QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Mama
16 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB
Ikigai (Semangat Hidup)
7 Agustus 2009 pukul 15:45 WIB
Menikmati Perbedaan
8 Juli 2009 pukul 16:49 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 30 September 2009 pukul 16:15 WIB

Manusia adalah Hewan Berakal?

Penulis : Hifizah Nur

Siang itu, cuaca agak hangat. Masyarakat Islam Indonesia yang tinggal di Nagoya sedang mengadakan kajian Islam di awal golden week, hari libur nasional yang hampir mencapai satu pekan awal Mei lalu.

Di lantai bawah gedung kegiatan milik pemerintah Jepang juga sedang berlangsung kelas anak. Tujuannya untuk mengisi kekosongan waktu saat menunggu orangtua mereka yang sedang belajar, sekaligus bersama-sama belajar Islam. Suatu kesempatan yang cukup langka di Jepang ini.

Ketika sedang asyik bermain sambil belajar, tiba-tiba, "Tante, Manusia itu kan hewan berakal," seru seorang anak SD di kelas yang sedang saya asuh.

"Tidak, nak, manusia dan hewan itu berbeda. Manusia itu lebih mulia dari binatang karena akalnya," ujar saya, berusaha menjelaskan.

Anak-anak yang terkumpul hari itu, adalah anak-anak kelas satu sampai kelas 5 SD Jepang. Beberapa bahkan anak campuran orangtua Indonesia Jepang. Kebanyakan mereka sulit mengungkapkan sesuatu dengan bahasa Indonesia. Kerja berat untuk saya dan beberapa teman yang sama-sama mengasuh kelas itu, dengan kemampuan bahasa Jepang yang terbatas.

Manusia adalah hewan yang berakal. Seringkali saya mendengar doktrin yang berinduk kepada teori biologi di Jepang ini. Teori ini bisa tertanam ke dalam pola pikir masyarakat Jepang tanpa ada pertentangan. Teori ini juga sudah menjadi hal yang umum bagi masyarakat Jepang dan pengaruhnya besar sekali terhadap kehidupan mereka. Norma-norma ketimuran yang semakin merosot kadarnya. Kebiasaan menjalani hidup tanpa rule yang jelas dalam hal makanan, ibadah, serta pergaulan bebas yang sudah semakin dianggap biasa. Kesalahan dan keburukan seseorang dianggap lumrah, karena mereka manusia yang merupakan hewan yang berakal. Asalkan tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar peraturan, silahkan melakukan apa saja. Begitu prinsip masyarakat Jepang sejauh pengamatan saya.

Ketika saya belajar di psikologi, saya memahami betapa pentingnya apa yang tertanam dalam pola pikir seseorang yang bisa mempengaruhi perilakunya. Apalagi ketika saya belajar tentang filsafat, yang teori-teorinya banyak tertanam, dipakai menjadi landasan suatu bangsa, bahkan menggerakkan revolusi dalam suatu bangsa. Karena itu, apa yang ditanam ke dalam pikiran anak-anak, pastilah hasilnya akan sesuai dengan bibit yang ditanam itu.

"Manusia itu adalah hewan yang berakal." Miris saya mendengar kata-kata itu dari anak asuh saya. Wajar memang, karena mereka sekolah di sekolah Jepang yang nota bene sekuler. Namun, tidak rela juga membiarkan mereka terdoktrin dengan teori itu. Perlu kerja lebih berat dan lebih serius untuk menyeimbangkan apa yang diajarkan di sekolah mereka dengan nilai-nilai yang indah, yang berada dalam Islam.

Problem terbesar yang akan menghadang langkah saya dan pengasuh lainnya adalah masalah bahasa. Dengan kemampuan bahasa yang sekedarnya, sulit untuk mentransfer nilai-nilai ini kepada anak-anak. Usulan kami kepada orangtua adalah, mengajarkan bahasa Indonesia secara aktif dalam komunikasi sehari-hari kepada anak. Membelikan dan membacakan buku-buku bahasa Indonesia kepada mereka, dan kalau perlu mengajarkan baca tulis, agar mereka mudah mengikuti pelajaran Islam. Ini pun kerja berat juga untuk para orangtua di sini.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

fadhil | Mahasiswa
2 kata untuk situs ini, LUAR BIASA!!! Berharap bisa terus memberi manfaat pada para pengunjungnya.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1101 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels