Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://ramadhan_adhi.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Programmer
Menjadi seseorang yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh orang lain adalah harapan saya. Untuk itu, mohon doanya sehingga bisa menggapainya harapan tersebut...
http://dik2.multiply.com
andhika.ramdhan
ramadhan_adhi
andhika.ramdhan@gmail.com
andhika.ramdhan@gmail.com
http://twitter.com/AndhikaRamdhan
Tulisan Dikdik Lainnya
Untukmu, Bidadariku
27 Desember 2009 pukul 18:05 WIB
Berlomba Mendulang Pahala
18 Desember 2009 pukul 15:10 WIB
Mahakarya
7 Desember 2009 pukul 15:33 WIB
Janganlah Berhenti!
1 Desember 2009 pukul 17:15 WIB
Dalam Rinai Hujan
27 November 2009 pukul 15:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 3 Januari 2010 pukul 16:50 WIB

Setengah Sajadah

Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan

"Kok sajadahnya dilipat dua, kek?" tanya seorang bocah berusia sekitar tiga tahunan kepada seorang kakek tua yang sebagian rambutnya sudah tidak lagi hitam, namun kini bersulam dalam dua warna.

Kakek tua itu hanya tersenyum dan menatap cucu lelakinya itu kemudian mempermainkan rambut pirangnya.

"Sudah, ayo ikuti kakek, kita shalat sunnat dulu!" ajaknya.

Sesaat kemudian mereka berdua larut dalam penghambaannya, mempersembahkan kembali rukuk dan sujudnya pada Ia yang Mahakuasa. Usai mereka salam, tak lama kemudian waktu berselang, iqamat berkumandang. Kami semua berdiri dan bersiap untuk melaksanakan shalat berjama'ah. Shaf-shaf kini tertata rapi memanjang dari ujung kiri hingga ke kanan ruangan masjid itu. Kakek tua itu lalu membuka lipatan sajadahnya, untuk kemudian meletakkannya dengan arah memanjang, hingga kini terbagi menutupi dua bagian tempat sujud, baginya dan bagi seorang pemuda asing yang berada di sampingnya. Bagian atas sajadah itu ia sengaja diletakkan di bagian tempat sujud pemuda tadi. Sang cucu terheran melihatnya. Dan aku pun tertegun saat itu. Namun segera kami mencoba menata kembali segala pikiran untuk berupaya dapat mempersembahkan shalat terbaik padaNya.

Setelah shalat, usai dzikir sejenak, kemudian kakek tua tadi berdiri dan beranjak hingga kemudian berlalu pergi bersama cucu lelakinya. Sekilas masih kudengar pembicaraan mereka ketika meninggalkan tempat shalatnya semula. Rupanya cucu lelakinya masih penasaran dengan tingkah kakeknya yang melipat dua sajadahnya ketika ia shalat sunnat, dan kemudian membukanya kembali lipatan sajadahnya menjadi dua bagian ketika berjama'ah menjelang.

"Inilah artinya Islam," sahutnya mengawali penerangannya pada sang cucu.

"Islam itu rahmatan lil 'alamiin, yakni rahmat bagi sekalian alam. Wujudnya adalah dengan berislam, maka salah satunya kita sebagai umatnya harus mampu menjadi rahmat pula bagi semua orang," lanjutnya panjang lebar.

Aku nggak tahu bagaimana rona wajah serta gerak pikir bocah lelaki tadi menangkap penjelasan dari kakeknya. Namun yang jelas, aku begitu malu mendengar apa yang disampaikan kakek tua tadi pada cucunya.

Memang, mungkin entah sejak kapan kita mengenal bahkan sampai hapal di luar kepala akan sebuah ungkapan bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamiin, yang dalam aplikasinya seharusnya memang akan selalu mampu menghadirkan cahaya kedamaian, cahaya rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi orang-orang yang tunduk dan patuh dalam keislamannya, namun pula bagi semua orang yang ada di sekitarnya.

Namun, ternyata sepertinya begitu sulit hal itu terwujud dalam keseharian kita. Islam yang memang diturunkan oleh Allah sebagai rahmatan lil 'alamiin justru seakan sulit menjadi nyata. Kita selalu memaksa hari-hari yang kita lalui seakan kembali dan selalu berputar kembali pada satu arah yang sama, dan menempati posisi yang sama pula, kita sebagai umatNya sangat jarang sekali untuk dapat menempatkan diri menjadi bagian dari rahmatan lil 'alamiin, dimana keberadaan kita seharusnya dapat pula menjadi rahmat bagi yang lainnya.

Kita selalu berusaha untuk tampil sendiri, membusungkan dada, bahkan menyombongkan diri, melihat semua berdasar dari kacamata pribadi dan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Kita terbuai dengan rasa individualis yang semakin menjadi dan seolah menyepak dengan kasar setiap kepentingan orang lain yang kita memandangnya tidak akan berpengaruh pada kepentingan diri ini. Na'udzubillah...

Bila sehelai sajadah pun ternyata bisa menjadi satu jalan untuk membimbing diri kita dalam menunaikan satu kewajiban, mengibarkan panji-panji untuk berbagi dalam indahnya kebersamaan, hingga akhirnya rahmatan lil 'alamiin bukan hanya menjadi sebuah slogan semata, atau hanya menjadi satu rangkai kalimat yang selalu dan selalu kita hapal dalam nalar ini saja, namun pula kemudian dapat terealisasi dalam nyata.

Maka, semestinya mungkin hal lain pun juga akan bisa menjadikan diri ini untuk bisa lebih membuka hati, berupaya menjadi bagian dari rahmatNya, yang pula bisa menjadi rahmat bagi umat lainnya. Karena, bukankah di satu waktu nanti, tak akan ada lagi yang pernah dan setia menemani kita, ketika tanah merah telah menutup rapat diri ini, terpisah dari kefanaan dunia. Hingga hanya ia, salah satunya, yaitu hanya amalan yang menemani kita pada saatnya.

Wallahu a'lam bishshawab.

http://dik2.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Wuri Handayani | Mahasiswi
Tulisan teman-teman di KSC senantiasa selalu menjadi bahan inspirasi tarbiyah aku. Jazakillah khair.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1124 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels