|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|



Kamis, 31 Desember 2009 pukul 16:09 WIB
Penulis : Betty Herawati
“Ada titipan cinta dari Bu Is. Hanya untuk antum.”
Perlahan saya baca SMS seorang sahabat yang kini masih menuntut ilmu di belahan timur pulau Jawa. Sebentuk wajah teduh kembali hadir dalam kesendirian saya. Wajah Bu Is yang seringkali menjadikan saya terinspirasi melakukan kebaikan.
Bu Is. Ada perasaan yang bergejolak tiap kali saya mengingatnya secara sengaja atau kebetulan. Saya dan teman-teman SMA mengenalnya sebagai guru Matematika dan Pembina Rohis yang begitu tegar. Ya! Ia adalah seorang muslimah yang pejuang. Sosok penuh cinta yang begitu kami hormati sekaligus kami banggakan sejak pertama kali mengenalnya.
Setidaknya sekali dalam setahun anak-anak didiknya dari berbagai angkatan berkumpul di rumahnya dalam sebuah forum silaturrahim. Saya dan teman-teman seangkatan hanyalah bagian kecil yang ikut menyemarakkan acara tahunan itu. Acara yang mempertemukan alumni muslim dan adik-adik Rohis itu selalu diwarnai dengan review perjalanan Rohis dari masa ke masa dan -biasanya- diikuti dengan daurah tarqiyyah, semacam training akselerasi untuk adik-adik yang akan menjadi pengurus inti Rohis.
Hampir tiap Idul Fitri, sebelum acara akbar di rumah beliau ditutup, ada sebuah berita gembira yang menjadi taklimat. Apalagi kalau bukan undangan pernikahan di bulan Syawal yang biasanya dilangsungkan beberapa hari setelah pertemuan akbar di rumahnya. Hanya saja, saya dan teman-teman seringkali merasa resah. Bukan, bukan kami tak berbahagia dengan berita pernikahan itu. Bagaimana pun, telah lama kami berharap bahwa beliaulah yang segera menggenapkan dien. Beliau butuh seorang pendamping yang akan saling menguatkan di tengah tuntutan dakwah yang semakin berat.
Tak sekali dua kali fitnah terhadap aktivitas dakwah sekolah ditujukan padanya. Sejauh ini, perempuan tegar itu mampu melewatinya. Beliau mampu melewatinya karena beliau punya cinta yang begitu besar terhadap dakwah. Bahkan dakwah telah menjadi nafas dan denyut nadinya. Fitnah dan ujian yang seringkali datang bertubi hunjam mampu disikapi dengan wajar. Waktu yang bergulir menjadi saksi terhadap pertahanan kokoh yang dibangunnya. Dan kami semakin yakin bahwa perempuan itu adalah muslimah yang pejuang, mujahidah dakwah yang tangguh.
Di tengah usianya yang semakin matang untuk sebuah pernikahan (beliau kelahiran tahun 1972), beliau tetap produktif dan bersemangat dalam aktivitas dakwah. Gebrakan demi gebrakan adik-adik Rohis dalam setiap event tak pernah terlepas dari dukungannya. Penyambutan siswa baru, pesantren Ramadhan, seminar remaja, perayaan hari-hari besar agama, tadabbur alam, buletin, nasyid, hadrah, bazaar, dan hampir semua agenda Rohis dikonsultasikan padanya.
Tidak hanya itu saja. Berbagai permasalahan personal para pengurus Rohis dan anak didiknya di kelas pun tumplek bleg padanya. Permasalahan yang begitu menguras emosi itu datang silih berganti, seolah tak kenal henti. Maka -sungguh untuk kesekian kali- ia lulus uji sebagai muslimah yang pejuang, mujahidah dakwah yang tangguh.
Sengaja atau tidak, langsung atau tidak langsung, muslimah yang pejuang itu telah mengajarkan kepada kami tentang bagaimana menyemai cinta, menyiram, dan memupuknya hingga berbatang, bertahan, dan berbuah begitu indahnya (sebagaimana nasyid ukhuwah dari Suara Persaudaraan yang sering kami senandungkan).
Tentang fitrah akan cinta terhadap lawan jenis, beliau telah mewanti-wanti agar kami tidak terjebak di dalamnya. Sebab cinta memang selalu suci, bukan nafsu yang melenakan. Sebab cinta membawa bahagia, bukan sebaliknya. Dan sungguh, cinta itu akan selalu melekat dengan kebaikan demi kebaikan yang kita sulam bersama. Maka kita harus pandai menempatkan cinta pada proporsi sebagaimana mestinya. Pun ketika dihadapkan pada penantian tak pasti. Tetaplah bersabar merawat cinta. Tepat pada saatnya, akan didatangkanNya laki-laki -atau perempuan- berhati cahaya untuk melangkah bersama meniti surga. Tetaplah berprasangka baik kepadaNya. Dan tetaplah menjaga diri agar senatiasa berada dalam kebaikan dan kebermanfaatan untuk sesama.
Ngawi, 18 Februari 2008
Kado kecil untuk Bu Is yang Insya ALLAH telah menggenapkan dien pada tanggal 23 Maret 2008. Cinta itu akan selalu padu, Bu!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Betty Herawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.