|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|





Rabu, 11 November 2009 pukul 16:30 WIB
Penulis : Sus Woyo
Saya sedikit kaget, ketika pembantu rumah tangga majikan saya bercerita tentang keberadaan saudaranya yang bekerja di tempat lain. Kaget karena selama ini saya tidak pernah mendengar sekalipun ceritanya tentang kesedihan. Ia selalu mengabarkan tentang kebahagiaannya kepada teman saya itu, baik lewat telepon ataupun hanya sekedar pesan singkat lewat ponsel saya.
Saya mencoba mengingat kembali kabar bahagianya beberapa waktu lalu. Yang kadang membuat 'asisten' rumah tangga majikan saya sangat iri dengan apa yang sedang dialami oleh saudaranya itu.
Ketika banyak sekali para buruh migran Indonesia di Brunei ini tidak ada waktu istirahat, karena banyaknya pekerjan, perempuan ini justru diberi waktu istirahat siang hari. Ketika banyak dari warga kami yang bekerja di perumahan tidak pernah nonton acara televisi, karena kesibukan kerja, perempuan ini justru diberi tv sendiri di kamar pribadinya. Ketika banyak sekali PRT yang sangat sulit sekali untuk ke luar rumah, perempuan ini justru diberi kesempatan banyak untuk ke luar, sehingga ia juga sempat menjalin kasih dengan sesama pekerja Indonesia yang menjadi kuli bangunan tak jauh dari rumah majikannya. Ketika banyak pembantu lain yang belum mempunyai HP, ia justru ada yang menjatah pulsa setiap kali ponselnya kosong. Dan berita terakhir yang saya terima dari teman saya adalah ia sedang menjalin asmara juga dengan sang majikan tanpa sepengetahuan istri majikan tersebut.
Maka suatu saat saya bergumam sendiri, "Ia seolah sedang disurgakan." Apa yang sedang dialami perempuan ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang sedang dialami pembantu rumah tangga di rumah majikan saya. Sebab teman saya itu belum pernah mengalami seperti apa yang sedang dialami saudaranya itu.
Namun sekarang ini, perempuan 27 tahun yang sudah berputra dua itu sedang dirundung duka yang mendalam. Beberapa hari lagi, ia harus ke luar dari Brunei, sebab visa yang ia bawa ternyata bukan visa untuk bekerja, tapi visa untuk kunjung saja atau 'visit'. Dan masa berlakunya sudah habis. Ia menyesal sekali kenapa terjadi hal seperti ini. Dan agar bisa bekerja kembali di negeri Brunei, ia mesti mengurusnya kembali di Indonesia, minimal di kantor imigrasi Pontianak, kota terdekat dengan tempat ia bekerja. Dan tentu saja bukan uang kecil yang harus ia keluarkan kembali. Ia menangis ketika mengabarkan hal itu semua kepada teman saya.
Dikala sedang mengalami kesedihan tentang keberadaan visa-nya, tiba-tiba istri sang majikan mencium hubungan mesra antara suaminya dengan pembantunya itu. Suasana tambah ruwet. Majikan lelaki yang diharapkan bisa membantu keruwetan ini, akhirnya malah justru jadi bumerang. Perempuan itu menangis lagi.
Beberapa hari terakhir ini, ia kerap menghubungi teman saya. Ia minta dicarikan pinjaman uang kepada siapa saja yang mau membantu. Uang itu akan dipergunakan untuk biaya mengurus kembali visa agar bisa kerja di Brunei lagi. Sebab, menurut penuturannya, ia malu untuk pulang kampung, karena belum pernah kirim uang untuk suami dan anaknya.
Ketika ditanyakan oleh teman saya, kenapa tidak minta bantuan kepada pacarnya atau majikannya, dia menjawab, bahwa mereka tidak bisa membantu urusan ini semua.
Akhirnya, saya dan teman saya itu mencoba untuk berusaha mencarikan jalan keluar. Namun apa daya, kami juga tidak bisa membantu dalam bentuk keuangan. Setelah mencoba ke sana ke mari, menemui beberapa teman, ternyata semua juga sedang kesulitan.
Saya hanya bisa termenung mendengar kisah perempuan itu. Perempuan yang selama delapan bulan terakhir ini tak pernah merasa pahit getirnya ikut majikan di luar negeri, seperti kami.
Ternyata kejadian itu merupakan peringatan juga kepada kita, bahwa di dunia ini, segala sesuatunya tidak ada yang abadi. Segala yang terjadi pada manusia selalu ada batasnya. Dan itu memang sifat dunia. Ibaratnya, seseorang yang saat ini sedang menari riang gembira, tak mustahil beberapa menit kemudian akan menangis tersedu-sedu karena mengalami sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang telah dilakukannya. Dan tak mustahil juga bahwa seseorang yang saat ini sedang mengalami duka lara, beberapa waktu kemudian akan menemui kebahagiaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Atau dalam bahasa Al-Qur'an, "Sesungguhnya setelah kesedihan ada kebahagiaan."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.