
Pelangi » Refleksi | Kamis, 3 Desember 2009 pukul 15:50 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Tubuh mungil menjerit ngeri hendak terbebas. Lolongan perih kesakitan menghentakkan ruang bertirai putih. Untuk kesekian kalinya, jarum suntik kembali menghujam tangan lemas tak berdaya. Tetesan darah mengalir perlahan melalui selang tipis panjang. Tangisan memekak bergemuruh memenuhi bangsal.
Kau pasti berdebar, nak. Merasakan sakit tak terperi jarum suntik yang menghujam tubuh kecil. Tujuh jam tetesan darah dalam gelembung botol harus berpindah dalam tubuh lemas dengan wajah pias pucat pasi.
“Transfusi darah. Ini satu-satunya jalan penyambung hidup bagi penderita Thalasemia,” ultimatum itu sering kudengar, saat mengantar tubuh mungil tak berdaya memasuki bangsal rawat inap.
Dan aku hanya bisa tergugu haru, saat tangan mungil itu memeluk erat pundak tak mau lepas dengan tangisan memekak. Aku tahu, saat itu kau hendak membenamkan semua ketakutan melihat jarum suntik. Rasanya, aku ingin menjelma menjadi darah-darah segar yang dapat menyusup halus dalam tubuh mungilmu, tanpa membebani dengan adanya rasa perih.
Tahukah kau makna berumur 15 bulan dengan penyakit kelainan darah bawaan Thalasemia?
Aku membacanya sebagai tanda “Hidup adalah Perjuangan dalam Anugerah". Perjuangan untuk tegar menghadapi cobaan Sang Kuasa yang telah memberikan anugrah berupa kehidupan.
Dan kau tahu, gadis kecil?
Dari penyakitmu, aku yang dewasa mencoba belajar. Menelusuri bahwa tak perlu ada keluh kesah, resah gelisah yang melilit menjadi beban. Anggap semua adalah berkah kasih sayangNya dalam perjalanan menuju bahagia. Meski terkadang sulit membuka mata mencari hikmah dalam setiap cobaan.
Dalam sakitmu, maukah kau berjanji, gadis kecil? Akan terus mengajariku untuk tetap mensyukuri anugerah dalam bentuk apa pun. Mengajariku untuk dapat menerima apa pun, sepahit apa pun setiap bentuk ujian tanda kasih sayangNya. Insya Allah.
Bangsal 403, Shinjuku Hospital
Teruntuk Nanami Sholihah, gadis kecil tercinta.
KotaSantri.com © 2002-2026