Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Menikmati Perbedaan
8 Juli 2009 pukul 16:49 WIB
Duhai Bunda, Kasihilah Anakmu!
20 Juni 2009 pukul 17:39 WIB
Jodoh
5 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Ja'im (Jaga Imej)
30 Mei 2009 pukul 20:00 WIB
Kerja Kecil untuk Kerja Besar
15 Mei 2009 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 7 Agustus 2009 pukul 15:45 WIB

Ikigai (Semangat Hidup)

Penulis : Hifizah Nur

Belajar bahasa ternyata perlu diikuti dengan menyelami budaya setempat. Mungkin itulah yang melatarbelakangi disajikannya cerita-cerita keseharian orang Jepang dalam buku teks yang saya pakai. Dengan belajar budaya, saya jadi paham apa kata-kata penting bagi orang Jepang dan yang tidak penting. Kadang juga ada kata-kata yang membuat bingung, karena pola pikir yang jauh berbeda dengan orang Jepang. Bahkan kadang yang diartikan dalam kamus tidak sama dengan apa yang pahami oleh orang Jepang. Untungnya saya berlatar belakang ilmu sosial, yang memang disiapkan untuk memahami kondisi manusia yang unik, yang tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lain.

Pernah suatu saat, di buku membahas tentang Ikigai, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia kira-kira semangat hidup, atau tujuan hidup. Di teks tesebut digambarkan tentang orang Jepang yang tiba-tiba ditanya, "Yang membuat kamu semangat untuk hidup apa sih saat ini?" Orang Jepang ini yang larut dalam kesibukannya bekerja sampai tidak punya waktu untuk dirinya sendiri dan keluarga sampai merenung pas mendapat pertanyaan ini.

Waktu muda, orang ini mengira, musik adalah semangat hidupnya. Saat berpacaran dengan isterinya yang sekarang, calon isterinya itulah semangat hidupnya. Ketika anak pertama lahir, hanya sang anak yang kawai itulah semangat hidupnya. Karena sudah memiliki keluarga, maka bekerja keras adalah misi hidupnya. Sampai suatu saat, ketika larut dalam pekerjaannya, tiba-tiba orang ini merasa jenuh, dan tidak tahu lagi untuk apa ia hidup.

Mungkin inilah potret kehidupan masyarakat Jepang saat ini. Bukan cuma orang Jepang, tetapi juga kebanyakan orang yang ada di dunia ini, tidak memiliki alasan hidup yang kuat, yang membuat ia bisa tetap teguh dan bahagia dalam kondisi apa pun. Sumber kebahagiaan yang berhubungan erat dengan tujuan hidup ini tidak benar-benar dimiliki oleh kebanyakan orang. Ketika teman-teman sekelas ditanya tentang ikigai masing-masing pun kebanyakan menjawab, "pacar", " musik", kalau sensei "mengajarkan bahasa Jepang" sesuatu yang konkrit", dan memang menurut sang sensei HARUS KONKRIT, tidak boleh abstrak.

Sewaktu saya ditanya, apa sih ikigai kamu, semua teman-teman saya mengira, pasti anak-anak atau keluarga. Saya sendiri sambil bercanda menjawab, "belajar bahasa Jepang" sambil menimpali sensei yang ikigai-nya "mengajar bahasa Jepang".

Sulit untuk menerangkan kalau ikigai saya adalah bersumber dari Islam. Rasanya belum waktunya menjelaskan hal ini kepada teman-teman sekelas. Apalagi mungkin ini sangat abstrak untuk orang Jepang dan teman-teman yang lain. Dan khawatir juga dengan keterbatasan bahasa Jepang saya, bisa salah menerangkannya kepada sensei dan teman-teman.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eka | Karyawan
Salam kenal untuk semua yang ada di KotaSantri.com. Saya baru ikut program ini, tempat ini memang tempat yang paling tepat untuk membekali pengetahuan dengan agama. Pokoknya okelah, tempat mengisi kekosongan disaat kesepian.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1132 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels