QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Dakwah dengan Perbuatan
11 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Ketika Nurani Tak Lagi Bicara
2 Oktober 2009 pukul 16:45 WIB
Solidaritas dalam Diam
24 September 2009 pukul 15:25 WIB
Cahaya Ramadhan
11 September 2009 pukul 16:00 WIB
Karena CintaNya
3 September 2009 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 21 Oktober 2009 pukul 16:00 WIB

Tengoklah ke "Dalam", Sebelum Bicara

Penulis : Sus Woyo

Ada sebuah kisah kecil, ketika saya masih aktif bersama teman-teman di organisasi remaja masjid kampung saya. Namun kisah kecil ini telah menjadi 'prasasti' indah dalam kehidupan saya sampai sekarang.

Waktu itu, kami sedang giat-giatnya menggelar usaha keagamaan. Tiba-tiba di belakang masjid kami, salah seorang warga membuka rumahnya untuk dijadikan tempat judi togel.

Setiap malam, orang-orang ramai berkumpul di situ. Karena dari pihak desa tidak ada reaksi apa-apa terhadap judi itu, maka kami bersepakat untuk negosiasi dengan warga itu. Agar kegiatan yang banyak merugikan masyarakat itu dihentikan saja.

Dengan semangat, kami bersepakat untuk mendatangi tempat tersebut. Namun sebelum berangkat, ada salah satu senior kami yang mengingatkan. Ia berkata pada kami, "Ini kerja besar. Ini perjuangan berat. Jangan gegabah kita melangkah. Kita harus lebih siap lagi untuk maju ke medan 'jihad' ini. Ada sesuatu yang harus kita laksanakan dulu sebelum kita maju ke sana."

Senior kami itu menyarankan agar kami mengoreksi diri dulu. Sudah sejauh mana ibadah harian kita kepada Allah SWT. Sudah sejauh mana komitmen kita terhadap apa yang diperintahNya dan apa yang dilarangNya.

Akhirnya, selama beberapa hari, kami disarankan untuk sebisa mungkin shalat wajib berjama'ah. Kita juga harus bangun malam untuk qiyamul lail. Yang biasanya jarang puasa Senin Kamis, sekarang amalan Nabi itu harus dilaksanakan dengan intensif. Pokoknya, senior kami itu menyarankan agar sebisa mungkin mengaplikasikan bentuk ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Tidak hanya bentuk "amar ma'ruf" saja, tapi mesti diiringi juga dengan "nahi mungkar". Seperti yang masih merokok untuk segera meninggalkan perbuatan mubah itu.

Beberapa hari kemudian, saat hari 'H' sudah tiba, kami berkumpul lagi. Namun kami tidak jadi menemui bandar togel itu. Sebab, dengan izin Allah, orang itu sudah menutup total usahanya. Rupanya ia sudah kembali berprofesi seperti biasa, yaitu sebagai kuli bangunan. Kami merasa gembira sekali. Dan semua ini sudah jelas merupakan pertolongan dariNya. Entah apa yang terjadi seandainya kami menyikapi perbuatan salah seorang warga di dekat masjid itu dengan emosional pada waktu itu, tanpa mengindahkan nasehat senior kami.

Apakah ini sebuah kemenangan sebelum bertanding? Tidak juga. Sebab kami telah berjuang dulu, berjuang menaklukan nafsu diri. Bukankah ini juga jihad besar?

Pantas, jika sahabat Umar RA sebelum berangkat perang dengan orang kafir, selalu memeriksa pasukannya sedetil mungkin. Mereka yang malamnya tidak qiyamul lail, sementara jangan ikut ke medan jihad dulu. Kata Khalifah kedua itu, "Saya tidak takut dengan musuh yang banyak, tapi saya lebih takut kepada banyaknya dosa yang kita bawa. Sehingga kita akan kesulitan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT."

Dan sejarah juga mencatat gemilangnya perang Badar bagi kaum muslimin. Padahal perbandingan jumlah pasukan antara kaum muslimin dan kafir sama sekali tidak seimbang. Tentu sudah bisa dipastikan bahwa salah satu faktor kemenangan kaum muslimin adalah karena kualitas iman orang muslim masa itu yang sangat prima. Dan tentunya sangat minim dengan dosa-dosa. Tidak seperti kami di jaman ini.

Saya hanya bisa berpikir, seandainya saya, keluarga saya, lingkungan saya, atau skup yang lebih luas lagi negeri saya, dalam mengatasi masalah berkiblat dengan cara mereka, mungkin Allah SWT pun akan memberi kemudahan dalam mengatasi berbagai masalah.

Ya, tentunya harus dimulai dari pribadi masing-masing. Sebab tak mustahil, bahwa saya, kita-kita ini pun ternyata ada dalam barisan orang-orang yang menghambat pertolongan Allah.

Sampai sekarang, pesan senior kami di organisasi remaja mesjid bertahun-tahun lalu itu, selalu terngiang di telinga saya, manakala ada sesuatu pekerjaan yang harus berhubungan dengan orang banyak. Pesan yang pendek, namun sangat berarti, "Bacalah dirimu! Sebelum kau baca orang lain!" Atau dalam bahasa populer penyanyi balada Ebiet G. Ade, "Tengoklah ke 'dalam', sebelum bicara."

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1314 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels