Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://muhammadrizqon.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Konsultan
http://muhammadrizqon.multiply.com
rizqon.ak@gmail.com
Tulisan Muhammad Lainnya
Buktikan Syukurmu dengan Berqurban
10 November 2009 pukul 16:33 WIB
Pas, Tidak Kurang Tidak Lebih
1 November 2009 pukul 15:55 WIB
Terbelenggu Atas Nama Cinta
22 Oktober 2009 pukul 16:00 WIB
Cinta Membutuhkan Kemandirian
7 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Kemenangan Ditentukan pada Garis Akhirnya
25 September 2009 pukul 16:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 19 November 2009 pukul 16:35 WIB

Bersikap Lembut dan Rendah Hati

Penulis : Muhammad Rizqon

Bunda, demikian teman-teman sering memanggilnya, adalah seorang muslimah yang sedang berkobar semangatnya dalam belajar membaca Al-Qur'an (qira'ati). Ibu muda beranak dua itu, beberapa pekan terakhir ini sering menyambangi isteri untuk belajar qira'ati secara lebih intensif sebagai bekal menempuh ujian yang akan segera diselenggarakan beberapa hari lagi oleh sebuah lembaga tahsin/tahfidz Al-Qur'an tempat ia belajar selama ini.

Tidak sekedar Bunda yang berjuang di "injury time" seperti itu. Odah, seorang perawat rumah sakit swasta, juga tidak kalah semangatnya menyempurnakan bacaan agar bisa lulus dalam ujian. Isteri saya, sebagai guru lembaga tahsin/tahfidz Al-Qur'an, menyambut baik semangat itu dan berkenan menyediakan waktu khusus beberapa jam di pagi hari atau di malam hari. Meski sebenarnya jadwal kegiatan isteri sudah begitu padat, demi menghargai semangat dan membangkitkan optimisme, isteri saya menyanggupi permintaan mereka yang merasa tidak cukup dengan belajar di kelas secara reguler (terjadwal).

Odah, ibu muda yang bersuamikan seorang anggota korps marinir dan memiliki satu anak, seringkali membawa serta anak terkasihnya ketika datang menyambangi isteri saya dan sering pula diantar oleh suami tercinta ketika ia harus belajar di malam hari. Bila saya berada di rumah, saya ikut juga menemani sang suami yang sedang menunggu isterinya belajar itu. Beruntung Odah memiliki suami yang sangat pengertian dan mendukung aktivitas belajarnya. Ada kesadaran bahwa apa yang mereka pelajari bukanlah hal yang sepele, karena mereka mempelajari kalam Ilahi walau masih sebatas cara membacanya. Kita mengetahui bahwa kalam Ilahi (Al-Qur'an) adalah petunjuk yang akan membimbing kehidupan manusia ke masa depan yang lebih baik, khususnya kehidupan abadi di akhirat kelak.

Saya pun kagum terhadap sang suami yang ternyata ikut belajar tahsin juga di kelas bapak-bapaknya. Baru kali itulah saya menjumpai seorang marinir yang selalu dipersepsikan memiliki kekuatan jasadiyah, ternyata memiliki kelembutan hati untuk belajar Al-Qur'an. Subhanallah. Andai semua marinir (prajurit dan pimpinan) memiliki kesadaran seperti suami Odah itu, maka kekuatan fisik yang dimiliki oleh para prajurit di negeri ini akan berpadu secara harmonis dengan kekuatan akhlak yang dibentuk dari hasil interaksi dengan Al-Qur'an yang membentuk kekuatan luar biasa penuh wibawa. Layaknya pasukan yang dipimpin panglima Khalid bin Walid yang selalu memenangi pertempuran.

