HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Emak
6 Desember 2009 pukul 17:00 WIB
Mahasiswa Ampas
28 Oktober 2009 pukul 16:30 WIB
Miyabi dan Otak Nakal Lelaki
17 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB
Usah Kau Lara Sendiri, Ukhti
4 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Lebaran Tidak Lewat Sini
13 September 2009 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 13 Desember 2009 pukul 15:20 WIB

Lelaki Sejati : Talk Less Do More

Penulis : Fiyan Arjun

Lelaki sejati ialah lelaki yang bisa menerima dan melawan rasa kecewa karena sakit hati.

Begitu kata kawan saya melalui pesan singkatnya di handphone saya. Entah kenapa ia bisa mengirimkan kata-kata itu yang membuat saya tergerak untuk membacanya. Hmm, ternyata boleh juga. Namun lebih boleh juga LAGI kalau kata-kata itu BISA mewakili diri saya. Namun ini tidak! Jauh dari pandangan saya tentang pengertian hal tersebut.

Tidak sampai di situ, saya tetap berusaha mencari tahu kebenaran pengertian yang dimaksudkan oleh kawan saya itu. Apakah seperti itu? Atau, hanya mengungkapkan egonya sendiri! Atau, jangan-jangan mungkin curhat colongan pula! Entahlah, tapi dengan pesan singkat itu, membuat saya tergelitik untuk berusaha mencari pengertian sesungguhnya tentang lelaki sejati itu seperti apa.

Mbah Google. Ya, dia-lah dewa penolong untuk membantu saya, hingga saya mendapatkan berpuluh-puluh pengertian tentang lelaki sejati itu. Saya browsing mengklik search dengan memakai juru kunci sebagai pembuka kata; lelaki sejati. Klik. Semua ada di depan mata minus saya. Namun sayangnya ternyata tak ada satu pun yang sreg dengan saya. Kalaupun ada, itu hanya segelintir yang bisa mewakili diri saya dan ada pula yang menyesatkan. Tetapi secara benang merah, tak ada yang spesifik menjelaskan apa pengertian lelaki sejati itu. Lagi-lagi itu membuat saya penasaran untuk mencari kembali lagi. Dan hasilnya tetap nihil!

”Lelaki sejati itu sih menurut gue yang bisa bikin anak!” celetuk kawan saya dari arah belakang ketika saya sedang asyik berselancar dengan Mbah Google. Dan jelas, saya yang sedang asyik mencari pengertian lelaki sejati bersama Mbah Google saat itu, jadi tercuri perhatian dengan celetukan kawan saya itu.

Begitu katanya. Spontanitas! Tanpa tendeng aling-aling.

”Itu sih lelaki sejati yang hanya memandang dari soal hasrat aja! Cuman pikirannya ngeres melulu,” jawab saya singkat. Dan itu membuatnya tersenyum simpul malu dengan apa yang saya katakan.

Dus, dengan susah payah akhirnya saya menemukan pula sosok lelaki sejati yang sesungguhnya. Lama memang. Tapi saya senang bisa berselancar ria bersama Mbah Google karena akhirnya membuahkan hasil. Saya menemukan sosok lelaki sejati itu pada diri seorang hamba yang dimuliakan oleh umatNya. Sosok lelaki sejati itu ada pada diri Rasulullah. Nabi Muhammad SAW, suri tauladan umat muslim.

Adalah guru terbaik manusia. Itu tidak bisa dipungkiri lagi. Selain kemampuan beliau menyelami satu persatu karakter manusia di sekelilingnya menjadi satu point yang penting. Bukan itu saja, beliau juga berhasil memaksimalkan potensi-potensi yang ada tersebut menjadi kekuatan dahsyat saat itu. Menerangi kegelapan dunia ketika itu dengan cahaya-cahaya tauhid. Alhasil, adalah tujuh abad lamanya manusia benar-benar menjadi manusia. Manusia yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, dan mengetahui fungsi keberadaannya di dunia.

Selain Rasulullah SAW, dari sekian banyak sahabat beliau ada beberapa orang yang mempunyai kesan mendalam bagi diri saya. Tentu saja tidak lepas dari dua hal utama; kekuatan karakternya dan sumbangsihnya terhadap Islam.

Mereka itulah yang patut diselepangkan selendang lelaki sejati di pundaknya. Ya, walau tidak mungkin bisa mencapai kualitas seperti manusia agung yang menjadi pemimpinnya, setidaknya kisah hidup mereka adalah coretan emas tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki hidup, berkarya, dan menghabiskan umurnya.

Itu satu sosok Rasulullah SAW, lelaki sejati yang sangat saya agungkan. Tapi ada satu sosok lagi lelaki sejati yang saya lupakan untuk disebutkan, yang menurut saya patut diselepangkan pula selendang bertuliskan ”lelaki sejati”. Tak lain dia-lah Ayah saya. Walau sekarang ia sudah tak ada di bumi lagi, tapi bagi saya, rekaman tentang betapa bijaknya belau kepada keluarga hingga begitu gigihnya masih tersimpan rapi di benak saya. Kepala dijadikan kaki. Kaki dijadikan kepala. Begitulah selama saya mengenalnya semasa hidupnya. Sosok lelaki sejati yang sempat terlupakan oleh saya. Siang malam ia mencari sesuap nasi hanya semata-mata agar asap di dapur mengebul dan serta-merta pula membahagiakan istri dan anak-anaknya dengan memberikan pendidikan yang layak tanpa berkeluh kesah, apalagi banyak bicara. Hmm, membuat saya menitikan airmata jika saya mengenal sosok lelaki sejati satu ini.

Begitulah. Saya mengagumi sosok lelaki sejati yang sesuai kriteria menurut saya. Mereka pantas dijuluki sosok lelaki sejati sesungguhnya. Bukan saya! Saya yang terlalu banyak berkeluh kesah saat mendapatkan musibah dan ujian. Pun begitu dengan kawan saya yang memandang hanya hawa nafsu dan keduniawian belaka. Serta kawan saya yang mengirimkan pesan singkat yang terlalu sempit mengartikan arti sosok lelaki sejati hanya dapat menerima dan melawan rasa kecewa karena sakit hati. Terlalu melankolis dan sentimentil memang bila mendengarnya! Karena sesungguhnya lelaki sejati itu bukan hanya pintar bicara, omdo (omong doang), dan ombes (omong besar), melainkan sedikit bicara tapi banyak bekerja. Talk less, do more. Halnya slogan iklan kretek yang sudah ter-mindset di benak kita. Setuju?

Ulujami - Pesanggrahan, 24 November 2009

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1059 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels