|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Senin, 16 November 2009 pukul 16:45 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Suatu hari, ketika saya dan teman-teman sedang makan siang, kami membicarakan tentang adanya wajib militer di Korea Selatan. Lalu, teman saya yang lain, seorang Jepang, berbicara tentang damainya masyarakat Jepang. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba pembicaraan beralih menjadi tentang perang dan situasi Timur Tengah yang selalu panas. Saat itulah, dari teman Jepang itu tercetus kira-kira seperti ini;
"Saya heran dengan Palestina, dengan bom bunuh dirinya. Kenapa mereka menggunakan anak-anak di bawah umur untuk melawan Israel." Pas saat itu, bel masuk pelajaran berikutnya berbunyi, ia berkata, "Saya bukan muslim, bukan Kristen, dan juga bukan Yahudi, saya tidak peduli dengan apa yang terjadi di sana, tapi saya tidak setuju dengan cara yang dilakukan oleh rakyat Palestina untuk berperang."
Kira-kira begitulah ungkapan teman saya itu.
Konflik Palestina memang seperti benang kusut yang tidak pernah selesai. Banyak kepentingan yang bermain di sana. Bangsa zionis Israel yang memaksa masuk untuk menguasai Palestina, untuk mendirikan negara mereka sendiri di Palestina. Sejarah yang panjang, terutama setelah runtuhnya kekhalifahan islam yang terakhir di Turki, dan bangsa-bangsa muslim terpecah-pecah dan menjadi jajahan bangsa-bangsa Barat, dari situlah Inggris menghadiahkan tanah suci Palestina kepada Israel. Dan mulailah berbondong-bondong umat Yahudi itu mendatangi Palestina dan menguasai sedikit demi sedikit tanah Palestina.
Saat ini, Israel dengan dibantu Amerika, berusaha untuk mengusir rakyat Palestina dari negerinya sendiri dengan berbagai cara. Mereka mengusir rakyat Palestina dari tanah-tanahnya sendiri. Lalu digantikan dengan pemukiman Yahudi. Berita terakhir yang saya baca tentang Palestina adalah, Israel dengan dibantu Amerika memblokade rakyat Palestina yang dipimpin Ismail Haniya, sehingga tidak ada dana, obat-obatan, dan bahan makanan yang bisa masuk ke Palestina. Bahkan Israel dengan pongahnya mendirikan semacam benteng di sekitar kota-kota di Plestina, sehingga rakyat Palestina sulit untuk mendapat pasokan makanan dan kebutuhan hidup sehari-hari dari luar. Sampai akhirnya HAMAS merobohkan benteng tersebut dan rakyat Palestina bisa ke luar dari kungkungan yang menyengsarakan itu.
Indonesia pernah merasakan bagaimana sakitnya dijajah oleh bangsa lain. Bangsa penjajah tersebut memiliki peralatan perang yang lebih modern . Indonesia pernah merasakan berperang dengan memakai bambu runcing, dan putera-puterinya pernah rela mengorbankan dirinya, bahkan meledakkan dirinya agar bisa menghancurkan kekuatan musuh penjajah.
Tetapi apa yang dialami oleh rakyat Palestina, lebih buruk dari penjajahan di Indonesia. Rakyat Palestina hanya memiliki batu-batu yang dilemparkan oleh seluruh rakyat Palestina untuk melawan tank-tank dan senjata modern Israel. orang-orang Israel pun tidak segan membalas lemparan batu dari tangan-tangan kecil Palestina itu dengan raungan senapan canggih. Bahkan dengan taktik blokade yang dilakukan oleh Israel yang didukung Amerika, mereka dengan tega membiarkan anak-anak Palestina mati kelaparan atau karena penyakit yang hanya bisa ditemukan obatnya atau dioperasi di luar Palestina. Sungguh suatu kebiadaban yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Karena itu, siapa pun akan memaklumi, bila seluruh rakyat Palestina berusaha melawan kebiadaban Israel itu. Sungguh kita bisa memahami mengapa banyak remaja-remaja Palestina memilih melakukan bom syahid daripada melihat penderitaan yang terjadi kepada saudaranya, orangtuanya, atau tetangganya. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengusir Israel dari Palestina selain melakukan perlawanan. Dengan berbagai cara.
Anak-anak Palestina dan remaja Palestina, lebih dewasa dari usia mereka sesungguhnya. Mereka terbiasa melihat kepahitan, terbiasa dengan perang, sehingga tidak ada kata "muda" dalam diri mereka. Cara mereka memaknai hidup, dengan cara orang Jepang memaknai hidup juga jauh berbeda. Bagi mereka, hidup adalah perjuangan, mati adalah kehormatan, dan tidak ada ketenangan selama negeri mereka masih dalam penjajahan Israel.
Sesuatu yang tidak dipahami oleh anak-anak muda Jepang, yang selalu hidup dalam damai.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.