Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://fathimatulazizah.kotasantri.com
Bergabung
16 November 2009 pukul 05:34 WIB
Domisili
Karanganyar - Jawa Tengah
Pekerjaan
Bu RT
Tulisan Betty Lainnya
Hidup Itu Pilihan
25 November 2009 pukul 15:10 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 5 Desember 2009 pukul 15:20 WIB

Mantel dan Hujan Deras Sore Itu

Penulis : Betty Herawati

Sejak siang, langit memang tak cerah. Mendung beberapa hari ini menggelayuti Aulia dan sekitarnya. Tak heran bila kami sering menyalakan lampu agar mata tidak terlalu bekerja keras di depan monitor. Beberapa kali saya melihat keluar. Hujan sebentar lagi sepertinya turun. Saya teringat mantel yang tertinggal di rumah. Mantel pemberian Emi, adik sekamar di pondok dulu, saat saya milad.

Mantel itu baru saya gunakan tiga kali; saat harus menemui adik-adik di kampus seberang, saat outbond bersama teman-teman, dan saat hujan dua hari yang lalu. Dulu, sederas apapun hujan, saya enggan untuk memakai mantel saat mengendarai sepeda motor. Ribet, pikir saya. Toh, rok dan kaos kaki juga basah dan harus segera dicuci begitu sampai rumah. Ternyata kini pikiran saya berubah. Ya! Sejak ada mujahid kecil yang menemani ke mana pun saya pergi.

Menjelang Ashar, hujan mulai turun. Padahal, saya biasa pulang segera setelah shalat Ashar. Ada yang menawarkan boncengan gratis, tapi saya tolak karena ada acara selepas Ashar. Memang tidak lucu kalau nekad menuju tempat acara, sementara saya basah kuyup. Maka, saya memutuskan untuk menunggu barang sejenak.

“Betty mau basah-basah juga?” tanya Ustadz Badawi, pimpinan salah satu penerbitan di Solo (Aulia Press), ketika melihat saya berkemas.
“Nunggu sebentar lagi, Ustadz.”
“Nggak bawa mantel?”
“Ketinggalan.”
Oo… Jadi malu. Teringat dulu saat mendapat pertanyaan yang sama, saya memberikan jawaban, “Tidak terbiasa memakai mantel, Ustadz.”
Jawaban itu membuat saya ditegur, “Kebiasaan yang tidak perlu dibiasakan, Bet.”

Begitulah. Tak lama berselang, Izzati, salah seorang putri Ustadz Badawi, membawakan mantel untuk saya sambil hujan-hujanan dengan sepeda mininya.
“’Ammah Betty…” gadis kecil itu mengulurkan mantel begitu saja, lantas kembali bermain hujan-hujanan.

Setelah ada mantel di tangan, saya berniat segera meluncur ke tempat acara. Namun, kilat dan petir yang beberapa kali menyambar membuat saya urung. Tak ada salahnya menunggu barang beberapa menit. Entahlah… tak biasanya saya khawatir dan menunda keberangkatan ‘hanya’ karena kilat dan petir. Saya memutuskan untuk menunggu sampai hujan yang mengguyur itu menjadi gerimis kecil. Setidaknya saya berharap percik-percik yang turun itu tidak terasa sakit begitu menetes di muka.

Hampir setengah jam menunggu, hujan tak reda. Prediksi saya; hujan akan tetap turun dalam waktu yang lama. Mau tak mau, saya pun segera beranjak pulang.

“Hujan juga tentara Allah dan tentara Allah tidak akan saling menyakiti, bukan?” Terngiang kembali kata-kata dari seorang senior yang menyemangati adik-adiknya untuk tidak menjadikan hujan sebagai alasan izin dalam sebuah pertemuan. Ah, tapi kali ini kondisinya sungguh berbeda. Saya memutuskan untuk tidak datang (izin) dan langsung pulang ke Karanganyar.

Hujan begitu derasnya hingga jalanan yang saya lewati menjelma menjadi sungai-sungai kecil. Cuaca yang gelap dan ketergesaan para pengguna jalan menjadikan keadaan semakin ruwet. Saya mengurangi kecepatan dan berhati-hati melewati jalanan yang licin dan tergenang air. Perjalanan 22 km sore itu jadi terasa semakin panjang. Sepanjang jalan tak henti-hentinya saya berdo'a agar hujan tidak disertai angin. Biarlah ia turun dengan deras. Yang penting tidak ada yang roboh dan menghalangi jalan.

Menjelang Maghrib, saya sampai di rumah. Basah juga meski sudah memakai mantel. Namun, Alhamdulillah, tidak basah kuyup seperti biasanya. Saya kembali teringat Emi yang menghadiahi saya mantel. Sungguh, kini saya merasa pemberiannya begitu berguna. Akhirnya saya (kembali) tersadar betapa hadiah yang diberikan seorang saudara akan semakin menambah kedekatan dan kasih sayang. Ya, di musim hujan ini, mantel itu akan selalu mengingatkan saya padanya. Dan kini saya merindukannya. Semoga Allah menjaganya dalam bentang luas kasih sayangNya.

Bila ada rindu, maka berdo'alah padaNya
Semoga kerinduan itu, akan banyak menolong
Saat dirimu jauh dari tangan-tangan hambaNya

(Suara Persaudaraan)

Lalung Permai, 010209: 17:03
Saat rindu Ar-Royyan : Semoga banjir tak kembali menerjang.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Betty Herawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1088 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels