|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://muhammadrizqon.multiply.com |
|
rizqon.ak@gmail.com |





Ahad, 1 November 2009 pukul 15:55 WIB
Penulis : Muhammad Rizqon
Setiap orang memiliki kenangan atas perjalanan masa silam yang dilaluinya. Kenangan itu biasanya terpendam kuat dalam memori bawah sadar dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai yang mendasari hidupnya.
Demikian halnya dengan Sugi, seorang sahabat yang berasal Purwodadi, Jawa Tengah. Pada kesempatan sharing, ia menceritakan pengalaman masa remajanya yang cukup unik. Saya salut karena ia mampu mengambil hikmah positif dari apa yang dialaminya itu, dan apa yang dikemukakan itu merupakan bagian dari nilai yang dijadikan pijakan dalam kehidupannya.
Sugi, seusai lulus SMP, melanjutkan pendidikan SMA-nya di kota Semarang. Ia menginginkan sekolah yang bermutu demi masa depan yang lebih cerah. Pilihan sekolah bermutu itu ia tambatkan pada sebuah SMA di kota Semarang. Meski jauh dan mengharuskannya kost di sana, ia bertekad menjalani masa belajar di sekolah yang diinginkannya itu demi cita-citanya bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi kelak.
Jarak tempuh dari kampungnya di Purwodadi cukuplah jauh. Sebagai gambaran, ia harus merogoh kocek menuju ke terminal kota Purwodadi dengan mengeluarkan ongkos Rp. 500,-, kemudian dari sana menumpang bis menuju Semarang dengan ongkos Rp. 2.000,-. Nilai uang sejumlah itu, waktu ia duduk di SMA (Tahun 1980-an), cukuplah besar, terlebih untuk ukuran orang desa seperti dirinya.
Sugi menjalani hari-harinya di Semarang dengan segala pernik suka-dukanya. Sebagai orang desa yang serba terbatas kehidupannya, terlebih sebagai anak perantauan, ia harus berdisiplin dengan dana bulanan yang dijatah oleh orangtuanya. Ia harus hidup prihatin dan mandiri agar bisa menapaki sekolahnya dengan sukses. Ia harus menjaga diri agar tidak terlarut dengan kehidupan teman-temannya yang penuh hura-hura dan dimanjakan oleh fasilitas orangtua. Ia harus tekun belajar guna menggapai kesuksesan yang diimpikannya.
Adalah hal yang wajar, jika suatu saat, dalam menjalani hari-harinya itu, ia mengalami suatu titik kejenuhan. Rutinitas belajar yang monoton, sedikitnya "hiburan", dan keterpisahan dari orangtua, bisa menjadi penyebab atas kejenuhan yang dialaminya itu. Syukurnya, Sugi adalah seorang anak yang masih lekat dengan tradisi pesantren di kampungnya. Di kota Semarang, hatinya masih terikat dengan tradisi keislaman dan tidak pernah jauh dari aktivitas masjid. Pada saat mengalami titik jenuh itu, guna menghibur hatinya yang gundah gulana, ia sering mendatangi masjid dan banyak terpekur di sana.
Suatu hari, ketika kerinduan kepada keluarganya itu membuncah, Sugi pergi ke masjid Agung Baiturrahman di jantung kota Semarang. Hatinya digelayuti sebuah kebimbangan. Ia ingin sekali pulang menjumpai orangtua yang dikasihinya, namun uang yang tersisa hanya Rp. 500,-, yang hanya cukup buat transportasi dari kota Purwodadi ke kampungnya. Artinya, ia masih memerlukan Rp. 2.000,- untuk transportasi dari Semarang ke Purwodadi. Ia dihadapkan pada pilihan apakah akan bertahan beberapa hari menunggu kiriman uang terlebih dahulu, ataukah berusaha mendapatkan pinjaman agar bisa segera pulang.
