|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |


Sabtu, 25 Juli 2009 pukul 16:08 WIB
Penulis : Nurfaridah
Suatu kali, saat saya sedang chatting dengan teman, tidak sekedar omong-omong kosong saja, saya senantiasa meminta nasehatnya perihal kehamilan. Saya akui, dia adalah dokter kedua dalam kehamilan saya yang pertama ini. Saya percayakan hal yang belum tahu untuk bertanya kepadanya, karena ia telah berpengalaman (maksudnya, ia telah memiliki anak yang baru berusia empat bulanan).
Saat saya mengutarakan keluhan-keluhan dua bulan menjelang kelahiran si malaikat kecil ini, dia menghibur saya dan mengatakan bahwa saya harus bersyukur serta bersabar sembari menikmati keadaan, beginilah sulit dan menderitanya calon ibu.
Memang benar. Sungguh saya rasakan, bahwa kebahagiaan itu tak pernah terbeli oleh apa pun. Kebahagiaan itu telah menghapus semua derita badan ini. Sebagaimana ketika saya hamil muda, dengan keadaan badan yang lemah, tidak sanggup mencium aroma masakan (jangankan yang dekat, yang jauh saja ketahuan alias tercium oleh saya), muntah-muntah, dan berbagai macam kondisi yang sangat tidak nyaman.
Meskipun saat itu dalam keadaan yang tidak nyaman pada triwulan pertama kehamilan saya, namun saat kami (saya dan suami) pergi ke USG untuk melihat/mengintip sang janin, seketika itulah saya merasakan kebahagiaan yang sangat, dan saya rasakan penderitaan saya selama ini menguap satu demi satu.
Kemudian saat dia (sang janin) mulai memasuki trimester ketiga, adalah sebuah keadaan yang sangat memerlukan kesabaran, karena pada saat-saat seperti ini saya harus menggendongnya dalam suasana bagaimana pun. Saat-saat ia menendang, kadangkala membuat saya harus meringis kesakitan. Saat-saat ia naik hingga ke tulang rusuk, membuat saya jadi susah bernafas.
Tapi, semua penderitaan itu hilang jika saya melihat bentuknya yang mungil dalam foto hasil USG. Semua penderitaan itu hilang jika saya mengingat bahwa; dialah anugrah, dialah cinta, dialah yang akan menjadi malaikat kecilku, dialah yang akan menjadi bos baru dalam rumahku yang sepi, dialah yang akan menjadi pelipur lara, dan dia juga yang akan sanggup menghilangkan beban kecapaian sang ayah sepulang kerja walau hanya dengan suara tangisannya.
Oh, sungguh, saya sangat bahagia. Dan sekali lagi, bahagia ini takkan pernah terbeli oleh apa pun. Menjadi ibu adalah hal yang menyenangkan, tapi saya sadar, titipan Allah yang satu ini haruslah kami bimbing dengan sebaik-baiknya, agar kelak dapat menjadi manusia yang bertaqwa dan pembebas durjana, sebagaimana yang telah dipesankan oleh nabi, bahwasannya bayi yang lahir itu bagaikan kertas putih yang bersih, dan kedua orangtuanyalah yang akan membuatnya penuh coretan yang indah atau bahkan dipenuhi coretan yang buram dan menyakitkan mata.
Semoga kita semua senantiasa mendapatkan petunjukNya. Aamiin.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.