|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |



Sabtu, 8 Agustus 2009 pukul 15:30 WIB
Penulis : Nurfaridah
Malam itu, aku sulit sekali memejamkan mata, padahal jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Biasanya, bila bayiku sudah tertidur, maka aku pun segera merebahkan tubuhku. Mengingat aku adalah ibu dengan anak yang masih kecil, haruslah menyesuaikan waktu istirahat sesuai dengan jadwal si kecil. Jika tidak demikian, pastilah aku sendiri yang capai.
Kulirik lagi jam di HP, sudah jam 24. Lagi-lagi mata ini masih nakal, tidak mau diajak terpejam. Kucoba membetulkan posisi tidurku, balik kanan, balik kiri, tapi masih saja kantuk tak kunjung hadir. Akhirnya bosan juga mendekam di kamar dengan kodisi masih fit. Aku melangkah ke luar dan menghidupkan kembali komputerku, menjelajah dunia maya sejenak, kemudian kembali lagi ke kamar. Kurebahkan diri dan terus mencoba untuk mengundang kantuk. Lagi-lagi aku tidak bisa tidur. Aku ke luar lagi sekedar browsing dan main game.
"Masya Allah, dah jam 2!"
Mau tak mau, segera kumatikan PC-ku dan kembali ke kamar. Masih sulit mata ini terpejam. Akhirnya aku lelah sendiri dan terlelap.
Tidak beberapa lama, HP-ku berdering, dering khas yang memang aku set untuk nada dering dari ibuku yang jauh di sana.
Heran, pagi-pagi buta ibuku sudah menelepon, ada apa ya?
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Ndok masih tidur? Bangunlah, berwudhu, dan bacakan ayat Al-Qur'an untuk Lekmu! Lekmu sudah memenuhi janjinya. Sudah sampai batasnya."
Aku langsung terduduk tak percaya.
"Maksudnya sudah meninggal, mak? Inna lillahi..."
Sebelum aku bangkit untuk berwudhu, kukenang sejenak sosoknya. Aku berucap syukur dalam hati. Dengan do'a, aku begitu ikhlas dengan kepergiaannya.
Lekku adalah sosok orang yang keras terhadap pendirian dan tidak mudah menerima nasehat. Lekku memiliki masa lalu yang buruk dan telah dikuburnya dalam-dalam.
Allah telah memberikan percikan cahayaNya di hati Lekku saat usianya menjelang 40 tahun. Aku tidak tahu persis bagaimana kejadiannya. Yang pasti, saat warga desa sedang kesulitan mencari lahan untuk dijadikan masjid, Lekku tergugah mewakafkan tanah di depan rumahnya untuk dijadikan masjid. Sejak saat itulah, kehidupan Lekku berubah drastis. Beliau jadi rajin beribadah dan mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. Juga tak lagi kasar pada istrinya. Lekku juga yang ikut membantu biaya aku dalam menyelesaikan sekolah menengah.
Semoga beliau dapat menemui Rabb-nya dalam damai dengan pintu taubat yang telah ia raih, dan Allah menerima amal baiknya serta mengampuni dosa-dosanya serta memberinya kelapangan kubur.
"Sesunggguhnya amalan dan perbuatan baik yang akan menyusul seorang mu'min setelah dia meninggal dunia kelak ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak shaleh yang dia tinggalkan, mushaf Al-Qur'an yang dia wariskan, masjid yang dia bangun, rumah tempat singgah musafir yang dia bangun, sungai yang dia alirkan, dan shadaqah yang dia keluarkan ketika dia sehat dan masih hidup. Semua ini akan menyusul dirinya ketika dia meninggal dunia kelak." (HR. Ibn Majah dan Baihaqi).
Untuk bibikku dan adikku, semoga dapat sabar dan tabah.
Jadikan semua ini sebagai pelajaran hidup.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.