Keputusan untuk mengusahakan pinjaman uang itu dipikirnya lama-lama. Maklum, ia tidak pernah berutang dan baginya berutang itu adalah suatu hal yang tabu dan harus dihindari. Suatu siang di sudut masjid Baiturrahman sehabis shalat dhuhur, ia termenung memikirkan kondisi hatinya. Tidak cukup termenung di sudut ruangan shalat yang berada di lantai dua, ia beranjak pindah ke lantai bawah yang biasa digunakan para pengunjung masjid untuk melepas lelah. Ya, barangkali dengan berbaring santai di sana, ia akan menemukan keputusan terbaik.
Ia memilih sudut yang cocok buat menyendiri. Di sana, ia menerawang dan membayangkan, alangkah senangnya jika ia bisa pulang kampung saat itu juga. Bertemu dengan sanak keluarga serta mengobati kerinduan dan kegersangan selama ini. Ia pun masih memikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang dengan ongkos Rp. 500,- itu.
Tiba-tiba, sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Ketika ia duduk terpekur itu, di hadapannya terjatuh dua lembar uang ribuan dari lantai atas. Dia membatin, "Apakah uang itu adalah uang jama'ah yang terjatuh ketika sedang menuruni tangga masjid? Kok jumlahnya pas Rp. 2.000,-, sesuai dengan jumlah uang yang saya butuhkan?" Hatinya jadi bimbang. Uang itu pasti milik jama'ah yang terjatuh karena ia menuruni atau menaiki tangga masjid sambil merogoh sesuatu, kemudian dua uang ribuannya itu menghambur hingga terjatuh tepat di hadapannya. Ada sedikit dorongan untuk memanfaatkan uang itu, tetapi ia segera menepisnya. Sugi lantas segera mencari pemilik uang 'misterius' itu.
Ia beranjak pergi menaiki tangga menuju masjid. Ia tidak menjumpai orang di sana. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling bangunan masjid, barangkali masih ada jama'ah yang tersisa hendak pergi dengan menaiki mobil atau sepeda motor. Ia menemukan beberapa orang di sana, tetapi tidak satu pun dari mereka mengaku kehilangan uang. Kemudian ia menaiki kembali tangga masjid dan mencari-cari barangkali ada orang yang tersisa di ruangan masjid. Tetapi sayang, masjid sudah sepi dan tiada ada orang lagi di sana.
Akhirnya, dengan keyakinan bahwa uang 'misterius' itu adalah bentuk kemudahan dari Allah SWT, uang itu ia "pinjam" dan ia gunakan untuk ongkos pulang ke Purwodadi. Alhamdulillah, kerinduannya untuk segera pulang kampung pun terobati.
Sugi menyakini bahwa uang itu adalah wujud pertolongan dari Allah. Jumlahnya yang pas itulah yang menyakinkan dirinya bahwa uang itu adalah "sengaja" dikirim untuk mempermudah urusannya. Jika jumlahnya kurang atau lebih, boleh jadi Sugi tidak cukup menyakini akan hal pertolongan Allah itu.
Kejadian itu sekaligus memberikan pelajaran baginya, bahwa Allah memberikan pertolongan kepada hambaNya dalam kondisi yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Allah memberikan pertolongan kepada hambaNya sesuai dengan apa yang diminta dan dibutuhkan dengan takaran yang sangat adil. Demikian halnya dengan rezeki yang dianugerahkan kepada orang-orang yang bertaqwa. Jumlahnya sangat sesuai dengan takaran yang dibutuhkannya.
Dari situ kita bisa memahami, bahwa orang-orang bertaqwa itu, dari sisi kekayaan yang disimpannya, boleh jadi ia mengalami keterbatasan. Namun begitu ia ditimpa suatu urusan atau kebutuhan uang, Allah memberikan jalan ke luar dan rezeki yang tidak disangka-sangkanya. Seakan rezeki itu disimpan oleh Allah dan disembunyikan dari pandangannya, kemudian diberikan pada situasi yang tepat.
Hal berbeda dialami oleh orang-orang yang fujur. Meski ia memiliki kekayaan yang begitu hebat, permasalahan selalu menggelayuti hidupnya dan dia tiada pernah tuntas menyelesaikan semua permasalahannya itu. Seakan kekayaan yang dibentangkanNya itu, tiada bermanfaat apapun bagi dirinya.
Wallahu a'lam bishshawab.
http://muhammadrizqon.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.