|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Rabu, 9 September 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : agus triningsih
Suatu sore, saya duduk di beranda masjid terbesar di Pontianak, menunggu seorang sahabat menyelesaikan shalat asharnya, menikmati sore dan mengamati hampir setiap orang yang berlalu lalang ke luar masuk masjid. Saya jarang singgah di masjid ini, terkecuali jika sedang ada kegiatan ataupun hanya jika telah masuk waktu shalat dan ketika sedang melintasinya. Karena lokasinya memang jauh dari tempat tinggal dan juga jauh dari kampus. Kemudian mata saya terpaku pada satu titik fokus.
Di hadapan saya ada seorang kakek yang sedang duduk bersandar pada dinding, tepat di salah satu sudut masjid itu, beliau sedang tertidur pulas. Ia tertidur menunduk tepat seperti bunga matahari kala sore menjelang matahari terbenam, sangat layu. Saya pastikan siapa pun yang tertidur dengan posisi seperti itu dalam tempo yang lebih dari 30 menit, pasti akan merasakan pegal-pegal di bagian lehernya. Ada tetes-tetes air yang mengikuti gaya gravitasi bumi, dan saya tahu sumbernya, tepat dari kedua bibir sang kakek. Aaaah... Seperti ia sedang kelelahan, entah apa aktifitas yang baru saja dilakukannya.
Sang kakek terlihat sudah sangat sepuh, mungkin usianya sekitar 75-80 tahun. Saat itu, ia mengenakan celana safari hitam yang telah usang dan maaf ”kumal”, bertali pinggang rapi, tali pinggang ”tempoe dulu” seperti bahan tali tas, tak berlubang, dan hanya ada sepetak besi yang tepat berada di ”atas pusat” ketika dikenakan oleh siapa pun, berkaos kaki hitam dengan warna yang hampir coklat karena ada jutaan bahkan mungkin milyaran partikel debu dan juga bakteri yang duduk manis di dalamnya, bertopi ”cat” hitam yang juga tak kalah kotornya dengan kaos kaki tadi, di tangan kirinya yang sudah sangat lemah melingkar sebuah arloji berantai keperakan. Tapi, sang kakek tak berbaju, sehingga seluruh kulit yang bukan aurat semakin jujur berkata bahwa sang kakek memang sudah sangat senja. Naik turun nafasnya yang sangat ringkih begitu nyata terdengar.
Sejenak kemudian hati ini berteriak tanpa suara, "Kakek sayang, bangun yuk! Sudah waktunya ashar,” Hati saya tetap dengan PDnya berteriak, meski saya tak tau pasti apa agama sang kakek. Dan tentu saja teriakan tanpa suara itu tak mampu membangunkannya. Kek, sungguh di hati ini ada cinta untukmu, tapi ujung jari ini tak sama sekali berani merengkuhmu, dan bibir ini tak sama sekali berani menyapamu.
Ini bukan kali pertama perjumpaan dengannya. Kira-kira 2 bulan yang lalu, suatu pagi di hari Ahad, saya mengantarkan beberapa ade-ade REMAS untuk mengikuti kegiatan outbond di masjid tersebut. Ahad itu adalah kali pertama saya melihat sang kakek, tepat di posisi yang sama di sudut teras masjid. Dan sang kakek sedang duduk tertidur dengan berbalutkan sarung yang melingkar dari pinggang hingga pergelangan lehernya. Pagi yang memang masih dingin, membuat tubuh sang kakek bergetar hebat, menggigil!
Dari penampilannya saat itu, saya yakin bahwa sang kakek telah ’tergelandang’ oleh kehidupan. Dan teras masjid menjadi peristirahatan paling aman dan nyaman baginya. Hanya di sebuah teras, karena dengan pakaiannya yang tak sama sekali bersih, sang kakek tak berani memasuki ruangan dalam masjid. Mungkin ia tak sama sekali memiliki keluarga atau pun kerabat dekat yang bersedia menerima kehadirannya di tengah-tengah mereka.
Saat itu, saya ingin segera membelikan satu kantong teh hangat dan satu mangkuk bubur, agar sang kakek tak lagi menggigil. Tapi saat itu saya hanya punya waktu 20 menit, sangat singkat, padahal kantin-kantin terdekat belum juga buka. Karena pagi itu juga saya harus ke luar kota untuk suatu keperluan yang sangat penting. Saya tidak boleh terlambat. Karena perjalanan akan memakan waktu 2 hingga 2,5 jam. Hanya dengan alasan tersebut, saya mengurungkan niat baik itu. Alhasil, di sepanjang jalan, bayangan sang kakek tetap muncul di benak saya. Sungguh, saya menyesal karena sesuatu yang telah saya urungkan. Lalu dari balik kaca helm, ada tetes bening yang jatuh sedemikian pelan.
