
Pelangi » Refleksi | Rabu, 30 September 2009 pukul 16:15 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Siang itu, cuaca agak hangat. Masyarakat Islam Indonesia yang tinggal di Nagoya sedang mengadakan kajian Islam di awal golden week, hari libur nasional yang hampir mencapai satu pekan awal Mei lalu.
Di lantai bawah gedung kegiatan milik pemerintah Jepang juga sedang berlangsung kelas anak. Tujuannya untuk mengisi kekosongan waktu saat menunggu orangtua mereka yang sedang belajar, sekaligus bersama-sama belajar Islam. Suatu kesempatan yang cukup langka di Jepang ini.
Ketika sedang asyik bermain sambil belajar, tiba-tiba, "Tante, Manusia itu kan hewan berakal," seru seorang anak SD di kelas yang sedang saya asuh.
"Tidak, nak, manusia dan hewan itu berbeda. Manusia itu lebih mulia dari binatang karena akalnya," ujar saya, berusaha menjelaskan.
Anak-anak yang terkumpul hari itu, adalah anak-anak kelas satu sampai kelas 5 SD Jepang. Beberapa bahkan anak campuran orangtua Indonesia Jepang. Kebanyakan mereka sulit mengungkapkan sesuatu dengan bahasa Indonesia. Kerja berat untuk saya dan beberapa teman yang sama-sama mengasuh kelas itu, dengan kemampuan bahasa Jepang yang terbatas.
Manusia adalah hewan yang berakal. Seringkali saya mendengar doktrin yang berinduk kepada teori biologi di Jepang ini. Teori ini bisa tertanam ke dalam pola pikir masyarakat Jepang tanpa ada pertentangan. Teori ini juga sudah menjadi hal yang umum bagi masyarakat Jepang dan pengaruhnya besar sekali terhadap kehidupan mereka. Norma-norma ketimuran yang semakin merosot kadarnya. Kebiasaan menjalani hidup tanpa rule yang jelas dalam hal makanan, ibadah, serta pergaulan bebas yang sudah semakin dianggap biasa. Kesalahan dan keburukan seseorang dianggap lumrah, karena mereka manusia yang merupakan hewan yang berakal. Asalkan tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar peraturan, silahkan melakukan apa saja. Begitu prinsip masyarakat Jepang sejauh pengamatan saya.
Ketika saya belajar di psikologi, saya memahami betapa pentingnya apa yang tertanam dalam pola pikir seseorang yang bisa mempengaruhi perilakunya. Apalagi ketika saya belajar tentang filsafat, yang teori-teorinya banyak tertanam, dipakai menjadi landasan suatu bangsa, bahkan menggerakkan revolusi dalam suatu bangsa. Karena itu, apa yang ditanam ke dalam pikiran anak-anak, pastilah hasilnya akan sesuai dengan bibit yang ditanam itu.
"Manusia itu adalah hewan yang berakal." Miris saya mendengar kata-kata itu dari anak asuh saya. Wajar memang, karena mereka sekolah di sekolah Jepang yang nota bene sekuler. Namun, tidak rela juga membiarkan mereka terdoktrin dengan teori itu. Perlu kerja lebih berat dan lebih serius untuk menyeimbangkan apa yang diajarkan di sekolah mereka dengan nilai-nilai yang indah, yang berada dalam Islam.
Problem terbesar yang akan menghadang langkah saya dan pengasuh lainnya adalah masalah bahasa. Dengan kemampuan bahasa yang sekedarnya, sulit untuk mentransfer nilai-nilai ini kepada anak-anak. Usulan kami kepada orangtua adalah, mengajarkan bahasa Indonesia secara aktif dalam komunikasi sehari-hari kepada anak. Membelikan dan membacakan buku-buku bahasa Indonesia kepada mereka, dan kalau perlu mengajarkan baca tulis, agar mereka mudah mengikuti pelajaran Islam. Ini pun kerja berat juga untuk para orangtua di sini.
KotaSantri.com © 2002-2026