
Pelangi » Refleksi | Senin, 7 Desember 2009 pukul 15:33 WIB
Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan
Waktu Isya telah cukup lama berselang, keheningan malam kini mulai menghiasi di satu tepi keramaian kota. Sejenak aku sandarkan tubuh ini di tepi sebuah dinding penyangga satu sisi dari ruang kamarku. Beberapa hari ini suasana kota memang cukup membuat nyaman, panasnya udara Jakarta yang biasanya tak luput dari setiap jejak dan helaan nafas para penghuninya kini berlalu dan berganti dengan kedinginan suasana yang terkadang juga dihiasi dengan indahnya butiran-butiran hujan.
Malam ini memang jadwalku untuk menghubungi ibu di kampung sana. Sengaja aku menunggu waktu hingga saat Isya telah berselang. Karena aku tahu, memang biasanya ibu baru pulang selepas shalat Isya berjama'ah setelah sebelumnya mengajar mengaji di mesjid.
Sesaat kemudian sebuah suara lembut, penuh cinta dan kasih sayang segera menyapaku di ujung sana. Untaian-untaian nasihat darinya lebih indah dari hanya sekedar alunan-alunan nada. Kata-kata bijaknya lebih bermakna dari hanya sekedar puisi-puisi atau sajak-sajak para pujangga.
"Yaa Rabb, terima kasihku telah terlahir dari ia sang wanita mulia," gumamku.
Waktu masih berjalan, seperti biasanya setelah aku bertanya bagaimana kabar beliau di sana, beliau selalu berbalik berganti tanya tentang keadaanku di sini. Aku tahu, kekhawatirannya akanku adalah satu bukti rasa cinta dan sayangnya padaku.
Percakapan kami berlanjut hingga akhirnya sampai pada satu ketika aku mengabarkan pada beliau, bahwa aku baru saja membeli sebuah buku baru. Sebuah novel dengan segala kemasyhurannya. Kukatakan pada beliau tentang isinya yang begitu sarat makna dan manfaat bagiku. Sepertinya beliau senang sekali mendengarnya. Beliau selalu mengaitkan kesamaan karakterku dengan almarhum bapak yang juga memiliki satu hobi yang sama denganku, yaitu buku.
"Asal jangan lupa, kalau kita ternyata sebetulnya masih memiliki satu mahakarya yang lebih sempurna dari beribu karya yang ada. Ada satu mahakarya yang lebih bermakna dari berjuta rangkaian kata. Dan, ada satu mahakarya yang lebih sarat akan ilmu dari bermilyar luapan ilmu yang ada pula."
"Mahakarya itu lebih menarik dari hanya sebuah novel fenomenal. Mahakarya itu lebih lengkap dari hanya sebuah karya sejarah. Mahakarya itu lebih runtut daripada hanya sebuah biografi orang-orang terkenal. Bahkan mahakarya itu juga lebih bijak daripada segala tata aturan dan perundangan yang ada di berbagai negara di belahan mana pun di dunia ini. Itulah mahakarya yang telah Allah turunkan melalui Jibril pada sang Rasul Allah, Muhammad SAW."
Aku tersentak, bukan kaget atas ketidaktahuanku, namun sungguh aku malu akan kelalaianku dalam mentafakuri satu mahakarya itu. Satu mahakarya yang telah Allah kirimkan sebagai bentuk hamparan rahmatNya yang terhampar bagaikan untaian-untaian cinta bagi para hambaNya dalam menapaki kehidupan di dunia yang fana ini.
Tak jarang diri ini lebih banyak mengagumi karya-karya dari berjuta hamparan penulis-penulis muda, yang setiap hari dengan cepatnya tumbuh dan bertambah banyak bagai jamur di musim penghujan. Menjadikannya karya-karya mereka sebagai satu acuan hidup, bahkan tak jarang pula sampai mampu mempengaruhi satu sisi hidup kita. Untuk kemudian mengidolakannya, sampai di setiap agenda bedah karya mereka, kita tak pernah ketinggalan untuk selalu ada di barisan terdepan.
Padahal untuk mahakarya yang benar-benar mahakarya itu sendiri ternyata kita sering terlupa, lalai, bahkan sampai seakan meniadakan akan keberadaannya. Na'udzubillah...
Aku jadi teringat dalam acara kajian bedah Al-Qur'an di beberapa waktu yang telah terlewat. Jumlah mustami yang hadir berbanding jauh dengan jumlah mustami di sebuah acara bedah buku. Bagai antara ibu jari dan telunjuk yang dihimpitkan, begitulah kiranya perbandingan mustami yang hadir saat itu. Dan yang lebih menambah aneh adalah, mereka yang hadir di acara kajian Al-Qur'an biasanya adalah mereka yang telah matang dalam segi usia. Bukan mereka kaum muda yang sebetulnya masih memiliki semangat prima dalam menegakkan panji-panji Al-Qur'an.
Mungkin saatnya kita berbenah diri, memilah, dan berlaku adil akan apa yang semestinya kita mampu berbuat adil. Berusaha kembali menebar semangat untuk mengkaji sang mahakarya, memahaminya, serta mengamalkannya. Hingga nantinya kita mampu menempatkan Al-Qur'an sebagai satu-satunya pedoman hidup yang betul-betul mampu membimbing diri ini dalam menapak jauh dan semakin mendekat akan rahmatNya. Insya Allah.
Wallahu a'lam bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026