakinah mawaddah wa rahmah
Renungan ini mudah-mudahan bisa jadi inspirasi *.
SMS itu awalnya saya anggap sebagai sebuah guyonan. Namun, ketika kata demi kata saya baca kembali, sebentuk senyum pun mengembang. Ya! Ada harapan yang sama sekali bukan guyonan. Saya mampu menangkap ketulusannya.
Saya diajak untuk bermuhasabah; menyapa kabar keimanan hari ini. Ah, tak ada kalimat lain yang keluar kecuali kejujuran, saya bukan apa-apa. Saya masih begitu payah. Bahkan, akhlak saya sebagai muslimah masih sangat jauh dari standar ideal. Meski hari masih pahit, semoga di masa mendatang saya menemukan manisnya proses perbaikan diri.
Saya membuka kembali shirah jihadiyah.
Yang kau takutkan adalah yang kau inginkan, bukan?
Retoris -khas- Ustadz Hatta yang menyitir kata-kata Abdullah bi Rawahah dalam perang Mu’tah kembali terngiang. Saya menata hati untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Hmm... terlalu abstrak, ya? Kalau ketahuan teman SMA, pasti kena semprot lagi. Belum lama ini, ia bertanya,
”Baiti, dikau sedang sibuk apa?”
”Mempersiapkan masa depan untuk kehidupan yang lebih baik.”
”Ah, jawaban klise bersayap.”
Saya jadi teringat dengan pertanyaan Mbak Izzatul Jannah dalam sebuah kajian di Nurul Huda pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, ”Ketika meninggal dunia, kau ingin dikenang sebagai apa?” Pertanyaan sederhana itu sengaja diberikan sebagai pemantik. Itulah landasan operasional untuk menentukan visi hidup seorang yang berkeinginan menjadi pejuang.
Saya tercenung ketika nama shahabiyah dipaparkan satu demi satu. Disusul kemudian nama para muslimah yang unggul di bidangnya dan turut menyebarkan harumnya Islam. Ayolah, begitu banyak pilihan terhampar! Jawablah dengan sebenar keyakinan. Sebab, itulah yang akan mewarna dalam lintasan pikiran kita.
”Jadi, ketika kau mati, kau ingin dikenang sebagai apa?”
Hmm... Jawaban yang saya berikan masih terlalu general, saya ingin menjadi orang yang bukan hanya dicintai tetapi layak untuk dicintai. Artinya, saya tak ingin orang lain berprasangka baik terhadap saya, sedang keadaan saya tidaklah demikian. Jadi, masih butuh proses yang sangat panjang mempersiapkan masa depan untuk kehidupan yang lebih baik, di dunia dan akhirat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Betty Herawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.