
Pelangi » Refleksi | Rabu, 9 Desember 2009 pukul 16:19 WIB
Penulis : Muhammad Rizqon
Nomor cantik bagi seseorang, belum tentu cantik bagi yang lain. Setiap orang memiliki kriteria dan persepsi sendiri. Ada yang terpikat dengan angka tahun kelahiran, angka yang berulang, angka berurut, atau berderet dengan formula tertentu, angka berarti bacaan, dan lain-lain. Kriteria terakhir, yaitu angka mengandung bacaan tertentu, sering dipakai oleh perusahaan-perusahaan untuk menanamkan brand image di kalangan konsumennya.
Kala itu, saya tidak mau ketinggalan dengan tren tersebut. Saya ingin memiliki nomor cantik, sebagai sarana komunikasi dengan pembaca juga memiliki image tertentu. Peluang itu ada, karena saya memiliki beberapa sahabat yang bekerja di beberapa kantor operator seluler. Kepada salah seorang sahabat, saya kemukakan keinginan saya untuk memiliki nomor cantik itu, yaitu yang mengandung bacaan IMAN (atau nomor 4626) di ekor nomor SIM Card.
Berselang sepekan, sahabat saya menginformasikan bahwa nomor yang saya inginkan itu ada, tapi pasca bayar. Saya menyetujui dan mengatakan tidak masalah. Dari beberapa nomor yang disodorkannya, saya memilih nomor seluler dengan ekor 99-6-4626. Nomor itu cukup bermakna bagi saya. Angka 99 berarti "asma'ul husna", yaitu nama-nama Allah yang baik. Angka 6 mengandung arti "O", yaitu oase. Dan angka 4626 mengandung arti "IMAN". Jadi secara keseluruhan berarti, "Allah, dengan 99 asmaul husnaNya, adalah sumber (oase) iman."
Aneh, begitulah pikir saya. Belum lama nomor ini saya gunakan, banyak panggilan yang masuk. Ada beberapa pula SMS yang aneh, sama sekali tidak berkait dengan tujuan saya mem-publish nomor tersebut. Akhirnya, handphone saya silent-kan, saya simpan di laci untuk beberapa lama. Jika saya ingin mengecek apakah ada SMS atau tidak, baru saya buka handphone itu.
Ada beberapa SMS yang terasa janggal, antara lain bertulis begini, "Apakah ini Anita?", "Anita, bagaimana kabar?", "Hai, met kenal, aku Robi, mau ketemuan ama kamu kira2 dimana nich?", "Cantikkan? Gw aja mau lg ni ketemu aja."
Penah saya menjawab dengan menuliskan, "Maaf, Anda salah tujuan." Kemudian saya terima reply, "Siapa pun Anda, jujur saya ingin berkenalan."
Wah, jelas bahwa nomor ini adalah nomor bekas pakai sebelumnya dan pemiliknya cukup populer dan punya banyak relasi. Pemiliknya adalah seorang wanita bernama Anita. Siapakah Anita yang begitu banyak dipanggil oleh orang ini?
Suatu ketika, isteri saya meminjam nomor itu untuk menghubungi seorang relasi yang menggunakan nomor operator serupa, dengan pertimbangan agar lebih hemat tentunya. Isteri saya menegosiasikan sesuatu dan meminta relasinya itu callback (menghubungi kembali) beberapa saat kemudian.
Ketika sedang menunggu callback dari relasinya itu, HP berdering. Isteri langsung mengangkatnya. Namun alangkah kaget isteri saya karena yang menjawab bukan relasinya, tetapi seorang laki-laki yang tidak dikenal. Lebih aneh lagi, laki-laki itu menanyakan hal yang sangat di luar dugaan.
Ia bertanya, "Bisa booking?"
Isteri saya yang terheran-heran menjawab, "Hah? Apa, pak!"
"Bisa booking?" laki-laki itu mengulangi lagi pertanyaannya.
"Booking apaan, pak?"
"Booking, booking..." laki-laki itu terus saja mengatakan kata itu secara berulang.
Isteri saya kemudian berulang kali meminta penegasannya, "Bapak tidak salah nih! Booking apaan Pak?!"
Agaknya karena laki-laki itu menyadari bahwa yang ia ajak bicara bukan orang yang dicari. Ia pun segera menutup teleponnya.
Isteri saya terkaget-kaget. Ia tidak menyangka bahwa pemilik nomor itu adalah orang bermasalah. Apa benar ia seorang wanita "kupu-kupu" atau penyedianya?
Demi memenuhi rasa keingintahuan saya, ketika saya berada di layar notebook dan teringat hal itu, saya mengetikkan nomor itu di search engine, maka muncullah satu temuan di sana, bertuliskan nama Anita dan profesinya sebagai penyedia jasa pijat panggilan.
Penelusuran lebih jauh, saya menemukan halaman yang tidak saya duga. Masya Allah, halaman itu berisi alamat-alamat dan nomor-nomor kontak bagi pria yang menuhankan syahwat, atau menjadikan wanita sebagai tuhannya. Dan Anita adalah salah satu dari wanita yang menyediakan "jasa pijat" itu.
Terkuak sudah keheranan saya, kenapa nomor itu sering berbunyi. Rupanya banyak pria yang bertuhankan syahwat itu mencari "tuhannya". Mereka mencari tuhan bukan di masjid, tetapi di panti-panti pijat, baik yang nyata dan yang terselubung. Na'udzubillah min dzalika.
Dalam hati, ada sedikit tanda tanya, jika banyak pelanggan yang menelepon, kenapa ia "membuang" nomor itu? Tidaklah mungkin ia tidak bisa membayar tagihan abonemen. Dari jumlah panggilan yang sering itu, tentu "omset" yang diraupnya cukup lumayan. Setidaknya, memiliki "omset" minimal yang memadai.
Adakah ia memiliki masalah? Boleh jadi. Tetapi saya berharap, bukan masalah dengan pelanggannya, tetapi dengan Tuhannya. Semoga ia menyadari bahwa profesi yang dilakukannya selama ini, tidaklah diridhai Tuhan.
Wallahu a'lamu bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2012