|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Jum'at, 7 Agustus 2009 pukul 15:45 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Belajar bahasa ternyata perlu diikuti dengan menyelami budaya setempat. Mungkin itulah yang melatarbelakangi disajikannya cerita-cerita keseharian orang Jepang dalam buku teks yang saya pakai. Dengan belajar budaya, saya jadi paham apa kata-kata penting bagi orang Jepang dan yang tidak penting. Kadang juga ada kata-kata yang membuat bingung, karena pola pikir yang jauh berbeda dengan orang Jepang. Bahkan kadang yang diartikan dalam kamus tidak sama dengan apa yang pahami oleh orang Jepang. Untungnya saya berlatar belakang ilmu sosial, yang memang disiapkan untuk memahami kondisi manusia yang unik, yang tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lain.
Pernah suatu saat, di buku membahas tentang Ikigai, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia kira-kira semangat hidup, atau tujuan hidup. Di teks tesebut digambarkan tentang orang Jepang yang tiba-tiba ditanya, "Yang membuat kamu semangat untuk hidup apa sih saat ini?" Orang Jepang ini yang larut dalam kesibukannya bekerja sampai tidak punya waktu untuk dirinya sendiri dan keluarga sampai merenung pas mendapat pertanyaan ini.
Waktu muda, orang ini mengira, musik adalah semangat hidupnya. Saat berpacaran dengan isterinya yang sekarang, calon isterinya itulah semangat hidupnya. Ketika anak pertama lahir, hanya sang anak yang kawai itulah semangat hidupnya. Karena sudah memiliki keluarga, maka bekerja keras adalah misi hidupnya. Sampai suatu saat, ketika larut dalam pekerjaannya, tiba-tiba orang ini merasa jenuh, dan tidak tahu lagi untuk apa ia hidup.
Mungkin inilah potret kehidupan masyarakat Jepang saat ini. Bukan cuma orang Jepang, tetapi juga kebanyakan orang yang ada di dunia ini, tidak memiliki alasan hidup yang kuat, yang membuat ia bisa tetap teguh dan bahagia dalam kondisi apa pun. Sumber kebahagiaan yang berhubungan erat dengan tujuan hidup ini tidak benar-benar dimiliki oleh kebanyakan orang. Ketika teman-teman sekelas ditanya tentang ikigai masing-masing pun kebanyakan menjawab, "pacar", " musik", kalau sensei "mengajarkan bahasa Jepang" sesuatu yang konkrit", dan memang menurut sang sensei HARUS KONKRIT, tidak boleh abstrak.
Sewaktu saya ditanya, apa sih ikigai kamu, semua teman-teman saya mengira, pasti anak-anak atau keluarga. Saya sendiri sambil bercanda menjawab, "belajar bahasa Jepang" sambil menimpali sensei yang ikigai-nya "mengajar bahasa Jepang".
Sulit untuk menerangkan kalau ikigai saya adalah bersumber dari Islam. Rasanya belum waktunya menjelaskan hal ini kepada teman-teman sekelas. Apalagi mungkin ini sangat abstrak untuk orang Jepang dan teman-teman yang lain. Dan khawatir juga dengan keterbatasan bahasa Jepang saya, bisa salah menerangkannya kepada sensei dan teman-teman.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.