|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|


Selasa, 15 Desember 2009 pukul 15:55 WIB
Penulis : Betty Herawati
Ahad yang sepi. Saya di rumah sendirian. Beberapa saat klutak-klutik di depan komputer, namun tak banyak tugas yang bisa saya selesaikan. Saya edarkan pandangan ke segala penjuru ruang. Semuanya masih tertata seperti biasa. Hanya saja sudah dua tahun lebih lukisan bergambar manusia dan kristik bergambar kuda-kuda yang biasanya menghiasi tembok ruangan, saya sembunyikan di gudang.
Saya buka korden lantas mengamati taman depan rumah dengan pandangan terluka. Rumput-rumput Jepang yang dulunya hijau dan subur tak lagi memenuhi ruang kosong antara tanaman. Harusnya di musim hujan seperti ini, indahnya rumput Jepang bisa saya nikmati. Sungguh taman yang dulunya begitu tertata indah sudah berubah. Di samping rumah, taman yang pernah ada memang telah lama rata dengan tanah. Rencananya beberapa tahun yang lalu akan di-paving, namun hingga kini belum juga dilakukan. Dan bonsai-bonsai di belakang rumah semakin berkurang jumlahnya. Saya sangat sedih.
Rumah kami - hampir-hampir - seperti tidak berpenghuni. Hanya paviliun kecil yang terpisah yang awalnya berfungsi sebagai dapur, kini menjadi pusat kegiatan di rumah. Selebihnya hanya dijadikan lalulintas sehari-hari. Saat saya amati detail bagian demi bagian, semua memang terlihat lebih tua. Cat tembok tak pernah lagi diperbarui. Bahkan beberapa bagian telah mengelupas.
Ternyata tak hanya kehidupan saya yang berubah. Rumah ini pun telah berubah. Ayah! Bila saja kau masih tinggal bersama kami. Tak sengaja saya berbicara seorang diri. Hampir semua bagian dari rumah kami yang sederhana tak ada yang lepas dari sentuhan tangan seninya.
“Meski kau berusaha menyembunyikannya, kami selalu yakin bahwa kau masih sangat mencintai laki-laki itu.”
Kalimat yang pernah dibisikkan seorang sahabat di cuping telinga tiba-tiba terngiang. Saat itu saya hanya diam, tak mengelak atau membenarkannya. Bagaimana mungkin saya membenci laki-laki itu. Saya tak punya alasan untuk membencinya. Sedang untuk mencintainya sebagaimana hari-hari biasa, saya pun tak kuasa. Keputusannya untuk meninggalkan rumah telah membuat saya tergoncang dan - tentu saja - meninggalkan luka di hati wanita mulia yang telah melahirkan saya.
Saya memang tak kuasa untuk menunjukkan cinta padanya. Hal ini sungguh membuat saya sangat tersiksa. Saya tak mengelak, saya masih - dan akan selalu - mencintainya. Meski saya tak hendak memperlihatkannya. Terlalu angkuh mungkin. Biarlah, pikir saya. Namun, sampai kapan?
“Apapun yang terjadi, ayah tetaplah ayah. Tak ada hal yang bisa memutuskan hubungan itu.”
Kata-kata Ibu akan selalu saya ingat. Saya tak boleh melupakannya. Juga dalam setiap do'a yang saya pinta. Diam-diam, ada bening-bening kristal yang berjatuhan di pipi tiap kali saya mengingatnya dalam kesendirian. Ibu benar; bahwa apapun yang terjadi, ayah tetaplah ayah dan tidak akan pernah menjadi orang lain. Hanya mungkin dinding keangkuhan itu belum berhasil saya robohkan.
Saya belum bisa (kembali) menunjukkan cinta kepadanya dengan baik. Padahal di antara dua bersaudara, saya yang lebih dekat dengannya. Saat SMP dan SMA, hampir tiap hari saya berangkat ke sekolah bareng ayah. Bahkan ayah yang menjemput saya sepulang les atau kegiatan lain. Bagaimana mungkin saya menghapus kenangan itu? Bagaimana mungkin saya tak mengakui bahwa ayah teramat menyayangi saya?
Ayah juga yang mendukung saya berjilbab di saat beberapa teman saya tidak mendapatkan izin dari orangtua mereka. Bahkan ayah pernah membawa pulang majalah Tarbawi dan ANNIDA untuk saya, meski akhirnya dikembalikan karena saya sudah membeli di sekolah. Akhirnya majalah UMMI yang tiap bulan dibawanya. Bagaimana mungkin saya melupakan semua itu?
Saat kelas 2 SMA, ketika hasil diagnosa dokter menunjukkan bahwa mata sebelah kiri saya minus silindris satu setengah, ayah pula yang mengantar saya ke toko optik dan apotik. Ketika ternyata saya masih mengeluhkan penglihatan yang masih kabur, ayah yang mengantar saya untuk check up. Bahkan ketika harus pergi mencari dokter mata yang lebih baik, ayah ada di samping saya. Bagaimana mungkin saya kubur lintasan fragmen-fragmen yang saya lalui bersamanya?
Setiap bulan, ayah masih mengunjungi kami. Membawakan buah-buahan dan kue-kue kering, seperti kebiasaan beliau setiap pulang dari bepergian. Ada sesak yang seringkali saya tahan setiap kali saya mencuri pandang, memperhatikan tubuh kurusnya. Ayah terlihat seperti memikul beban yang sangat berat. Ya, tentu saja. Bukankah ayah telah kehilangan hal yang paling berharga?
Setiap kali ayah datang, seolah tak ada bahasan lain selain skripsi saya yang tak kunjung usai. Saya hanya mengobrol seperlunya saja dengan ayah. Saya tahu, teman-teman seangkatan sudah banyak yang lulus. Saya tahu, sudah semestinya saya bekerja. Sungguh, meskipun dulu ayah melarang saya untuk memilih jurusan yang saya idam-idamkan, toh saat itu - meskipun terpaksa - saya pun akhirnya tak melakukan perlawanan. Barangkali saya memang telah dzalim kepadanya. Tugas akhir tak kunjung saya kerjakan dengan baik. Saya masih kewalahan untuk konsentrasi mengerjakannya, padahal saya bukanlah orang yang terlalu sibuk. Astaghfirullah!
Cinta anak sepenggal galah, cinta orangtua sepanjang masa.
Saya sama sekali tidak hendak membenarkan peribahasa itu. Bagaimana pun, cinta saya tak akan pernah hilang. Sebelum segalanya terlambat, saya ingin menunjukkan bakti padanya. Saya tak ingin menjadi anak yang durhaka. Bukankah setiap orang tak pernah lepas dari salah? Mengapa begitu sulit memaafkan ayah, sedang sebenarnya saya sendiri terlalu banyak berbuat salah padanya? Namun lagi-lagi keangkuhan masih bertahta dalam diri saya. Astaghfirullah!
Cinta itu tak akan ke mana. Bila memang ayah bahagia tak lagi bersama kami, saya akan berusaha untuk ikhlas melepasnya meskipun saya yakin jawabannya adalah tidak. Saya tidak pernah yakin ayah akan menemukan kebahagiaan bila akhirnya menikah lagi dengan perempuan lain. Sebab sekali lagi, cinta itu tak akan ke mana.
Sungguh, cinta itu tak akan ke mana. Dan saya masih berharap keluarga kami bisa bersatu kembali. Saya ingin kami bisa bersama-sama meniti surgaNYA. Semoga harapan yang menjelma dalam do'a menjadi nyata.
Ngawi, 18 Februari 2008
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Betty Herawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.