Ketika ujian usai dilangsungkan di lembaga tahsin/tahfidz itu, mereka harus menerima kenyataan "pahit" akan hasil yang diperoleh mereka. Baik Bunda maupun Odah dianggap belum layak naik peringkat, meski bacaan mereka secara awam sudah cukup bagus. Penilaian yang ketat atas kriteria kelulusan menjadikan mereka harus mengulang bersama rekan-rekan lain yang juga gagal dan harus berkompetisi dengan para peserta baru yang akan segera bergabung.

Di samping itu, dengan gagal naik peringkat itu, mereka yang pada awalnya satu kelas dan merasa sudah akrab seperti keluarga bersama teman lainnya, di tahun berikutnya mereka harus berpisah dan bergabung dengan orang-orang yang berbeda. Kegagalan mungkin tidak begitu dirasakan bermasalah. Berpisah dengan orang-orang yang sudah merasa akrab dan dianggap saudara itulah yang boleh jadi menimbulkan sedikit kesedihan.

Nuansa psikologis demikian menjadikan mereka sensitif. Ingatan mereka kembali pada saat-saat ujian dilangsungkan. Mereka menilai betapa sang penguji dalam ujian itu sama sekali tidak menunjukkan penghargaan atas jerih payah upayanya untuk bisa menghadapi ujian. Mereka berpikir seharusnya sang penguji tidak hanya melihat dari sisi negatifnya saja, sisi positif dari para peserta seharusnya juga dilihat. Mereka merasa tersinggung dan tidak dihargai ketika sang penguji melontarkan kata-kata dan bahasa tubuh yang agak menyakitkan, "Kamu ngejar target ya? Ngulang aja kamu ya!" Begitulah kata-kata penguji itu memberi vonis.

Boleh jadi, hasilnya akan lain andai penguji itu menunjukkan wajah lembut dan kata-kata appresiatif. Misalnya, "Belajar qira'ati itu terkadang memang tidak mudah. Tapi saya mengagumi semangat Anda dalam belajar. Untuk tahun depan, saya mengharapkan anda belajar lebih keras lagi. Janganlah terpaku pada nilai atau mengejar naik tingkat. Belajar itu memerlukan proses, terlebih jika menginginkan hasil yang baik. Oleh karenanya, meluruskan niat itu penting. Ini adalah hasil yang terbaik buat Anda. Anda sedang diuji. Insya Allah, jika Anda istiqamah, cepat atau lambat, Anda pasti akan bisa."

***

Serupa dengan kisah guru dan murid di atas, kita sebagai orangtua, yang memiliki kesibukan di luar rumah, ada kalanya bersikap kurang bijak juga dalam mensikapi anak. Misalnya orangtua menghadapi seorang anak yang susah diatur, yang malas-malasan disuruh mandi, sarapan, berangkat sekolah, atau diminta tolong mengerjakan suatu kebajikan. Jika tidak sabar, kata-kata yang terucap adalah kata-kata makian yang bisa berimplikasi buruk bagi perkembangan jiwa seorang anak.

Orang dewasa bisa memaklumi kenapa terkadang orangtua bersikap emosional seperti itu. Boleh jadi, sang ayah atau ibu sedang diburu harus mengerjakan suatu urusan, atau harus segera berangkat ke tempat kerja, atau sedang fokus dengan tugas-tugas lainnya. Namun seorang anak seringkali tidak bisa memaklumi, karena ia hanya mengenal bahasa kelembutan, bahasa rendah hati, dan bahasa cinta.

***

Bersikap lembut dan rendah hati, khususnya bagi seorang guru atau orangtua, berpengaruh besar bagi keberhasilan misi pendidikan yang ditujukan bagi seorang murid atau anak. Sering kita jumpai keluhan-keluhan dan kekecewaan di kalangan murid atau anak tentang sikap seorang guru atau orangtua yang kurang berkenan di hati mereka.

Jawaban sederhana dari masalah tersebut boleh jadi karena seorang guru atau orangtua itu tidak utuh dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW atau mereka belum mampu menanamkan akhlak Rasul pada diri murid dan anak. Akibatnya, guru atau orangtua sering bersikap tidak sabar dan bijaksana, sementara mereka (murid atau anak) menjadi mudah tersinggung, cengeng, atau sensitif menyikapi kata-kata yang boleh jadi adalah teguran atau nasihat untuk kebaikan diri mereka.

