|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Sabtu, 24 Oktober 2009 pukul 15:10 WIB
Penulis : Hifizah Nur
"Kyou wa, janazah ga kuru (hari ini ada jenazah muslimah yang akan datang)," begitu kata Fatimah san. Beberapa orang sister diperlukan untuk memandikan dan mengurusi segala keperluan jenazah itu. Saya memandang mereka dengan wajah bertanya. Ingin sekali membantu, tetapi dua anak balita saya tidak mungkin ditinggal sendirian. Akhirnya, alhamdulillah, ada juga tenaga yang bisa membantu pengurusan jenazah itu. Tujuh orang sister ditambah satu orang yang bertugas menggunting kain kafan. Proses pemandian dan pengkafanan jenazah pun dimulai.
Bukan sekali ini saja para sister di Masjid Otsuka diminta untuk mengurusi jenazah. Sudah beberapa kali saya hitung, sejak kedatangan saya ke Tokyo empat tahun lalu. Hanya, baru sekali saja saya memiliki kesempatan membantu pengurusan jenazah.
Ada sedikit keributan, setelah jenazah selesai dimandikan dan dikafankan. Pihak masjid menyarankan agar jenazah diletakkan di luar (teras masjid) untuk prosesi penghormatan terakhir dari pihak keluarga, karena ruangan masjid tidak cukup luas untuk menampung hadirin. Namun pihak keluarga marah, mereka menganggap perlakuan seperti itu berarti penghinaan terhadap jenazah. Akhirnya diputuskan oleh pengurus mesjid, jenazah akan dibawa ke lantai tiga, di ruangan yang lebih luas.
Semua sister diharapkan hadir ke atas untuk mengurangi rasa kecewa dari keluarga jenazah. Di sana suasana duka menyelimuti kami semua. "Pergilah Ayumi chan, pelan-pelan ya. Kami sayang kamu, Ayumi Chan," terdengar kata-kata perpisahan di sela isak tangis keluarga itu.
Saya mencoba menyelami perasaan orang-orang Jepang yang anaknya meninggal hari itu. Tentu berat sekali bagi mereka untuk menerima keadaan puterinya yang beralih menjadi seorang muslim. Saya tidak mengenalnya, dan tidak tahu permasalahan yang menyelimuti keluarga itu. Saya hanya tahu, muslimah itu bersuamikan orang Pakistan, dan meninggal karena sakit kanker di usia yang relatif masih muda. Itu saja.
Tapi gurat kekecewaan melihat anggota keluarga yang mereka sayangi diperlakukan sekedarnya, terlihat jelas dari setiap gerak-gerik dan kata-kata mereka. Meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dari perlakuan para sister dan brother terhadap jenazah tersebut. Tapi bagi kebanyakan orang Jepang, prosesinya 'sangat sederhana'.
Ya, orang-orang Jepang terbiasa melaksanakan prosesi perpisahan dengan orang yang meninggal secara mewah. Bahkan biasanya dilakukan di sebuah tempat yang bagus dihiasi dengan bunga-bunga. Jenazah pun dirias dan dipakaikan baju yang bagus, serta ditaburi dengan bunga-bunga sampai di sekujur tubuhnya, kecuali muka. Saat itu juga dilaksanakan semacam "pesta perpisahan", lengkap dengan sake (minuman beralkohol khas Jepang) dan kue-kue yang disediakan kepada tamu yang hadir. Dan kalau perlu, untuk terakhir kalinya, seluruh keluarga tidur di satu ruangan dengan mayat sebagai tanda perpisahan. Bagi mereka, inilah saat-saat terakhir perjumpaannya dengan sang jenazah, sebelum dibakar menjadi abu. Seluruh proses tersebut bisa menghabiskan dana ratusan ribu, bahkan mungkin sampai jutaan yen. Betapa berbedanya dengan proses yang dilakukan oleh brother dan sister di Mesjid Otsuka, yang tanpa mengeluarkan uang sepersen pun.
Saya sadar, ini terkait erat dengan perbedaan antara tradisi setempat dengan tradisi orang muslim, dalam hal menghantarkan seseorang ke dunia yang lain. Terkait erat dengan aqidah dan keyakinan. Setiap muslim, yang memutuskan untuk menikah dengan orang Jepang, pasti akan mengalaminya. Menghadapi semua benturan-benturan perbedaan yang akan terus berlangsung sejak mulai menikah sampai pada prosesi kematian.
Sering pula saya mendengar terjadi perebutan antara pihak keluarga si mayit dengan suami atau isteri muslim, yang berasal dari negara lain. Kalau posisi sang muslim kurang kuat, maka ia harus merelakan proses pengurusan jenazah suami atau isterinya dilakukan dengan tata cara Jepang, lengkap dengan pembakaran dan menempatkan abunya di pemakaman Jepang. Sesuatu yang sangat menyakitkan bagi yang mengalaminya. Sampai seorang teman yang menikah dengan orang Jepang, memutuskan untuk meminta suaminya menuliskan surat wasiat. Isinya adalah, bila ia meninggal, jenazahnya harus diproses dengan tata cara Islam. Bahkan seorang teman lain, berharap agar bila meninggal, suaminya sudah berada di Indonesia agar tidak mengalami hal-hal yang rumit seperti di Jepang ini.
Hmm, menjalani pilihan-pilihan hidup ternyata tidaklah sederhana. Ada banyak pertimbangan dan juga perjuangan yang menanti ke depan. Menjadi pasangan bagi seorang muslim mualaf juga memerlukan konsekuensi yang besar. Apalagi bila memutuskan untuk tinggal di negara pasangannya. Perlu modal keteguhan hati untuk beradaptasi dan membimbing pasangannya melawan arus budaya masyarakat yang sudah dijalaninya sepanjang hidupnya, sebelum menjadi muslim. Selalu berusaha mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan dengan keluarganya yang non muslim, ternyata menjadi hal yang penting, terutama untuk persiapan ketika menghadapi musibah, menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja.
Semoga Allah selalu meneguhkan diri kita dalam menghadapai semua perbedaan yang kita temui dalam hidup ini. Semoga kita bisa istiqamah menempuh jalanNya, di mana pun kita berada. Amin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.