Kali kedua saya menemuinya di masjid itu juga, kala dzuhur. Dengan kostum yang sama, tanpa baju. Sang kakek sedang duduk di selasar tempat wudhu wanita, seperti sedang keletihan juga. Nafasnya yang tersengal-sengal menimbulkan alunan nada tertentu. Dan saya tahu, pasti ini adalah salah satu pertanda bahwa sang kakek merupakan perokok hebat di masa mudanya, bahkan mungkin hingga beberapa tahun sebelumnya.
Saya fikir sang kakek hendak berwudhu juga, tapi ternyata hingga shalat usai dan saya beranjak meninggalkan masjid, ia masih tetap duduk termangu di tempat tadi. Dan saya masih belum berani menyapanya, entah mengapa, padahal biasanya saya paling senang untuk menyapa orang-orang yang baru saya temui. Dan saya tak bisa lama-lama di masjid itu, karena ada agenda presentasi ”produk pendidikan” di sebuah sekolah, dan harus ontime. Sementara waktu yang tersisa hanya cukup untuk perjalanan ke sekolah tersebut. Lagi, saya mengabaikan sang kakek tanpa ada kebaikan apa pun yang mampu saya lakukan.
Dan kali ketiga pertemuan saya dengannya belum juga ada rengkuhan untuknya, belum juga ada santunan penuh kasih terhadapnya, belum juga ada sapaan penuh kelembutan untuknya. Karena lagi-lagi masih dengan alasan yang sama, ashar kali itu saya dan sahabat saya sedang berburu waktu. Ada hak-hak saudara kami yang harus segera dipenuhi sore itu. Lalu kami meninggalkannya dalam pulas tidurnya. Hati ini bergumam lirih, ”Maaf, kek, hari ini aku masih menjadikanmu sebagai tontonan, moga esok aku masih bisa menemuimu, menyapa, bercerita penuh tawa dengan cemilan yang dapat kita nikmati bersama. Seperti yang selalu kulakukan bersama almarhum kakek dulu.”
Ya, ketika melihat sang kakek dan setiap melihat orang yang seusia dengannya, saya selalu terkenang dengan kakek saya yang meninggal sejak 4 tahun yang lalu, tepat jam 9 di hari raya Idul Adha. Ada jutaan kenangan yang telah kakek ukirkan untuk saya. Ada begitu banyak nasehat yang selalu terngiang dalam benak saya hingga kini.
Sore itu, saya berazzam di hati, "Beberapa waktu ke depan saya akan menemuimu, kek. Saya ingin mendengar ceritamu, keluh kesahmu, dan semua tentangmu. Saya akan membawa bungkusan makanan untuk mengganjal perutmu yang mungkin tak pernah bisa kenyang. Dan esok, jika saya menemui kakek yang lainnya, saya harus bisa meluangkan waktu untuknya meski hanya sekedar senyuman dan sapaan cinta dariku."
Sungguh, di luar sana ada puluhan, ratusan, bahkan mungkin jutaan kakek-kakek yang ”menggelandang”, sebatang kara tanpa ada sosok diri yang menemaninya. Mereka sendiri menapaki efek hidup di usianya yang semakin senja, dengan tubuh yang semakin ringkih. Mereka berusaha sendiri agar bisa bertahan di tengah belantara hidup yang konon bagi sebagian orang semakin sulit untuk dilewati. Mereka adalah orang-orang yang sering kita abaikan kehadirannya. Jika saja setiap orang boleh menentukan garis kehidupannya, tentu saja setiap kakek akan memilih menghabiskan masa tuanya di tengah-tengah keluarganya, di tengah canda tawa sang cucu, dan dalam rengkungan anak-anaknya yang senantiasa menjaganya dan merawatnya dengan penuh cinta, hingga sampai ia tutup usia.
Semoga tak ada lagi yang seperti saya, yang terlalu sering menyiakan kesempatan indah untuk berbagi dengan sang kakek. Mari kita sama-sama berusaha untuk dapat berbuat baik kepada kakek-kakek kita tanpa harus memandang garis nasab (keturunan) kita. Mari kita gaungkan dan patrikan dalam hati kita bahwa, ”KAKEKMU, KAKEKKU, KAKEK KITA.” Bahwa semua kakek adalah bagian terpenting dari hidup kita. Bahwa mereka layak untuk mendapatkan cinta dari siapa pun, dan juga meski kita bukan siapa-siapa baginya. Satu yang menjadi catatan kita bahwa kita pasti akan menjadi tua seperti mereka.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.