Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Miyabi dan Otak Nakal Lelaki
17 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB
Usah Kau Lara Sendiri, Ukhti
4 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Lebaran Tidak Lewat Sini
13 September 2009 pukul 15:45 WIB
Berbuka atau Pesta?
4 September 2009 pukul 16:00 WIB
Sepatu Hitam Faisal
25 Agustus 2009 pukul 15:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 28 Oktober 2009 pukul 16:30 WIB

Mahasiswa Ampas

Penulis : Fiyan Arjun

Begitu saya katakan! Sebutan untuk mahasiswa yang ingin back to campus! Ingin mengenyam bangku kuliah kembali. Atau, sebutan bagi mahasiswa yang mengambil perkuliahan pada jam khusus. Masuk pada perkuliahan malam hari. Begitu pun dengan dosennya. MUNGKIN!

Ampas, di sini bukan arti harfiah yang sebenarnya yang saya katakan melainkan sebuah perumpamaan (majas). Atau, juga bukan sebuah singkatan dari Anak Mahasiswa (bermuka) Pas-pasan. Pun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ampas adalah sisa barang yang telah diambil sarinya atau patinya (sesudah tidak berguna) lagi lalu dibuang (tidak diperdulikan lagi). Tidak! Itu jauh dari makna sebenarnya yang saya tuliskan di sini.

Ampas mungkin menurut streotip bahwa hal itu tak berguna sama sekali dalam sebuah kehidupan. Tetapi saya katakan lagi hal ini tidak sama sekali menyangkut sesuatu atau pun benda. Karena di sini saya membicarakan tentang sebuah sikap yang patut diacungi jempol! Sebuah sikap yang dilahirkan dari lubuk hati yang ikhlas dan penuh semangat baja yang bersumber dari manusia bernama MAHASISWA.

Coba bayangkan ketika badan sudah luluh lantak seharian bergelut penuh dengan berbagai kegiatan rutinitas masih diharuskan untuk menggugurkan kewajiban kita sebagai manusia yang berpredikat mahasiswa. Harus hadir dalam perkuliahan. Tentu hal ini tak mudah untuk dilakukan bagi mahasiswa yang saat itu dengan cara dipaksakan untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang mahasiswa untuk menghadiri perkuliahan di saat-saat kondisi yang sangat-sangat melelahkan. Tetapi itulah kenyataan yang saya alami atau yang pernah saya lihat. Bagaimana kondisi mahasiswa yang benar-benar harus (pintar) memilih, antara memilih kondisi atau kuliah (lagi), semua itu untuk masa depan mereka yang lebih baik nanti. Ketimbang mendapatkan status Madesu, Mahasiswa Masa Depan Suram. Atau, Mabad, Mahasiswa Abadi. Ironi sekali!

Analoginya saya tuliskan seperti ini. Jika mereka yang berstatus mahasiswa sekaligus pekerja dan seusai melakukan kegiatan rutinitasnya mereka harus disibukan kembali dengan memenuhi kewajiban mereka untuk menghadiri perkuliahan, tentu itu suatu pilihan berat. Dengan kondisi seperti itu, mereka harus pandai pula mengatur waktu yang tepat agar tidak kewalahan. Atau, akan tercerabut masa depan mereka. Jadi memang mau tidak mau mereka harus pandai-pandai mengatur waktu. Kalau tidak? Tentu hal yang tidak diinginkan akan terjadi, seperti mengulang (her) mata kuliah yang tidak memuaskan dari segi nilai. Sungguh cobaan terberat bagi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa ampas.

Memang diakui ketika mereka atau juga saya ketika malam harinya harus menghadirkan dalam kondisi penat. Adalah suatu ujian berat. Apakah mampu untuk hadir di perkuliahan atau tidak dengan kondisi seperti itu. Dan itu kembali pada individu masing-masing. Jika tidak ingin ketidakhadirannya mengalahkan jumlah mahasiswa yang ada, ya harus hadir! Entahlah.

Namun saya juga tidak bisa men-judge apabila ada mahasiswa saat menghadiri perkuliahan tidak bisa memahami dan mencerna materi perkuliahan dengan baik. Itu lumrah. Wajar. Tetapi lagi-lagi saya katakan kembali, tidak selamanya mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada malam hari atau mahasiswa yang berusia tak muda lagi, semua mahasiswanya ber-IQ tetap sama, biasa-biasa saja. Itu salah besar. IQ mereka boleh saja diadu oleh mahasiswa yang melakukan perkuliahan secara regular, mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada pagi dan siang hari.

Ya, saya akui, mengikuti perkuliahan dalam kondisi yang sehariannya sudah dipenuhi oleh kegiatan rutinitas sehari-hari tak bisa disamakan oleh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan regular seperti biasa. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada pagi dan malam hari, dalam kapasitas kewajiban seorang mahasiswa itu tetaplah sama. Namun hanya dalam waktu dan kesempatan saja yang membedakannya. Ketika mereka (mahasiswa) disibukan oleh kewajiban sebagai makhluk Tuhan yang sempurna. Bekerja dan menjemput nafkah, baik untuk anak dan istri maupun untuk diri mereka sendiri, tentu itu tak berpengaruh banyak.

Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan pada malam hari banyak dipadati para mahasiswa dari berbagai usia, kalangan, bahkan profesi sekalian. Jadi tidak salah kalau saya mengatakan mahasiswa ampas. Namun dengan kondisi seperti itu, mahasiswa seperti ini patut dijempoli. Ternyata, di balik kepenatan mereka, menuntut ilmu sudah ter-mindset ada di deretan nomor satu di benak mereka. Amazing! Usia (boleh) tua, tetapi jiwa tetap muda. Masih mau berkeinginan belajar. Never old to learn.

Tetapi bagaimana dengan pengajarnya (dosen) itu sendiri? Hmm… Saya kira saya tak mau men-judge. Tetapi inilah yang berlaku ketika ilmu (materi) yang disampaikan tentu saja ilmu sisa-sisa yang sudah diberikan pada perkuliahan di pagi dan siang hari. Tapi itu tak mengapa, karena dalam hal ilmu tak ada kata sisa. Selalu saja didapat di mana pun berada kalau memang mahasiswa itu sendiri ingin aktif dan mau maju. Namun ada satu hal lagi yang menjadi kekhawatiran mahasiswa ampas, jika suatu saat pengajarnya (dosen) itu sendiri memberikan materi perkuliahan tanpa melihat kondisi dan situasi anak didiknya, sudah barang tentu akan menjadi problematika mahasiswa itu sendiri.

Kalau sudah begitu, siapa yang perlu dipersalahkan? Mahasiswanya atau pengajarnya (dosen)? Ya, begitulah nasib mahasiswa ampas. Tak bisa berbuat banyak! (fy)

Ulujami - Jakarta, 22 Oktober 2009

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Salsabila | Mahasiswi
Subhanallah... Walhamdulillah... Sarana dari KSC lengkap banget. Semoga bermanfaat buat kita. Amin...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1837 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels