Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://ramadhan_adhi.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Programmer
Menjadi seseorang yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh orang lain adalah harapan saya. Untuk itu, mohon doanya sehingga bisa menggapainya harapan tersebut...
http://dik2.multiply.com
andhika.ramdhan
ramadhan_adhi
andhika.ramdhan@gmail.com
andhika.ramdhan@gmail.com
http://twitter.com/AndhikaRamdhan
Tulisan Dikdik Lainnya
Selamat Berjuang, Ustadz!
1 November 2009 pukul 18:40 WIB
Tak Perlu Tampak Dilihat!
30 Oktober 2009 pukul 16:30 WIB
Di Sini pun Masih Ada Jalan ke Sana
20 Oktober 2009 pukul 16:15 WIB
Karena Ia Begitu Menyayangi Kita
13 Oktober 2009 pukul 18:45 WIB
Selagi Belum Dewasa!
9 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 9 November 2009 pukul 16:50 WIB

Tersenyum Ketika Semestinya Menangis

Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan

Sebuah pintu kaca itu terbuka, aku hentakkan langkah di atas lantai berlapiskan karpet beludru itu. Pancaran air conditioner segera menyergap tubuh ini, memancarkan kesejukan setelah diri ini disuguhi panasnya udara di luar sana, sejuk. Dan kini aku mampu menghirup sebuah kesegaran baru yang kini mulai menggelayuti seluruh raga ini.

Sebuah sapaan hangat sesaat kemudian telah menanti diri di depan sebuah meja front office sebuah gedung megah di satu titik kota Jakarta. Sebuah senyuman tak terlewatkan mengiringinya, "Selamat pagi, mas. Apa kabarnya?"

Terasa santun di telinga ini, gaya bicaranya layaknya seseorang yang telah begitu akrab dengan kami, para pengunjung setia gedung tersebut. Tanpa beban, tanpa gurat kesedihan, atau pun juga garis kepiluan dalam setiap tutur kata dan bicaranya.

Meskipun aku tak pernah tahu di balik semua itu, di balik senyumannya, di balik santun bicaranya, dan di balik keakraban gaya sapaannya. Hanya do'a semoga memang mereka senantiasa berada dalam kondisi yang sama antara apa yang tampil di raut muka dengan apa yang ada dalam hati serta pikir mereka.

Mungkin satu waktu kita bisa memahami bahwa itu memang sebuah tuntutan profesionalitas pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Untuk bisa tersenyum disaat mungkin kesedihan melandanya. Untuk bisa ceria disaat kepedihan menghantui sanubarinya. Dan secara tidak langsung ternyata memang itu pun yang selalu kita tuntut hadir dari mereka, meski hanya untuk sekedar memberikan satu penghibur jiwa, disaat segala masalah berderet menjadi satu pasukan yang datang silih berganti ke dalam gerbang diri ini.

Namun satu tanya adalah, pernahkah di waktu yang sama kita pun mencoba untuk mengerti mereka? Bukankah selayaknya kita pun mengerti bahkan memahami bahwa mereka pun tak beda memiliki apa juga yang kita miliki, baik itu hati atau pun jiwa. Yang setiap saat bisa luluh dan tersimpuh dalam segala dera masalah yang ada.

Teringat sebuah buku yang mengisahkan tentang mereka yang bernasib sama. Dimana lagi-lagi sebuah tuntutan profesionalitas kerja memaksa untuk dapat mampu berbuat seperti itu. Dimana bibir tersenyum walaupun sebenarnya hatinya menangis.

Namun yang menjadi satu ironi adalah apakah layak keberhasilan mereka untuk dapat menjaga penampilan mereka di hadapan kita, memberikan satu kecerian dalam hari-hari kita, memberikan satu kesan kesejukkan dalam rona-rona masalah yang ada dengan tetap berusaha tersenyum ramah, kita nilai bak sebuah nilai kemunafikan? Sebuah nilai penipuan berhiaskan tebar pesona?

Sesaat di ujung pelupuk mata ini terasa basah dengan sebuah tetes air mata. Bukan karena aku terlalu lemah untuk menerima pandangan mereka. Bukan karena aku merasa kalah dengan segala sudut pandang mereka yang berujar demikian. Atau pun bukan karena aku terlalu egois untuk mempertahankan sebuah cara pandang dan emosi diri ini.

Aku hanya berpikir, begitu naifnya kita yang dengan mudahnya menghunjamkan sebuah tusukkan atas segala kesabaran mereka dengan sebuah umpat atau cibiran untuk menguatkan ungkapan bahwa mereka orang-orang yang pandai bermunafik ria. Pandai bermuka dua. Bahkan pandai membolak balikkan fakta.

Padahal bukankah ia, sang Iman Ali bin Abi Thalib pun penah berpesan pada kita, untuk bisa selalu berbuat sesuatu yang dapat menggembirakan orang lain sebagaimana yang kita harapkan pula hal itu datang pada diri kita?

Jika memang demikian, maka bukankah selayaknya mereka juga telah memberi satu tauladan bagi kita untuk senantiasa berbuat yang sama. Menampilkan diri tetap ceria meskipun deru masalah masih tetap menggelayuti asa kita.

Semoga kita dapat senantiasa mengambil satu demi satu hikmah dari setiap apa yang kita lalui. Sehingga kehidupan yang mengiringi langkah ini senantiasa berbuah barokah.

http://dik2.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aryani | Karyawan Swasta
Salam kenal buat semua teman-teman penghuni KotaSantri.com. Sempat tau situs ini dari beberapa artikel yang dikirim oleh teman ke inboxQu. Tetapi, setelah dibuka banyak yang berguna buatQu. Semoga terus bermanfaat bagi sesama.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1035 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels