|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |





Jum'at, 25 Desember 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Nurfaridah
Mungkin bagi sebagian orang, memiliki anak dengan jarak lahir yang rapat adalah momok yang menakutkan. Bisa saja bayang-bayang kerepotan selalu melintas. Bagaimana nanti dengan kakakmya yang masih terlalu kecil bahkan masih dibilang bayi, sang kakak akan kekurangan ASI disaat sang ibu sedang mengandung calon adiknya. Belum lagi bayangan kerepotan masalah keuangan, jika kelas ekonominya termasuk golongan menengah ke bawah. Belum lagi bayangan-bayangan kerepotan yang lain.
Tetapi tidak dengan aku, aku merasakan sangat bahagia setelah melihat hasil tespek menunjukkan tanda positif. Aku bangga dan bahagia, meski ada rasa iba terhadap putri pertamaku yang baru berusia satu tahun dua minggu. Kutenangkan hatiku, saat sang kakak harus mengganti susu terbaiknya dengan susu formula. Terasa ada sayatan-sayatan kecil melukai hati ini, tapi biarlah. Sang adik pun menuntut gizi yang cukup untuk perkembangannya pada trimester pertama. Aku tetap bahagia.
Anehnya, kehamilanku kali ini mengundang banyak gunjingan. "Mengapa? Apa ini suatu hal yang aneh?" Karena hampir setiap orang yang mengetahui kehamilanku senantiasa menanyakan apakah aku tidak berKB? Apa aku tidak kasihan sama putriku yang masih kecil dan butuh ASI? Berbagai macam komentar yang membuat kuping jadi merah, yang lebih parahnya ada juga dari keluarga yang selalu memojokkan atas kehamilanku dan menyuruhku untuk segera menggugurkannya.
Rasanya aku ingin berbagi ke setiap orang dan mengabarinya tentang kehamilanku saat ini, namun dari sekian banyak orang, baik itu keluarga, sahabat, ataupun teman, selalu melongo dan berkomentar tidak seperti yang kuharapkan. Aku stres, karena tak seorang pun yang senang akan kehamilan ini kecuali suamiku tercinta.
Akhirnya, suatu kali iseng-iseng aku menelepon seorang teman yang dulu pernah nyantri bersama. Tak lupa aku pun mengabarkan berita gembira ini sebagai salam hangat. Tak kusangka jawabannya begitu menyejukkan. Di saat semua orang menyalahkan aku yang hamil terlalu cepat dikarenakan masih merawat bayi kecil, tapi tidak dengannya, dia mengatakan, "Allah telah memilih orang yang tepat untuk menjaga titipanNya. Allah percaya dengan kamu. Dirawat ya!" Hatiku terasa tersiram air yang sangat menyejukkan. Dinginnya sampai ke jiwa.
Seperti kehamilanku yang pertama, kali ini pun aku jaga dan aku rawat sepenuh jiwa, minum susu, banyak istirahat, dan sebagainya. Semua kuperlakukan dengan baik seperti kehamilan sang kakak waktu itu.Tapi, entah kenapa saat usianya genap dua bulan, aku sering pendarahan lucut. Setelah aku periksakan ke USG, ternyata janinku tidak berkembang. Seketika itu juga bulir-bulir kristal jatuh satu persatu dari tempat persembunyiannya. Perjuanganku berakhir, dan dokter bilang aku harus segera kuret. Aku tak berdaya.
Ya Allah, aku ridha dengan keputusanMu, meski sakitku ini tak terobati. Hanya harapanku, "Anakku, berbahagialah dengan teman-temanmu di surga Allah, dalam inangan nabiyallah Ibrahim AS. Meski cuma dua bulan umi bersamamu, umi dah cukup bahagia, nak."
Ya Allah, terima kasih atas titipanMu walau sesingkat ini.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.