Kelembutan dan rendah hati adalah nilai-nilai akhlak yang sangat relevan bagi keberhasilan tugas pendidikan. Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan, dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan dan badan. Sedangkan rendah hati adalah adalah perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya mendekatkan, mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan, dan mengikis kekakuan.

Rasulullah SAW adalah teladan agung dalam akhlak kelembutan dan rendah hati. Suatu ketika, Rasulullah SAW pergi ke negeri Thaif dalam upaya memperluas dukungan terhadap dakwah beliau. Beliau yakin bahwa penduduk Thaif mau menerima ajakan dakwah beliau untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan menerima beliau sebagai utusan Allah terakhir sebagai pembawa kabar gembira dan rahmat bagi seluruh alam. Namun apa yang terjadi? Bukan sambutan yang beliau terima, melainkan sambitan atau lemparan batu. Sungguh mengenaskan kondisi yang dialami oleh Rasululllah SAW dan sungguh kurang ajar sikap yang ditunjukkan oleh penduduk Thaif. Sampai-sampai malaikat penjaga bukit menawarkan kepada beliau untuk membalikkan bukit yang dijaganya dan menimpakannya kepada penduduk Thaif agar semuanya tewas binasa. Tetapi apa jawaban Rasulullah SAW? Beliau menjawab dengan kelembutan dan rendah hati. Beliau berkata kepada Malaikat penjaga bukit, "Jangan timpakan bukit itu kepada mereka, sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Mudah-mudahan ada di antara keturunan mereka kelak yang beriman kepadaku." Subhanallah. Sebuah kisah yang sangat menyentuh dan bermakna luar biasa. Boleh jadi hati ini akan makin mengharu biru bila menekuni bait-bait shirah Nabawi yang penuh dengan hikmah dan teladan akhlak mulia.

Dalam kisah Bunda dan Odah di atas, mereka bisa memaklumi kenapa seorang guru bisa berkata kurang menyenangkan. Mereka tidak merajuk kemudian tidak mau lagi belajar. Mereka menyadari bahwa seorang guru adalah manusia biasa yang juga memiliki banyak kelemahan. Namun bagaimana bila yang dihadapi seorang guru adalah bukan orang-orang yang faham seperti Bunda dan Odah? Bisa jadi hati mereka akan mematah, merajuk, dan menjauh dari kebaikan yang diserukan. Demikian halnya seorang guru yang tersakiti oleh seorang murid, bila tidak disikapi dengan bijak, akan menimbulkan kelemahan dan keputusasaan dalam menyampaikan tugasnya. Komunikasi positif harus terbangun dua-arah di antara mereka untuk menciptakan sebuah keharmonian.

Semoga hati kita tergerak untuk meneladani akhlak-akhlak mulia Rasulullah SAW, khususnya akhlak bersikap lembut dan rendah hati. Dalam peran apa pun yang kita hadapi, utamanya sebagai guru, pemimpin, orangtua, atau juru dakwah, kita patut membiasakan bersikap lembut dan rendah hati di tengah keluarga, di tengah pergaulan sesama saudara muslim dan masyarakat luas. Sebagaimana kekerasan yang hanya menimbulkan antipati atas kebenaran dan jauhnya orang dari kebaikan, maka kelembutan dan rendah hati ini mampu menjadikan nilai-nilai kebaikan makin tersebar dan menjadikan orang menyambut positif atas seruan ajakan ke jalan Tuhan. (QS. 16 : 125).

Wallahu a'lam bishshawab.

http://muhammadrizqon.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lina | staff adm
Subhanallah... Ingin sekali bisa bergabung, berbagi cerita, dan bertanya. Artikelnya bagus-bagus.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1152 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels