|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Rabu, 16 September 2009 pukul 15:20 WIB
Penulis : agus triningsih
Jadi ikhwan jangan punya fikiran sempit
Jadi ikhwan mikir kok berbelit-belit
Jadi ikhwan ayo dong buru-buru merit
Jadi ikhwan jangan hanya bisa berkelit
Begini akh, bukan ane ga’ mau nikah
Begini akh, penghasilan ane payah
Begini akh, beri dong ane jalur maisyah
Begini akh, ane akan buruan walimah
Kalau duit alasan, sampai kapan-kapan akan terasa sedikit
Kalau duit alasan, sampai kapan-kapan pasti terasa sedikit
Suatu sore menuju senja, di antara rintikan hujan, di antara hembusan angin yang begitu dingin, masih dengan ”kuda tua” kebanggaan, saya menyusuri jalan menuju rumah. Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat dengan bait-bait nasyid di atas. Sempurna! Saya bahkan sempurna mengingat setiap kata-katanya., lalu secara otomatis bait-bait tersebut terlantun ringan sepanjang perjalanan pulang.
Saya ingat sekali, ”nasyid humor” itu, terakhir saya dengar ketika masih semester 3, kurang lebih 4 tahun yang lalu. Waktu itu saya sengaja memutar kaset tersebut setiap hari selama sepekan. Maklum, kaset pinjaman dari seorang ’kakak’, jatah peminjaman hanya seminggu. Jadi, sudah pasti harus dimaksimalkan pemanfaatannya.
Sampai di rumah, saya masih mencari sebab, mengapa tiba-tiba Allah mengingatkan saya pada nasyid itu? Selusur punya selusur, akhirnya saya menemukan jawabnya. Lantaran siang harinya saya menemukan komentar pada salah satu tulisan yang saya posting-kan di blog saya. Tentang seorang laki-laki yang belum menikah di usianya yang ke-30. Beberapa waktu yang lalu, saudara saya yang juga laki-laki, menyatakan hambatannya untuk segera menikah di usianya yang tak muda lagi. Lalu saya juga teringat dengan salah satu bahasan di majalah ”UMMI” tahun lalu yang mengupas habis tentang laki-laki yang masih tetap nyaman dan aman atas dirinya yang belum juga menikah di usianya yang tak lagi muda. Rata-rata mereka mengungkapkan alasan status mereka dengan satu kalimat, ”Ikhtiar sih tetap, tapi belum dipertemukan jodohnya, mau gimana lagi?”
Ehm, iya sih jika sudah menggunakan alasan yang terakhir tadi, ”Belum dipertemukan jodohnya,” siapa pun akan memakluminya sebagai bukti ketundukan hati pada ketentuanNya. Tapi sejauh mana ikhtiar mereka menjemput jodoh, tentu akan menjadi pemicu cepat lambatnya pertemuan itu. Dan alangkah tidak bijaknya jika selalu menggunakan senjata ”belum dipertemukan olehNya” sebagai alasan belum menikah, padahal belum ada kesungguhan dan ikhtiar maksimal atas itu semua.
Pada saat ”Daurah Pranikah”, Ust. Cahyadi Takariawan menyatakan bahwa hanya ada 2 hal yang menjadi modal utama bagi para laki-laki/ikhwan sebelum menikah, yaitu materi dan keshalehan. Sisanya adalah keberanian untuk memilih dan membuat keputusan. Dan sudah kita fahami bersama bahwa laki-laki adalah pelaku aktif, tidak seperti wanita yang memang karena fitrahnya cenderung pasif, menunggu. Meski wanita juga harus berikhtiar.
Saya sangat kagum dan salut terhadap mereka yang berani menikah di usia muda meski dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya, tapi saya tak kalah menggagumi mereka yang rela menunda pernikahannya karena mengutamakan memuliakan ibu dan keluarganya terlebih dahulu. Ia rela mengorbankan usianya demi tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarganya. Bukankah sampai kapan pun seorang laki-laki adalah milik Ibunya?
Jum'at, 20 Februari 2009
Ketika malam sedang menuju peraduannya.
Di antara melodi Canon-Harpsong.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.