|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|





Senin, 2 November 2009 pukul 15:15 WIB
Penulis : Sus Woyo
Sering kali saya mengalami kebuntuan dalam menghadapi permasalahan hidup. Tak jarang juga saya mengadu atau 'curhat' kepada siapa saja yang saya pandang bisa memberikan nasehat kesejukan. Sekedar untuk membuka tali yang ruwet dalam pikiran.
Semakin sering saya 'curhat', rupanya semakin banyak juga ragam jalan keluar yang mereka tawarkan. Akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa penyelesaian tetap ada pada pribadi saya. Dan ujung dari segala ujung, tidak ada lain adalah pasrah, menyerah total kepada hadirat Illahi Rabbi. Alias minta pertolongan kepada Sang Maha Penolong. Karena itu memang perintahNya, "Hanya kepdaMu-lah kami menyembah. Dan hanya kepadaMu-lah kami mohon pertolongan."
Setiap hari, kita mengucap ayat tersebut minimal tujuh belas kali dalam shalat. Itu berarti paling sedikit tujuh belas kali juga kita memohon pertolongan kepada Allah SWT. Jika kita sering shalat sunnah, maka akan lebih dari jumlah itu kita merintih padaNya tentang berbagai soal kehidupan yang mengiringi kita dalam keseharian.
Sebagai orang awam, saya sering bertanya pada diri sendiri, saya sudah meminta pertolonganNya atas berbagai permasalahan yang sedang saya hadapi, tapi kenapa pertolongan itu tak datang juga? Saya sering ingin menghilangkan pertanyaan itu dari hati saya. Sebab saya takut rintihan ini menjadi jebakan terhadap 'prasangka tidak baik' terhadap Allah SWT. Namun lagi-lagi muncul dan muncul pertanyaan seperti itu.
Ada sebuah kisah, seorang laki-laki yang bekerja di kantor pemerintahan. Suatu pagi, ia sudah siap segalanya untuk pergi lebih awal. Sebab hari itu adalah hari Senin. Ia harus berangkat lebih awal karena ada upacara. Tapi setelah di angkutan kota, tiba-tiba topi hitamnya tertinggal. Ia kecewa sekali, sebab pasti akan dapat hukuman dari atasannya. Daripada harus ambil resiko di kantor, akhirnya ia turun. Dan pulang ambil topi hitam itu. Mukanya bersungut. Dan hatinya sangat jengkel.
Satu jam kemudian, ia dapat kabar, bahwa angkutan kota itu mendapat kecelakaan. Karena bertabrakan dengan truk gandengan. Ia baru menyadari, bahwa tertinggalnya topi hitam itu merupakan pertolongan dariNya.
Sering. Sering sekali kita mengalami hal yang serupa dengan itu semua. Namun lagi-lagi kita tidak menyadarinya. Karena kita masih beranggapan bahwa pertolongan dari Allah selalu berbentuk hal yang manis-manis. Sedang sesuatu yang pahit, getir, selalu kita anggap sebagai penyiksaan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.