Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Manusia adalah Hewan Berakal?
30 September 2009 pukul 16:15 WIB
Mama
16 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB
Ikigai (Semangat Hidup)
7 Agustus 2009 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 12 Oktober 2009 pukul 15:10 WIB

Episode-episode Kecil Cinta

Penulis : Hifizah Nur

Malam merambat naik, matahari sudah sejak lama berada di peraduannya. Dua puluh empat tahun yang lalu, di salah satu rumah di Jakarta, seorang ayah sedang asyik bercengkrama dengan kedua anaknya. “Jadi nabi Ibrahim itu menghancurkan berhala sendirian ya, yah?” tanya sang anak laki-laki kepada Ayahnya. Dijawab dengan anggukan dan tatapan sayang sang ayah. “Hebat sekali nabi Ibrahim itu ya, yah,” serunya lagi. Seorang anak laki-laki dan gadis kecil dengan serius mendengarkan cerita Nabi Ibrahim dari ayahnya. Ritual menjelang tidur, setelah seharian bermain, adalah satu yang paling ditunggu anak-anak balita itu. Satu episode kecil cinta bersama ayah yang tak pernah terlupakan.

Adzan ashar sudah berkumandang. Shalat pun sudah ditegakkan. Kali ini lantunan merdu surat-surat dari Al-Qur’an mengalun dari bibir sang ayah. Gadis kecil dengan riang mendengarkan bacaan qur’an sang ayah, sambil sesekali bermain di pangkuannya. Dan sang ayah pun tak keberatan dengan gangguan kecil tersebut. Kebiasaan ini hampir rutin dilakukan. Episode kecil lain yang saya ingat bersama ayah.

Ayahlah yang sering memperkenalkan buku-buku bagus kepada kami, sehingga kami keranjingan membaca. Ayah jugalah yang sering mengajak kami lari pagi dan pulangnya membeli koran untuk dibaca bersama-sama. Seingat saya, hal itulah yang mempercepat berkembangnya kemampuan membaca saya ketika kecil.

Ayah juga yang mengajarkan kami shalat berjama’ah. Di setiap Ramadhan, ayah sering melakukan tarawih sekeluarga. Saat-saat pembelajaran tentang nikmatnya ibadah berjama'ah, yang menghidupkan suasana relijius dalam rumah kami.

Ayah, satu kata yang tak pernah lagi terucap sejak saya berusia sepuluh tahun. Karena saat itu, beliau meninggal dunia akibat kanker dan tumor yang dideritanya. Tetapi meskipun meninggal sejak kami kecil, kenangan tentang episode-episode cinta bersama ayah, tetap hidup dalam memori kami. Dan sedikit banyak mempengaruhi perkembangan kepribadian kami.

Teringat kisah Luqman yang banyak memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Betapa seorang ayah yang shalih, benar-benar menjalani kewajibannya sebagai pendidik. Berusaha mengarahkan anak-anaknya kepada hal-hal yang baik, dengan kata-kata yang lembut dan menentramkan jiwa sang anak. Nasihat yang dimulai dengan "ya bunayya", panggilan sayang dari seorang ayah kepada anaknya.

Tentu saja ayah saya tidak sebanding dengan orang shalih seperti Luqman, yang namanya tercantum dalam Al-Qur'an. Tapi saya percaya, bahwa ayah selalu berusaha untuk mencontoh orang-orang shaih terdahulu dalam mendidik anak-anaknya.

Pepatah mengatakan, siapa yang menanam, ia akan menuai. Orangtua yang menanam kebaikan kepada anaknya, maka pahalanya mengalir terus menerus selama sang anak mendo'akannya. Karena kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan orangtua terhadap anak, sangat mempengaruhi kepribadian anaknya sampai dewasa nanti.

Biasanya, pola pendidikan dari orangtua akan menurun kepada anak-anaknya. Saya pun ingin mewujudkan episode-episode kecil cinta itu kepada anak-anak saya.

Alangkah indahnya bila di hari akhir, saya bisa berkumpul dengan ayah, ibu, dan seluruh keluarga saya di surga nanti. Seperti yang tercantum dalam ayat ini, ”Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Tuur : 21).

Semoga.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1231 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels